BerandaTafsir TematikDoa sebagai Komunikasi Tanpa Batas: Refleksi QS. Al-Baqarah : 186 Menyambut Ramadan

Doa sebagai Komunikasi Tanpa Batas: Refleksi QS. Al-Baqarah [2]: 186 Menyambut Ramadan

Menjelang Ramadan, umat Islam umumnya mempersiapkan diri melalui berbagai rencana ibadah seperti target tilawah, puasa sunnah, atau pengaturan kegiatan harian. Namun, persiapan batin berupa penguatan hubungan spiritual dengan Allah sering belum menjadi perhatian utama, padahal inti Ramadan adalah memperbaiki kualitas hubungan hamba dengan Tuhannya.

Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186 yang berada di tengah ayat-ayat puasa menegaskan pentingnya doa sebagai bentuk kedekatan spiritual, sehingga ayat ini sangat relevan dikaji melalui perspektif komunikasi transendental untuk memahami bahwa doa bukan sekadar ritual, tetapi dialog spiritual yang berdampak nyata dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Terjemah:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Baca Juga: Surah Albaqarah Ayat 186: Anjuran Berdoa Ketika Puasa Ramadan

Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 186 tentang Doa sebagai Komunikas Tanpa Batas

Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menyebutkan asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan seorang Arab Badui yang menghadap Nabi lalu bertanya, “Apakah Tuhan kita dekat sehingga kita berbisik kepada-Nya ataukah Dia jauh sehingga kita menyeru-Nya?” Ketika itu, Nabi tidak langsung merespon pertanyaan orang Arab Badui tersebut, lalu kemudian turunlah ayat ini sebagai jawabannya (Wahbah az-Zuhaili, terj. Abdul Hayyie dkk, 2013).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bahwa ayat ini menunjukkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya serta kepastian dikabulkannya doa, selama memenuhi adab dan syarat doa. Secara khusus, yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan kepada Allah dan dorongan untuk memperbanyak doa, terutama dalam konteks puasa (Abdullah bin Muhammad, terj. M.Abdul Ghoffar, 2004).

Sementara Prof. Quraish Shihab menyoroti bahwa ayat ini dijawab langsung oleh Allah tanpa perantara, menandakan hubungan yang sangat personal antara hamba dan Tuhan. Doa dipahami sebagai dialog spiritual yang menumbuhkan harapan, ketenangan, dan keyakinan bahwa setiap doa pasti memiliki jawaban terbaik dari Allah (Shihab, 2009).

Berdasarkan tafsir di atas dapat dipahami bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya, selalu mendengar dan mengabulkan doa, serta mengaitkan pengabulan tersebut dengan iman dan ketaatan. Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan secara langsung tanpa perantara dan mendorong manusia untuk memperbanyak doa, terutama dalam konteks ibadah seperti puasa.

Doa dapat dipahami sebagai komunikasi tanpa batas (Transcendental Communication) antara Hamba dan Tuhan-Nya, yakni dialog spiritual yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, yang menghadirkan ketenangan, harapan, serta petunjuk hidup bagi manusia.

Baca Juga: Keutamaan Doa di Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah

Refleksi QS. Al-Baqarah [2]: 186 untuk Menyambut Ramadan

Memahami doa sebagai komunikasi tanpa batas memberikan perspektif baru dalam menyambut Ramadhan. Bulan suci tidak hanya dipersiapkan dengan target ibadah kuantitatif, tetapi juga dengan kualitas hubungan spiritual yang lebih mendalam.

Pertama, memperbanyak doa sebagai latihan kedekatan spiritual sejak bulan Sya’ban. Ramadhan adalah bulan pengabulan doa, tetapi kebiasaan berdoa perlu dilatih sebelumnya. Melatih diri untuk berdialog dengan Allah akan membuat hati lebih siap memasuki suasana ibadah Ramadan.

Kedua, menjadikan doa sebagai sarana refleksi diri. Menjelang Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar dan taubat. Doa tidak hanya berisi permintaan duniawi, tetapi juga evaluasi diri, pengakuan kelemahan, serta harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketiga, mengintegrasikan doa dengan tindakan nyata. Ayat ini menegaskan pentingnya merespons panggilan Allah. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan perlu disertai dengan komitmen memperbaiki ibadah, memperbaiki hubungan sosial, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama (Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, terj. As’ad Yasin dkk, 2008).

Keempat, menumbuhkan optimisme spiritual. Keyakinan bahwa Allah dekat dan mendengar doa memberikan energi positif dalam menjalani Ramadhan. Ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan dengan Sang Pencipta.

Baca Juga: Hubungan antara Doa dan Puasa

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, kembali penulis tegaskan bahwa QS. Al-Baqarah [2]: 186 mengajarkan bahwa doa adalah dialog tanpa batas (Transcendental Communication) antara manusia dan Allah sehingga harus dimanfaatkan dengan cukup bijak. Menjelang Ramadan, pesan ini menjadi pengingat bahwa persiapan terbaik bukan hanya pada aspek fisik, tetapi pada kesiapan hati untuk kembali berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan membangun komunikasi spiritual yang kuat, Ramadan dapat dijalani bukan sekadar sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum transformasi diri menuju ketakwaan. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi
Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Ma‘nā-cum-Maghzā dan Tafsīr Maqāṣidī

Ma‘nā-cum-Maghzā dan Tafsīr Maqāṣidī: Sama atau Berbeda?

0
Munculnya pendekatan Ma‘nā-cum-Maghzā (MCM) Sahiron Syamsuddin (2017, 2022) dan Tafsīr Maqāṣidī Abdul Mustaqim (2019), menunjukkan bahwa diskusi mengenai studi Al-Qur’an dan tafsir di era...