Ayat-ayat kauniyah merupakan ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang alam semesta (al-kaun), fenomena alam semesta, proses alam, serta tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat diamati melalui pancaindra dan akal manusia. Keunikan ayat-ayat ini terletak pada kemampuannya menghubungkan wahyu ilahi dengan realitas empiris tanpa mengubah Alquran menjadi kitab sains, namun tetap memberikan isyarat-isyarat ilmiah yang menantang akal manusia sepanjang zaman.
Salah satu keunikan utama ayat-ayat kauniyah adalah penggunaan bahasa yang universal dan lintas zaman. Alquran tidak menjelaskan fenomena alam dengan istilah teknis yang terbatas pada satu era, melainkan menggunakan redaksi yang terbuka untuk pemahaman generasi berbeda. Contohnya dalam firman Allah:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Q.S. Az-Zariyat: 47)
Ayat ini menarik perhatian banyak mufasir klasik dan modern. Kata lamūsi‘ūn secara bahasa berarti “meluaskan”. Ibn Katsir dalam Tafsir Alquran al-‘Azhim menafsirkan ayat ini sebagai bukti kekuasaan Allah dalam menciptakan langit yang sangat luas. Sementara mufasir kontemporer seperti Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal Alquran menekankan bahwa ayat ini memberi isyarat dinamika alam semesta, yang dalam sains modern dikenal dengan teori ekspansi alam semesta. Keunikan ayat ini terletak pada kesesuaiannya dengan penemuan ilmiah tanpa menyebutkan teori tersebut secara eksplisit.
Baca Juga: Enam Ayat Kauniyah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 164 dan Hikmahnya
Keunikan lain dari ayat-ayat kauniyah juga terlihat pada pembahasan tentang asal-usul kehidupan. Alquran menegaskan bahwa air merupakan sumber kehidupan, jauh sebelum sains modern membuktikannya:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Q.S. Al-Anbiya: 30)
Al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan air sebagai unsur paling penting dalam kehidupan makhluk. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menambahkan bahwa ayat ini mendorong manusia untuk berpikir tentang ketergantungan seluruh makhluk hidup pada satu unsur yang sama. Dalam perspektif modern, biologi membuktikan bahwa sel-sel makhluk hidup sebagian besar tersusun dari air. Keunikan ayat ini bukan pada rincian ilmiahnya, tetapi pada ketepatan prinsip dasarnya yang bersifat universal.
Ayat kauniyah juga unik karena sering kali diakhiri dengan ajakan berpikir (tafakkur), menggunakan akal (ta‘aqqul), dan merenung (tadabbur). Misalnya dalam penciptaan manusia:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
“Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.” (Q.S. Al-Mu’minun: 12)
Ayat ini tidak hanya menjelaskan asal penciptaan manusia, tetapi juga mengajak manusia untuk merenungkan hakikat dirinya. Menurut Tafsir ath-Thabari, kata sulālah menunjukkan sesuatu yang disaring dan dipilih, menandakan proses penciptaan yang sangat teliti. Keunikan ayat ini tampak pada kemampuannya menggabungkan aspek material (tanah) dan spiritual (penciptaan oleh Allah) dalam satu redaksi singkat namun mendalam.
Baca Juga: Ketika Langit Bersuara: I‘jāz al-Qur’ān dan Fenomena Kosmis
Fenomena peredaran benda langit juga menjadi bagian penting ayat kauniyah. Allah berfirman:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” (Q.S. Yasin: 38)

















![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-100x70.jpg)