Di tengah kehidupan sosial, penilaian terhadap seseorang masih sering dipengaruhi oleh identitas yang melekat padanya. Suku, keturunan, status ekonomi, bahkan latar belakang keluarga kerap dijadikan ukuran untuk menentukan siapa yang dianggap lebih terhormat. Dari cara pandang semacam ini, tidak sedikit muncul prasangka dan perlakuan diskriminatif. Padahal, Al-Qur’an menawarkan ukuran yang berbeda. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh asal-usul ataupun identitas sosial, melainkan oleh kualitas ketakwaan. Prinsip tersebut ditegaskan dalam Q.S. Al-Hujurat [49]: 13. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini berbicara tentang dua hal sekaligus, yakni keberagaman manusia dan ukuran kemuliaan di hadapan Allah. Keduanya sering dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, padahal Al-Qur’an meletakkannya dalam satu kesatuan.
Baca Juga: Surah Al-Hujurat Ayat 13 dan Fenomena Perbudakan Spiritual
Q.S. Al-Hujurat [49]: 13: Dari Kebanggaan Nasab Menuju Ketakwaan
Beberapa riwayat menjelaskan bahwa ayat ini hadir untuk meluruskan kebiasaan sebagian masyarakat Arab yang sangat menekankan kehormatan berdasarkan nasab dan kesukuan. Identitas kelompok pada masa itu sering menjadi dasar untuk menentukan kedudukan seseorang. Melalui Q.S. Al-Hujurat [49]: 13, Al-Qur’an menghadirkan cara pandang yang berbeda. Manusia tetap hidup dalam keberagaman suku dan bangsa, tetapi perbedaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membentuk tingkatan kemuliaan.
Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Juz 7, hlm. 495–496), Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh manusia berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyombongkan garis keturunan atau merendahkan orang lain. Ibnu Katsir juga mengutip hadis Nabi SAW tentang pentingnya mengenal nasab. Namun, tujuan mengenal keturunan bukan untuk membangun kebanggaan sosial, melainkan untuk menjaga hubungan kekerabatan dan memperkuat silaturahmi.
Saat menjelaskan frasa inna akramakum ‘indallāhi atqākum, Ibnu Katsir menegaskan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah suku, rupa, kekayaan, ataupun kedudukan. Yang menjadi ukuran adalah ketakwaan.
Membaca Makna Lita‘ārafū Menurut M. Quraish Shihab
Penjelasan yang menarik juga diberikan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Jilid 12, hlm. 616). Menurut M. Quraish Shihab, frasa lita‘ārafū tidak cukup dipahami sebagai saling mengetahui identitas satu sama lain. Kata tersebut menunjukkan proses saling mengenal secara aktif, terbuka, dan menghasilkan hubungan yang baik. Dengan demikian, perbedaan bukanlah penghalang antarmanusia. Keberagaman justru menjadi ruang untuk membangun relasi, memperluas kerja sama, dan menghadirkan kemaslahatan bersama.
M. Quraish Shihab juga menekankan bahwa Islam tidak menolak kemajemukan. Keberagaman dipandang sebagai bagian dari ketetapan Allah yang perlu disikapi dengan bijak. Pada bagian akhir ayat, ia menjelaskan bahwa takwa bersifat batiniah dan hanya diketahui secara sempurna oleh Allah. Karena itu, manusia tidak memiliki dasar untuk mengukur kemuliaan orang lain hanya dari identitas atau penampilan lahiriahnya.
Baca Juga: Tafsir Surah al-Hujurat Ayat 13: Larangan Membangga-banggakan Nasab
Relevansi di Tengah Kehidupan Modern
Pesan Q.S. Al-Hujurat [49]: 13 tetap relevan untuk dibaca di tengah kehidupan yang semakin plural. Teknologi dan globalisasi membuat manusia semakin mudah bertemu dengan berbagai identitas dan latar belakang. Namun, kedekatan itu tidak selalu diikuti dengan kedewasaan sosial. Ujaran kebencian, stereotip, dan polarisasi identitas masih mudah ditemukan, termasuk di media sosial.
Ayat ini mengingatkan bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dihapuskan. Yang perlu diubah adalah cara manusia memandang perbedaan tersebut. Seseorang mungkin memiliki jabatan tinggi, kekayaan melimpah, atau keturunan terpandang. Akan tetapi, semua itu tidak otomatis menjadikannya mulia di sisi Allah. Kemuliaan yang sesungguhnya terletak pada kualitas ketakwaan yang tercermin dalam sikap hidup, akhlak, dan cara memperlakukan sesama.
Refleksi atas Makna Takwa
Q.S. Al-Hujurat [49]: 13 menunjukkan bahwa seluruh manusia memiliki asal-usul yang sama dan kedudukan yang setara sebagai makhluk Allah. Ibnu Katsir menekankan pentingnya meninggalkan kebanggaan terhadap nasab, sementara M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa keberagaman seharusnya menjadi jalan untuk membangun hubungan yang lebih terbuka dan harmonis.
Pada akhirnya, kemuliaan bukan terletak pada apa yang tampak dari luar, tetapi pada kualitas ketakwaan yang hanya diketahui secara sempurna oleh Allah. Karena itu, ayat ini mengajak manusia untuk lebih sibuk memperbaiki diri daripada sibuk menilai orang lain.
![Makna Q.S. Al-Hujurat [49]: 13: Takwa sebagai Ukuran Kemuliaan](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/06/istockphoto-2088957830-612x612-1-218x150.jpg)












