Kerusakan ekosistem alam dijelaskan oleh Alquran sebagai akibat langsung dari ulah manusia. Dengan kata lain, manusia dikatakan sebagai pelaku perusakan alam, namun di tengah kenyataan tersebut, masyarakat dihadapkan pada dua cara pandang yang bertentangan: satu menuntut pelestarian alam yang murni, sementara yang lain melegitimasi eksploitasi alam dengan dalih kemaslahatan bersama.
Pada titik inilah tindakan merusak alam kerap tidak terlihat, karena sering kali ia muncul dari proses yang dinormalisasi dan dibungkus dengan narasi yang indah, argumentasi yang meyakinkan, dan sikap yang seolah menunjukkan penuh kepedulian. Inilah yang membuat sebagian orang mungkin tidak sadar bahwa tindakan tertentu, meskipun tampak “baik”, justru meninggalkan jejak kehancuran bagi kehidupan dan lingkungan.
Oleh karena itu, dalam konteks ini Alquran tidak hanya mengingatkan bahwa manusialah penyebab kerusakan itu, akan tetapi juga mengidentifikasi dengan jelas karakter pelakunya. Pernyataan yang muncul kemudian, ‘siapa sebenarnya yang disebut oleh Alquran sebagai pelaku perusakan alam?’
Surah al-Baqarah ayat 204-205 menyinggung tentang hal ini,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ (٢٠٤) وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (٢٠٥)
Di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia adalah penentang yang paling keras. (204) Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan. (205)
Baca Juga: Q.S Albaqarah Ayat 11: Tafsir al-Ṭabarī dan Logika Kerusakan Alam
Siapa figur dari ‘Orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hati’ dalam ayat?
At-Tabari dalam tafsirnya, Jami’ al-Bayan menjelaskan bahwa surah al-Baqarah [2]: 204 sebagai gambaran umum dari perilaku orang-orang yang munafik. Beliau berpendapat terdapat tiga penjelasan terhadap ayat ini.
Pertama, ayat ini turun kepada al-Akhnas bin Shuraiq. Dia menampakkan keislamannya di hadapan Nabi saw., namun setelah itu dia merusak tanaman dan membunuh hewan milik kaum Muslimin. Kedua, ayat ini turun kepada kelompok orang-orang munafik yang mencela pasukan al-Raji’. Mereka mencela para sahabat yang meninggal dalam keadaan syahid. Ketiga, ayat ini berlaku secara umum sebagai ciri-ciri dari orang munafik.
Ketiga pendapat di atas bermuara pada kesimpulan yang sama yaitu orang munafik. Pendapat serupa juga disampaikan oleh az-Zuhaili dalam tafsirnya, al-Munir, beliau berpendapat bahwa terdapat tiga ciri-ciri orang-orang munafik berdasarkan ayat ini, yaitu, lisannya lihai dalam bertutur kata indah, namun tindakannya ertolak belakang dengan apa yang diucapkannya, sering kali dia memberikan kesaksian palsu dengan bersumpah atas nama Allah swt., dan banyak berdebat dengan cara yang tidak benar. Berdasarkan penjelasan para ulama tafsir di atas, surah al-Baqarah [2]: 204 merujuk kepada orang-orang munafik yang memiliki ciri-ciri yang telah disebutkan.
Ayat di atas memberikan pesan kepada para pembaca agar menghindari tiga ciri utama orang munafik, sekaligus memberikan peringatan agar tidak mudah terkesan terhadap apa yang dinarasikannya, melainkan turut mengawal realisasi narasi tersebut. Hal ini dilakukan karena orang-orang munafik seringkali bertolak belakang antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Sebagaimana Qatadah berpendapat, orang-orang munafik terlihat berpengetahuan melalui lisannya, akan tetapi bodoh dalam pengalamannya, berbicara atas nama hikmah, namun berbuat maksiat.
Baca Juga: Ibrah Kisah Nabi Adam Memakan Buah dan Bencana dari Kerusakan Alam
Makna “al-Hartsa wa al-Nasl”
Makna kata al-hartsa secara harfiah adalah tanaman, hasil bumi dan segala sesuatu yang ditanam oleh manusia. Sedangkan kata al-nasl menurut al-Qurtubi dalam tafsirnya, Jami’ al-Ahkam adalah keturunan, makna ini dapat mencakup manusia, hewan ternak dan semua makhluk hidup di bumi.
Setelah menjelaskan figur yang dimaksud pada surah al-Baqarah [2]: 204, ayat selanjutnya pada surah al-Baqarah [2]: 205 melanjutkan tentang perilaku yang lain dari orang munafik, yaitu melakukan kerusakan alam. At-Tabari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan makna ayat ini, namun kesemuanya mengerucut pada satu hal yang sama yaitu melakukan kerusakan pada alam, termasuk di antaranya adalah membunuh hewan tanpa hak, merusak tanaman, membunuh manusia atau hewan secara zalim dan melakukan serangkaian kegiatan yang menyebabkan hancurkan keseimbangan ekosistem.
Ayat ini menjadi penjelas dari ayat sebelumnya, bahwa kemunafikan bukan sekedar masalah teologis individu, akan tetapi memiliki dampak sosial yang memengaruhi banyak sektor, termasuk di antaranya adalah ekologis. Hal ini selaras dengan krisis ekologis masa kini yang kerap kali terjadi karena dinormalisasi melalui narasi dan janji manis, padahal realitasnya tetap desktruktif. Fenomena ini digambarkan jelas oleh Alquran pada surah al-Baqarah [2]: 204-205.
Baca Juga: Term Fasad dan Pemaknaannya dalam al-Qur’an, dari Penyimpangan sampai Kerusakan Lingkungan
Kesimpulan
Relevansi surah al-Baqarah [2]: 204-205 terhadap krisis ekologi masa kini dapat dijadikan sebagai sudut pandang baru dalam menilai kerusakan alam yang terjadi akibat ulah manusia. Saat ini, masyarakat hidup di era dimana kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan perilaku merusak alam lainnya tidak hanya dilakukan oleh orang yang mengaku jahat, akan tetapi juga diklaim oleh sekelompok orang sebagai sarana dalam mencapai kemaslahatan bersama.
Satu sisi, kemaslahatan perlu diupayakan, namun di sisi yang lain, realisasi maslahat tersebut tetap harus mengikuti aturan dan tidak merugikan banyak pihak. Sebagaimana penjelasan ahli tafsir di awal.
Pelaku perusakan alam diidentifikasi oleh Alquran melalui tindakan yang menghilangkan ruang hidup bagi masyarakat, satwa, serta alam keseluruhan. Alquran menjelaskan, perilaku merusak alam adalah ciri-ciri dari orang munafik, yaitu orang yang tidak selaras antara hal yang diucapkan dengan hal yang dilakukan.
Mengenai pertanyaan di awal mengenai “siapa pelaku perusakan alam menurut Alquran?” jawabannya adalah orang-orang munafik, karena di antara perilaku mereka adalah terlihat berpengetahuan melalui lisannya, akan tetapi sembarangan dalam pengamalannya, berbicara atas nama hikmah, namun ternyata menyebabkan musibah. Wallah a’lam.

















