Beranda blog Halaman 282

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 113

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 113 berbicara mengenai contoh kufur nikmat yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Salah satunya adalah mendustakan dan memusuhi Rasulullah SAW. Hal tersebut yang membuat mereka mendapat azab dari Allah SWT.


Baca juga: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


Ayat 113

Di antara perbuatan mereka yang menunjukkan kufur nikmat ialah mendustakan dan memusuhi Rasul seperti diterangkan Allah dalam ayat ini. Pada waktu Rasul datang kepada mereka memberikan pengajaran dan bimbingan, mereka mendustakan dan memusuhinya, padahal mereka itu mengetahui asal-usul Rasul serta akhlak dan pergaulannya.

Mereka memahami pula bahwa ajaran yang diajarkan oleh Rasul itu benar, tetapi karena didorong oleh kepentingan dan kebencian tanpa alasan, mereka menolak dan menentangnya. Menurut sunnah Allah, setiap umat yang telah kedatangan Rasul, tetapi mereka mendustakan dan memusuhinya, akan ditimpa azab.

Firman Allah swt:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

…Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15)

Kaum musyrikin Mekah tidak pula terhindar dari siksa Allah akibat perbuatan mereka memusuhi Nabi Muhammad saw sebagaimana umat-umat dahulu. Mereka mengalami penderitaan dan kesengsaraan akibat kelaparan bertahun-tahun lamanya. Allah menurunkan hukuman kepada mereka karena permohonan Nabi Muhammad saw setelah beliau banyak menderita kesusahan. Doa Nabi saw:

اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ

(رواه البخاري عن ابن مسعود)

Ya Allah turunkanlah dengan keras hukuman-Mu kepada kaum Mudhar, (musyrikin Quraisy) dan jadikanlah hukuman atas mereka itu bertahun-tahun seperti tahun kelaparan pada zaman Nabi Yusuf as. (Riwayat al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud)

Setahun lamanya kaum musyrikin Mekah menderita kelaparan yang menghabiskan kekayaan mereka, sehingga mereka terpaksa makan kulit unta, anjing, bangkai, dan tulang yang dibakar.


Baca juga: Makna Tersirat dari Pelanggaran Nabi Adam dan Hawa Makan Buah Khuldi di Surga


Sebelumnya, mereka selalu memperoleh rezeki dan makanan melimpah ruah yang datang dari segala penjuru. Akan tetapi, semuanya telah berubah sehingga mereka harus hidup dalam kekurangan. Demikian pula kehidupan mereka yang semula aman dan tenteram berubah menjadi permusuhan dan ketakutan pada Rasul saw dan sahabat-sahabatnya.

Ketakutan ini timbul sesudah Rasul dan sahabat hijrah ke Medinah. Mereka merasa cemas akan kekuatan pasukan Islam, yang pada suatu waktu dapat menyergap kabilah-kabilah dagang atau hewan ternak mereka. Begitulah azab Allah yang diturunkan kepada mereka, yaitu kelaparan dan ketakutan yang meliputi kehidupan mereka disebabkan kekufuran kepada nikmat Allah.

Mereka adalah orang-orang zalim, berbuat aniaya, dan tidak mau mensyukuri nikmat Allah. Muhammad saw beserta sahabat-sahabat dan pengikutnya mengalami perubahan kehidupan. Mereka dulunya dalam ketakutan berubah menjadi tenteram dan damai, dan dari kesusahan berubah menjadi makmur dan bahagia. Mereka pada akhirnya menjadi pemimpin umat manusia dan penguasa di dunia.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 114


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Ahkam: Hukum Membasuh Bagian Dalam Mata Saat Wudhu

0
hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu
hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu

Mata merupakan salah satu bagian wajah yang telah disepakati ulama’ wajib dibasuh tatkala berwudhu. Namun mungkin jarang ada yang mencari tahu, manakah bagian mata yang sebenarnya wajib di basuh? Apakah posisi saat mata terpejam dalam artian bagian luar kelopak mata, atau saat terbuka dalam artian bola mata, atau kedua-duanya wajib dibasuh? Berikut penjelasan ulama’ pakar tafsir dan pakar hukum fikih.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Hukum Berkumur dan Menyedot Air Ke Hidung dalam Wudhu

Membasuh mata sebagai bagian dari wajah

Menjawab pertanyaan apakah mata wajib dibasuh bersamaan dengan wajah saat berwudhu, perlulah diperjelas lagi mengenai yang dimaksud mata dalam pertanyaan tersebut. Bila yang dimaksud adalah kelopak mata, Imam A-Nawawi dalam Al-Majmu’ menyatakan ulama’ telah sepakat bahwa tempat keluarnya air mata wajib di basuh bersamaan dengan wajah pada saat wudhu. Namun bila yang dimaksud dengan mata adalah bagian mata yang terbuka saat melihat atau bola mata, maka para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini. Dan inilah yang menjadi salah satu kajian dari para ahli tafsir (Al-Majmu’/1/370).

Para ulama’ ahli tafsir mengulas hukum membasuh bagian dalam mata saat wudhu tatkala menjelaskan tafsir firman Allah yang berbuyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Imam Al-Qurthubi tatkala mengulas bagian-bagian wajah yang diperselisihkan ulama mengenai kewajiban membasuhnya menyatakan, mengenai persoalan dua mata, ulama’ telah sepakat bahwa bagian dalam mata tidak wajib dibasuh. Alasannya adalah menghindari kesulitan sebab air yang nantinya mengenai mata dapat menyakiti mata.

Hanya saja, Imam Al-Qurthubi menyatakan ada riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa ia memercikkan air ke kedua matanya. Namun berdasarkan keterangan Ibn ‘Arabi, Abdullah melakukannya tatkala kedua mata beliau sudah buta, sehingga memercikkan air ke mata tidaklah menyakiti mata beliau (Tafsir Al-Jami’ Liahkamil Qur’an/6/84).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Beda Pendapat Tentang Batas Mengusap Kepala Saat Wudhu

Imam Ar-Razi memberikan keterangan sedikit berbeda, yang berpendapat bahwa bagian dalam mata wajib dibasuh adalah Ibn ‘Abbas. Ibn ‘Abbar beralasan dengan menggunakan ayat di atas bahwa dalam wudhu wajib membasuh keseluruhan wajah, dan mata adalah bagian dari wajah. Sedang ulama’ yang tidak mewajibkan, beralasan bahwa membasuh bagian dalam mata dapat menyakiti mata. Padahal di akhir ayat di atas Allah berfirman (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/484):

مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Meski ada beberapa ulama’ yang disinyalir meyakini bahwa membasuh bagian dalam mata hukumnya wajib, tapi tampaknya pendapat tersebut menurut kalangan ahli fikih tidak dapat diikuti. Hal ini dibuktikan banyaknya ulama’ yang menyatakan bahwa ada ijma’ atau kesepakatan antar ulama’, bahwa bagian dalam mata tidak wajib dibasuh. Diantara ulama’ yang menyatakannya adalah Imam Asy-Syafi’i, Ibn Jarir dan Imam An-Nawawi (Mausu’atul Ijma’ fi Fiqhil Al-Islami/1/249).

Sebagai penutup, Imam Al-Umrani menjelaskan, membasuh bagian dalam mata tidak diwajibkan sebab tidak ada keterangan dari Nabi Muhammad saw, baik itu berupa ucapan maupun tindakan, yang menyatakan perlunya membasuh bagian dalam mata. Berbeda dengan berkumur atau menghirup air ke hidung yang memang ada keterangan dari Nabi Muhammad tentang keduanya.

Hanya saja, menurut Al-Umrani ada sebagian pengikut mazhab Syafi’i yang menghukumi Sunnah membasuh bagian dalam mata. Selain itu, ada pula yang menyatakan Sunnah mengusap bagian tempat keluarnya air mata, untuk berjaga-jaga ada kotoran mata yang menutupi kulit di bagian tersebut (Al-bayan/1/118). Wallahu a’lam bish showab.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112 berbica mengenai nikmat yang banyak diingkari oleh manusia, khsususnya oleh masyarakat Arab pada waktu itu. mereka terlena oleh kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah sehingga lupa untuk bersyukur.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111


Ayat 112

Dalam sejarah umat masa lampau, banyak contoh-contoh yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat manusia sesudahnya. Satu kaum yang tinggal pada suatu negeri, semula hidup bahagia lahir dan batin, aman, dan tenteram. Mereka terpelihara dari ancaman musuh dan jauh dari bencana kelaparan dan kesengsaraan. Allah melimpahkan rezeki kepada mereka, baik rezeki yang terdapat di negeri mereka sendiri, maupun rezeki yang datang dari luar.

Semuanya itu membuat mereka hidup makmur dan damai. Namun demikian, segala nikmat Allah yang melimpah itu tidak mereka syukuri bahkan mereka menjadi kafir dan ingkar kepada-Nya. Hidup mereka tidak lagi terikat dengan norma susila dan keagamaan.

Mereka mabuk dengan kekayaan dan kemewahan sehingga lupa tanggung jawab mereka terhadap bangsa dan negara. Oleh karena itu, Allah menurunkan hukuman berupa bencana kelaparan dan kecemasan yang meliputi kehidupan mereka. itulah balasan bagi mereka.

Firman Allah swt:

۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ    ٢٨  جَهَنَّمَ ۚيَصْلَوْنَهَاۗ وَبِئْسَ الْقَرَارُ   ٢٩

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (Ibrahim/14: 28-29);

Seharusnya mereka bersyukur atas segala nikmat yang besar itu, dan tidak berbuat sebaliknya. Karena kekafiran, Allah menukar suasana aman dan tenteram lagi penuh kemakmuran, menjadi suasana kelaparan dan ketakutan. Demikian juga keadaan kota Mekah dan penduduknya.

Kota Mekah karena letaknya yang strategis, di tengah-tengah Jazirah Arab, telah menjadi kota lintas perdagangan antara bagian utara dan selatan. Tiga pasar yang termasyhur terdapat di sekitarnya, yaitu: Pasar Ukaz dekat Pasar Taif, Majannah dekat Mekah, dan ªulmajaz dekat Arafah.

Pasar-pasar itu ramai dikunjungi pada bulan Zulkaidah dan Zulhijah oleh bangsa Arab dari segala kabilah. Di samping bulan-bulan itu untuk melakukan ibadah haji di Ka’bah, mereka mengadakan pula bermacam-macam kegiatan, seperti berdagang dan membaca syair-syair yang indah.


Baca juga: Mengenal Istilah Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashil


Kota Mekah sejak sebelum Islam sudah merupakan kota yang ramai. Banyak orang yang berkunjung ke kota Mekah itu membawa rezeki dan kemakmuran. Al-Qur’an menceritakan letak kota Mekah yang berada di antara dua negeri yang besar yaitu Syam dan Yaman.

Firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ  ١٥  فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ   ١٦

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi  (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. (Saba’/34: 15-16)

Bahwa kota Mekah itu negeri yang aman dan damai, dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya:

وَقَالُوْٓا اِنْ نَّتَّبِعِ الْهُدٰى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ اَرْضِنَاۗ اَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَّهُمْ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجْبٰٓى اِلَيْهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّنْ لَّدُنَّا وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka berkata, ”Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-Qasas/28: 57)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 110-111 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tekanan yang dialami oleh umat Islam. Kedua berbicara mengenai amal perbuatan di dunia yang kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 101-104


Ayat 110

Allah menerangkan keadaan kaum Muslimin di Mekah yang sangat tertekan, sehingga tidak berani memperlihatkan keislaman mereka. Bilamana kelihatan melakukan ibadah, mereka dipaksa dan disiksa agar kembali kepada agama nenek moyang mereka yaitu agama syirik seperti apa yang dialami ‘Ammar bin Yasir, Khabbab, dan lain-lain. Karena penghinaan dan ancaman penganiayaan itu, mereka lalu berpura-pura kembali kepada agama syirik.

Mereka mengikuti kemauan kaum Quraisy di bawah ancaman siksa. Ketika mendapatkan kesempatan hijrah meninggalkan kota Mekah, mereka pun pergi untuk hijrah. Dengan ikhlas mereka berpisah dengan sanak keluarga, harta benda, dan kampung halaman hanya karena mengharapkan rida Allah.

Bermacam-macam penderitaan dan kesulitan yang mereka hadapi dalam hijrah itu, baik dalam perjalanan maupun begitu tiba di tempat yang dituju. Semua penderitaan dan kesulitan itu mereka hadapi dengan penuh kesabaran serta tawakal kepada Allah.

Tempat yang menjadi tujuan mereka adalah negeri Habasyah (Ethiopia) yang jaraknya sangat jauh dari Mekah. Jarak yang jauh itu mereka tempuh dengan jalan kaki. Ketika sampai di tempat tujuan, mereka harus berjuang lagi mempertahankan keimanan sambil berdakwah.

Sesudah mereka mengalami cobaan dan penderitaan itu, Allah mengampuni kesalahan yang mereka lakukan di bawah ancaman siksaan seperti mengucapkan kata-kata kufur kembali. Allah swt memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya dengan memberikan pahala yang besar bagi mereka pada hari akhirat kelak.


Baca juga: Tafsir Iqra’: Perintah Al-Quran untuk Tanggap Literasi


Ayat 110

Pada hari perhitungan, setiap orang akan diminta pertanggung-jawabannya atas setiap perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia, baik berupa kebajikan maupun kejahatan. Firman Allah swt:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. (Ali ’Imran/3: 30)

Tidak seorang pun pada hari itu yang dapat membela orang lain. Masing-masing memikul bebannya sendiri dan tidak akan memikul dosa orang lain. Firman Allah swt:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Fatir/35: 18)

Semua perbuatan yang bersifat kebajikan ataupun kejahatan pada hari itu akan mendapat balasan dan tidak ada seorang pun yang dirugikan. Setiap orang sepenuhnya akan memperoleh balasan dari setiap perbuatannya. Yang berbuat kebajikan diberi pahala dengan sempurna atas amal kebajikannya, dan yang berbuat maksiat diberi hukuman dengan sempurna atas perbuatan maksiatnya. Firman Allah swt:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ

Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 281)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 112


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Iqra’: Perintah Al-Quran untuk Tanggap Literasi

0
iqra': perintah tanggap literasi
iqra': perintah tanggap literasi

Pada pembukaan pidato-pidato, tepatnya ketika mengenang jasa Nabi Muhammad, sering sekali kita mendengar kalimat ‘Nabi Muhammad adalah orang yang mengantarkan umat manusia dari zaman kegelapan menuju terang benderang’. Biasanya, ungkapan tersebut hanya dikonotasikan ke aspek-aspek spiritual semata, seperti ibadah, perintah dan larangan Allah, dosa dan pahala, dan semacamnya. Tidak banyak yang mengatakan bahwa proses menuju pada kehidupan yang terang benderang itu dengan bekal literasi, sebagaimana perintah ayat iqra’, yakni tanggap literasi.

Hal demikian seolah-olah menyatakan bahwa Islam hanya tentang ibadah, dosa dan pahala, surga-neraka, sehingga menjauhkan manusia dari hal lainnya, seperti ilmu pengetahuan. Termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu adanya budaya membaca, menulis dan kegiatan literasi lainnya. Padahal, kalau kita mencoba mengingat sejarah peradaban Islam, salah satu aktifitas literasi (membaca, menulis, dan lainnya) inilah yang justru pernah mengantarkan Islam pada masa kejayaannya berabad-abad silam.

Dalam konteks Indonesia, sangat amat disayangkan, sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia saat ini, masih memiliki indeks literasi yang rendah. Indonesia menepati urutan ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi rendah.

Ini harus menjadi perhatian bagi kita semua bahwa tanggap literasi amatlah penting dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dalam membangun peradaban yang maju, seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw melalui Al-Quran. Lantas bagaimana kita menjelaskan bahwa Islam sangat peduli terhadap literasi? Serta bagaimana peran kita dalam meningkatkan kualitas literasi umat Islam khususnya?

Baca Juga: Tafsir QS. al-‘Alaq: Membangun Peradaban dengan Iqra dan Qalam

Al-Quran sebagai sumber literasi

Wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad adalah Q.S. Al-‘alaq [96]:1-5 memerintahkan manusia untuk tanggap literasi. Berikut bunyinya,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam.

Menurut Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, قرأ (qa-ra-a) yang menjadi akar kata اقرأ  (iqra’) berarti menghimpun atau mengumpulkan. Zainudin ar-Razi dalam Mukhtar ash-Shihah mengatakan قرأ (qa-ra-a) bermakna mengumpulkan dan menghimpun dan kenapa dinamakan al-Qur’an, karena al-Qur’an mengumpulkan dan menghimpun surah-surahnya. Dengan demikian al-Qur’an menghimpun banyak informasi yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk literasi manusia.

Al-Quran sebagai kitab yang mengajarkan segala hal bagi yang ingin mempelajarinya, dijelaskan oleh Ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghaib ketika menafsiri ayat diatas dengan ayat lain di surah An-Nisa’[4]: 113, bahwa ‘Allah akan mengajari engkau (Muhammad) apapun yang belum kamu ketahui’. Pada ayat ini disampaikan bahwa Al-Quran dijadikan sebagai sumber literasi bagi Nabi Muhammad saw. sekaligus perintah untuk tanggap literasi. Untuk hari ini, Al-Quran banyak menginspirasi  munculnya banyak ragam ilmu, baik ilmu yang identik dengan urusan ibadah atau lainnya.

Di kesempatan lain, Ar-Razi menegaskan bahwa wahyu pertama di atas menunjukkan bentuk pemuliaan Allah dalam hal mendidik manusia, sembari mensifati Allah Yang Maha Mulia untuk memuliakan manusia melalui kitab pendidikan dan sumber literasi, yaitu Al-Quran.

Baca Juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

Literasi dan peningkatan kualitas hidup manusia

Pendapat-pendapat para ahli tafsir di atas yang berkaitan tentang pentingnya literasi bagi umat Islam benar-benar diejawantahkan oleh para cendekiawan muslim berabad-abad lalu dengan lahirnya berbagai ilmu pengetahuan. Mereka menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Mereka kemudian merealisasikannya dengan menggiatkan literasi dengan cara penelitian, penerjemahan, dan penulisan karya.

Hal yang menjadi autokritik bagi kita adalah seringkali kita melihat kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan di masa lalu sebagai sesuatu yang kita bangga-banggakan semata tanpa kita teladani, hingga akhirnya umat Islam sekarang banyak mengalami ketertinggalan. Padahal dalam Al-Qur’an, jelas dikatakan bahwa kata لِيَتتَفَقَّهوْا   (potongan ayat 122 surah at-Taubah) berarti ‘supaya mereka terus memperdalam (pengetahuan)’ yang berarti pendalaman pengetahuan baik agama maupun lainnya bersifat berkelanjutan tanpa henti.

Imam At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan mengatakan bahwa لِيَتتَفَقَّهوْا  artinya mendengarkan apa yang terjadi di sekitar manusia, alias memperhatikan perkembangan-perkembangan yang terjadi di masyarakat. Ini menjadi penting karena ketika pengetahuan hanya ada dalam pikiran, maka dia tidak bisa menjadi solusi bagi kehidupan.  Oleh karena itu, pengetahuan tersebut perlu disampaikan, terlebih lagi dipraktikkan dalam dunia nyata, bisa dengan menulis atau yang lainnya.

Berdasar cara pandang di atas, kita bisa mengatakan bahwa Islam sangat memerhatikan soal kualitas intelektual manusia dengan literasi dan mengujinya dengan memerhatikan kenyataan yang ada. Hal ini dilakukan agar ilmu pengetahuan bukan hanya sesuatu yang bersifat teori belaka dan jauh dari kenyataan masyarakat. Salah satu contoh yaitu ilmu fikih, sebuah displin ilmu yang berbasis pada banyak referensi dan selalu memperhatikan kondisi dan situasi masyarakat.

Sekali lagi, bagaimana kita memandang literasi itulah yang menentukan bagaimana ilmu pengetahuan diperlakukan dan diimplementasikan sebagai rahmat Allah bagi semesta alam. Maka sejatinya, literasi tidak melulu soal ilmu pengetahuan yang dibaca dan didiskusikan di ruang-ruang sempit dan terbatas pada retorika. Literasi bagi umat Islam adalah sebuah solusi yang dekat dengan kehidupan manusia. Wallahu a’lam

Tafsir Surah Fathir Ayat 6-8

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 6-8 menernagkan bahwa musuh yang nyata bagi manusia adalah setan. Maka, janganlah mengikuti rayuan setan, sebab ia mengajak manusia untuk berbuat dosa yang justru mendatangkan azab. Orang ingkar adalah contohnya, mereka terbujuk tipu daya setan, mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan kelak mereka akan mendapatkan azab. Sementara, mereka yang kokoh imannya,beramal saleh, akan mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Swt, serta ganjaran yang besar.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 3-5


Ayat 6

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa setan itu adalah musuh abadi bagi manusia yang selalu membuat keraguan, membisikkan yang jahat dengan daya tariknya yang memesona, supaya manusia menuruti dan mengerjakannya. Firman Allah:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَكَانُوْا مُسْتَبْصِرِيْنَ ۙ

Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.  (al-‘Ankabut/29: 38)

Oleh karena itu, hendaklah manusia menganggap dan menjadikan setan itu musuhnya yang sangat berbahaya, yang tidak perlu dilayani dan diikuti sama sekali, sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (al-An’am/6: 142)

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa maksud dan tujuan setan men-dorong manusia berbuat yang bertentangan dengan perintah Allah adalah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Firman Allah:

اَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطٰنُ يَدْعُوْهُمْ اِلٰى عَذَابِ السَّعِيْرِ

Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (neraka)? (Luqman/31: 21)


Baca Juga : Membayar Utang Adalah Tanda Bagi Keimanan Seseorang


Ayat 7

Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-Nya akan mendapat azab yang keras dan pedih di dalam neraka. Azab itu sebagai balasan atas keingkaran mereka pada bujukan setan, lalu mengikuti langkah-langkahnya.

Adapun orang-orang yang membenarkan perintah-perintah yang dibawa oleh rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah, pahala mereka dilipatgandakan dan telah disiapkan surga sebagai balasan atas iman yang mantap di dalam hati mereka dan amal saleh yang ikhlas karena Allah semata. Firman Allah:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (al-Baqarah/2: 25)

Ayat 8

Pada ayat ini, Allah menerangkan perbedaan besar antara dua golongan disebut pada ayat sebelumnya. Orang-orang yang teperdaya dan dapat ditipu oleh setan, sehingga pekerjaan mereka yang buruk dianggapnya baik, tentunya tidak sama dengan orang-orang yang tidak dapat ditipu oleh setan. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا ۗ  ١٠٣  اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا   ١٠٤

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahf/18: 103-104)

Tersesat atau mendapat petunjuk ada di tangan Allah. Dia menyesatkan atau memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, berdasarkan keadaan hamba yang bersangkutan. Orang-orang yang ditetapkan tersesat, dia selalu mengerjakan perbuatan buruk dan keji. Sebaliknya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, selalu mengerjakan amalan yang baik.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad dilarang Allah untuk sedih dan cemas menghadapi kaumnya yang belum mau beriman dan menerima ajakannya, sehingga tidak membinasakan dirinya. Hal semacam ini diterangkan juga di ayat yang lain, firman Allah:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an). (al-Kahf/18: 6)

Ayat ini ditutup dengan penegasan Allah bahwa Ia Mengetahui apa yang mereka perbuat, termasuk perbuatan buruk dan keji yang akan dibalas-Nya dengan balasan yang setimpal.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 9-11


Tafsir Surah Fathir Ayat 3-5

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Melanjutlan tafsir sebelumnya, Tafsir Surah Fathir Ayat 3-5 berbicara bahwa selain tawakkal, manusia hendaklah melazimkan sifat rendah diri dihadapan Allah, sebagai bentuk pengakuan seorang hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Janganlah, seperti orang kafir, sudahlah ingkar, mereka juga senang menghina Nabi. Maka, melalui tafsir ini, Allah menghibur Nabi atas sikap kaumnya. Dan kelak, Allah pasti menepati janji-Nya perihal hari kebangkitan dan pembalasan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 1-2


Ayat 3

Pada ayat ini, Allah menganjurkan supaya manusia memberikan perhatian secara khusus atas nikmat yang telah diberikan kepadanya dan menjaganya agar tidak lenyap dan menghilang.

Untuk kepentingan ini, manusia selalu harus merendahkan diri mengakui bahwa semua nikmat itu dari Allah sebagai anugerah kepadanya, yang wajib disyukuri dengan melakukan ibadah kepada-Nya tidak kepada lain-Nya, taat kepada segala perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Satu-satunya cara untuk memelihara dan menjaga kelestarian nikmat yang ada pada seseorang ialah mensyukuri nikmat itu. Dengan demikian, Allah akan selalu menambahnya. Sebaliknya, kalau nikmat itu tidak disyukuri, maka Allah akan menimpakan azab yang keras, sebagaimana firman-Nya:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrahim/14: 7)

Allah satu-satunya pemberi rezeki yang hakiki, baik yang turun dari langit berupa hujan dan sebagainya, maupun yang tumbuh dari bumi berupa keperluan hidup seperti beras, air, pakaian, dan sebagainya.

Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kalau manusia mau mengerti dan menyadari semuanya itu, tentunya dia tidak akan berpaling daripada-Nya, tetapi dia akan tetap mengesakan-Nya, menyembah hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain-Nya.


Baca Juga : Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Cara Menghilangkan Sikap Insecure


Ayat 4

Pada ayat ini, Allah menghibur Nabi Muhammad bahwa kalau kaumnya mendustakannya terus-menerus atas kebenaran yang disampaikannya sesudah ia mengemukakan alasan-alasan dan tamsil (ibarat) kepada mereka, maka hendaklah ia bersabar sebagaimana halnya rasul-rasul sebelumnya yang selalu disakiti oleh kaumnya, sampai tiba saatnya ia mendapat kemenangan sesuai dengan ketentuan Allah yang telah dijanjikan-Nya.

Hendaklah ia mengembalikan segala urusan kepada Allah. Dia akan memberi balasan atas kesabarannya dan imbalan siksa kepada kaumnya yang selalu mendustakan-Nya.

Ayat 5

Pada ayat ini, Allah menerangkan kebenaran janji-Nya, yaitu terjadinya hari Kebangkitan dan hari Pembalasan. Apabila seseorang taat kepada perintah-Nya akan diberi pahala, dan orang yang mendurhakai-Nya akan disiksa. Janji Allah pada waktunya akan menjadi kenyataan. Dia itu tidak akan pernah menyalahi janji-Nya, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. (Ali ‘Imran/3: 9)

Oleh karena itu, tidaklah pada tempatnya bila seseorang teperdaya dengan kehidupan dunia yang mewah, sehingga ia “lupa daratan”, bahkan melupakan Tuhan. Semua waktunya dipergunakan untuk menumpuk harta tanpa mengingat Allah sedikit pun. Hal demikian itu dilarang oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. (al-Munafiqun/63: 9)

Begitu pula janganlah seseorang dapat tertipu dan teperdaya dengan bujukan dan godaan setan, dengan mudah menuruti bisikan dan ajakannya karena setan tidak hanya mengajak kepada hal-hal yang keji dan mungkar, tetapi kadangkala ia menyuruh orang untuk berbuat baik dengan tujuan ria. Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan munkar. (an-Nur/24: 21)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 6-8


Tafsir Surah Fathir Ayat 1-2

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Surah Fathir adalah surah Makkiyah yang terdiri dari 45 ayat, nama lain dari surah ini yaitu surah al-Mala’ikah. Adapun Tafsir Surah Fathir Ayat 1-2 diawali keterangan bahwa pujian dan syukur hendaklah ditujukan kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk makhluk-makhluk yang tinggal di dua tempat tersebut.

Maka, rahmat Allah menyelimuti siapapun, tidak ada yang bisa mengatur rahmat-Nya. Hak mutlak Allah-lah yang menentukan apakah rahmat tersebut diturunkan atau di tahan, begitupun sebaliknya terhadap bencana. Sebab Dialah Sang Maha Penguasa, maka tugas kita adalah beribadah kepada-Nya, dan bertawakkal atas apa yang ia timpakan kepada kita, jika itu Rahmat, syukurilah. Jika itu ternyata bencana, maka sabarlah. Apapun bentuknya, tetap kita memuji kebesaran Allah.

Ayat 1

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa puji dan syukur hanyalah  bagi-Nya, yang telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan ciptaan yang amat indah dan ajaib, ciptaan yang belum ada sebelumnya, dan telah diatur-Nya dengan tertib dan lengkap serta sempurna.

Dia juga yang telah menugaskan malaikat menyampaikan wahyu kepada para nabi-Nya, untuk menyampaikan berbagai macam urusan. Malaikat itu adalah sejenis makhluk yang mempunyai sayap yang beraneka ragam, ada yang dua, tiga, atau empat bahkan ada yang lebih dari itu.

Malaikat bertugas untuk menyampaikan segala perintah dan larangan Allah kepada para nabi-Nya. Allah berkuasa menambah sayap para malaikat lebih banyak lagi menurut kehendak-Nya, sesuai dengan keperluan. Tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi-Nya, karena Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Di dalam suatu hadis diterangkan bahwa:

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى جِبْرِيْلَ لَيْلَةَ اْلاِسْرَاءِ فِى صُوْرَتِهِ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ بَيْنَ كُلِّ جَنَاحَيْنِ كَمَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. (رواه مسلم عن ابن مسعود)

Sesungguhnya Nabi Muhammad saw melihat Malaikat Jibril pada malam isr±’ dalam bentuk aslinya, dia mempunyai enam ratus sayap, antara dua sayapnya seperti sepanjang mata memandang ke timur dan barat. (Riwayat Muslim dari Ibnu Mas’ud)


Baca Juga : Tiga Sarana Utama Untuk Mendapatkan Rahmat Allah SWT


Ayat 2

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa pemberian atau penahanan suatu rahmat termasuk dalam kekuasaan-Nya. Apabila Dia menganugerahkan suatu rahmat kepada manusia, tidak seorang pun dapat menahan dan menghalangi-Nya.

Begitu pula sebaliknya, apabila Dia menahan dan menutup sesuatu rahmat dan belum diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka tiada seorang pun bisa membuka dan memberikannya, karena semua urusan di tangan-Nya.

Dia Maha Perkasa berbuat menurut kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, kita harus selalu menghadap Allah melalui ibadah untuk mencapai cita-cita kita, dan senantiasa dengan bertawakal kepada-Nya, begitu pula di dalam usaha mencapai tujuan dan maksud yang diridai-Nya. Sejalan dengan ini, Allah berfirman:

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.  (Yunus/10: 107)

Dan dalam sebuah hadis disebutkan sebagai berikut:

عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ كَانَ اِذَا انْصَرَفَ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَيَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (رواه احمد والشيخان)

Dari al-Mugirah bin Syu’bah bahwa ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw apabila selesai salat mengucapkan, “Tiada tuhan melainkan Allah. Dia Esa tiada ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah Tuhanku, tidak ada seorang pencegah pun terhadap sesuatu yang Engkau berikan dan tak ada seorang pemberi terhadap sesuatu yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kejayaan seseorang dalam menghadapi siksaan Engkau.” (Riwayat Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 3-5


Mengenal Istilah Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashil

0
mad wajib muttashil
mad wajib muttashil dan mad jaiz munfashil

Dalam membaca Al-Quran, seorang qari’ tidak bisa serta merta memanjang-manjangkan suatu huruf ataupun bacaan tertentu. Ada aturan yang harus dipatuhi oleh seorang pembaca Al-Quran. Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan mengenai istilah dan aturan Mad Asli. Artikel ini akan menjelaskan bagian Mad Far’i yaitu Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfashil mulai dari istilah dan aturan membacanya serta contohnya dalam Al-Quran.

Mad Wajib Muttashil

Syaikh Athiyyah Qabil dalam kitab Ghayatu al-Murid Fi ‘Ilmi Tajwid mendefinisikan bahwa Mad Wajib Muttashil adalah

وَاَنْ يَقَعَ بَعْدَ حَرْفِ الْمَدِّ هَمْزٌ مُتَّصِلٌ بِهِ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ

“adanya hamzah setelah huruf mad yang muttashil (bersambung) dalam satu kata”

Baca Juga: Ilmu Tajwid: Mengenal Hukum Mad Asli (Mad Thobi’i)

Syaikh Sulaiman al-Jamzuri dalam kitabnya Tuhfatul Athfal berkata:

فَوَاجِبٌ اِنْ جَاءَ هَمْزٌ بَعْدَ مَدْ * فِى كَلِمَةٍ وَذَا بِمُتَّصِلْ يُعَدْ

Apabila ada mad thobi’i atau mad asli bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Maka ukuran panjang membacanya 4 sampai 5 harakat. Contoh:

-وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ – ٤٩

-قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاۤءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ – ٦٩

Dinamakan wajib karena semua qurra’ secara ijma’ mewajibkan penambahan bacaan panjang dari mad asli, tidak ada yang membaca qashar satu alif. Karena bertemunya huruf mad dengan hamzah dalam satu kalimat itu betul-betul membekas.

Kalau tidak ditambahkan panjangnya, maka akan hilang terlipat. Karena huruf mad itu huruf yang samar dan hamzah itu huruf yang keras dan kuat. Selain juga demi menjelaskan bacaan hamzah, karena sifat huruf hamzah yang sukar dilafadzkan. Maka cara membacanya dipanjangkan dan akhirnya jangan disyiddahkan ke hamzah (membacanya hamzah jangan terlalu di tekankan).

Tentang ukuran menambahkan panjang berbeda-beda, bacaan Imam ‘Ashim sampai 2 atau 2 setengah alif. Lainnya ada yang lebih panjang dan ada yang lebih pendek menurut perincian masing-masing.

Mad Jaiz Munfashil

Syaikh kamil al Adib dalam kitab Hidayat al-Mustafid fi Ahkami Al-Tajwid menerangkan pengertian Mad Jaiz Munfashil yaitu

هُوَ اَنْ يَأْتِى حَرْفُ الْمَدِّ أَخِرَ الْكَلِمَةِ الْاُوْلى وَهَمْزَةُ الْقَطْعِ فِى اَوَّلِ الْكَلِمَةِ

“apabila ada huruf mad asli pada satu kata bertemu dengan hamzah dikata yang lainnya.” Contoh:

-وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ࣖ – ٧

Dinamakan munfashil (terpisah) karena antara huruf mad dan hamzah sudah beda kalimatnya. Dinamakan jaiz karena bisa hilang sebabnya menambahi panjang seperti jika waqof pada kalimah yang pertama. Kalau  hilang sebabnya maka tidak menambahi panjangnya lagi.

Dengan ini maka para qurra’ berbeda pendapat, ada yang mewajibkan terbaca qashar karena huruf mad bertemu dengan hamzah yang sudah beda kalimat itu tidak bisa memberi bekas (bukan bernama mad jaiz lagi). Ada juga yang mewajibkan dibaca panjang seperti mad wajib muttashil karena sama-sama bertemunya hamzah walaupun sudah beda kalimat tetapi tetap membekas.

Ada juga yang berpendapat bahwa mad ini dapat dibaca dua model sekaligus, yaitu dibaca pendek (qashar) dan dibaca panjang sama dengan mad wajib.

Demikianlah, dan semua itu mutawattir dan muttashil dari nabi Saw.

Baca Juga: Kitab Yanbu’a: Pembelajaran Metode Tajwid Secara Praktis

Dalam buku tajwid Al-Muqaddimah Jazariyyah karangan KH. Maftuh Basthul Birri beliau berpendapat bahwa Menurut riwayat Hafs dari Imam ‘Ashim juga punya wajah dua dengan beda metode:

Pertama, dibaca panjang, menurut thariqnya imam ‘Ubaid ibni Shabbah yang diterangkan dalam kitab nadzam Asy-Syatibiyyah (yang namanya hirzul amaniy), dan ini bacaan yang paling umum dimana saja.

Kedua dibaca qashr satu alif. Pendapat ini menurut thariqnya Imam ‘Amr Ibni Sabbah yang diterangkan menurut kitab nadzam Thayyibatun Nasr. Ini masyhur dan sah kedua-duanya walaupun di Indonesia yang satu alif ini agak asing karena bawaan dari guru-guru kita yang panjang.

Maka anda boleh memilih asalkan membacanya yang pasti dan rapi satu alif-satu alif semua dimanapun berada, atau sama dengan mad wajib panjang semua. Jangan dicampur ada yang pendek ada yang panjang. Mungkin anda tidak biasa kalau tidak dengan guru, maka lakukanlah menurut yang lebih biasa. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Saba’ Ayat 51-54

0
Tafsir Surah Saba'
Tafsir Surah Saba'

Tafsir Surah Saba’ Ayat 51-54 mejelaskan tentang keadaan orang kafir ketakutan dihadapan Allah Swt. Ketika itu, kesalahan mereka terekam dengan baik, mereka tidak bisa mengelak dari persidangan itu,pun tidak bisa kabur dan kembali menebus kesalahan mereka. Sebab, pintu taubat sudah tertutup total, sama seperti yang dialami oleh umat-umat terdahulu. Seandainya mereka semasa hidup mau belajar dari masa lalu, niscaya mereka tidak akan mengalami siksa dan penyesalan yang mendalam.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Saba’ Ayat 48-50


Ayat 51

Pada ayat ini dijelaskan bahwa andaikata Rasulullah menyaksikan bagaimana orang-orang kafir itu nanti ketakutan di depan Allah, maka beliau akan menyaksikan peristiwa yang hebat sekali.

Pada waktu itu, orang-orang kafir itu dihadapkan kepada siksa Allah. Tempat melarikan diri tidak ada, begitu juga kemungkinan adanya pertolongan, atau tempat untuk berlindung.

Oleh karena itu, gemparlah mereka dalam ketakutan yang luar biasa. Pada waktu itulah mereka dibekuk dengan mudah tanpa berkutik karena sudah terpojok di Padang Mahsyar yang menyesakkan.

Ayat 52

Pada waktu itulah mereka bertobat dengan mengikrarkan iman mereka kepada Allah, para rasul-Nya, dan Al-Qur’an. Mereka mengikrarkan iman yang tulus sekali karena semua bukti yang tadinya mereka ragukan telah nyata dan telah terbukti. Ikrar iman seperti itu dilukiskan dalam ayat lain:

وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (as-Sajdah/32: 12)

Mengikrarkan iman untuk bertobat pada waktu itu tidak mungkin lagi mencapai maksud yang diharapkan, karena mereka sudah berada di tempat yang sangat jauh yaitu akhirat.

Di tempat yang sangat jauh seperti itu tidak mungkin lagi mencari keselamatan. Tempat mencari keselamatan dengan beriman dan beramal saleh adalah di dunia, tetapi masa itu sudah berlalu dan mereka tidak mungkin lagi dikembalikan ke sana. Oleh karena itu, tobat dan ikrar iman mereka itu tidak berguna dan tidak mungkin diterima.


Baca Juga : Tafsir Ayat Syifa: Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan


Ayat 53

Dijelaskan lebih lanjut bahwa mereka tidak mungkin lagi mencari keselamatan di tempat yang jauh itu karena semasa hidup di dunia mereka ingkar sekali. Mereka tidak mau mengimani Allah, para rasul-Nya, Al-Qur’an, dan hari kemudian.

Sebab mereka tidak mau beriman adalah karena mereka melontarkan dugaan-dugaan yang tidak beralasan sama sekali. Mereka menyangka yang lain dari Allah sebagai Tuhan, menuduh Nabi Muhammad saw. penyair, dukun, penyihir, gila, dan sebagainya, menyatakan Al-Qur’an dongeng, mimpi, atau sihir, dan menyangka bohong adanya hari kemudian beserta surga dan neraka.

Semua itu mereka nyatakan tanpa dasar pengetahuan, tetapi hanya berdasarkan dugaan. Dugaan itu diibaratkan orang yang melempar sesuatu yang tidak jelas secara serampangan dari tempat yang jauh. Ia tidak tahu apakah lemparan itu mengenai sasaran atau tidak.

Dalam al-Kahf/18: 22 tindakan itu dilukiskan dengan ungkapan: rajman bil-gaib, yaitu membidik sesuatu yang tidak jelas secara serampangan atau menerka-nerka sesuatu tanpa dasar sama sekali.

Ayat 54

Pada ayat ini dijelaskan bahwa antara orang itu dengan harapannya untuk bertobat dan terlepas dari siksa terganjal total, tidak mungkin terjadi sama sekali, seakan-akan di antara keduanya telah terbangun tembok tebal yang besar.

Dambaan itu sama halnya dengan apa yang diharapkan umat-umat sebelum mereka. Umat-umat itu semenjak awal selalu membangkang dan baru beriman ketika bencana sebagai hukuman sudah di depan mata.

Tentu saja tobat dan iman pada waktu sudah terpaksa seperti itu tidak diterima, sebagaimana dinyatakan dalam ayat lain:

فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَاۗ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ  ٨٤  فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ اِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَا ۗسُنَّتَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهِۚ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكٰفِرُوْنَ ࣖ   ٨٥

Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.” Maka iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami tidak berguna lagi bagi mereka. Itulah ketentuan Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir. (al-Mu’min/40: 84-85)

Mereka tidak beriman di dunia karena selalu sangsi mengenai kebenaran Al-Qur’an dan ragu untuk menerima kebenarannya. Padahal, Al-Qur’an tidak perlu diragukan lagi oleh manusia, karena merupakan wahyu Allah, disampaikan oleh Jibril, diterima Nabi Muhammad, dan isinya benar. Keraguan hanya akan menghasilkan kekafiran, dan kekafiran hanya akan membuahkan kesengsaraan di akhirat.

(Tafsir Kemenag)