BerandaTafsir TematikTafsir Tematik Surahal-Fātiḥah dan al-Ikhlāṣ Bukti Keserasian Struktur dan Tujuan Al-Qur’an

al-Fātiḥah dan al-Ikhlāṣ Bukti Keserasian Struktur dan Tujuan Al-Qur’an

Sering kali, pembaca awam maupun orientalis melihat alur Al-Qur’an sebagai serangkaian teks yang melompat-lompat tanpa pola yang jelas karena tidak disusun secara kronologis (tartīb al-nuzūlī), melainkan berdasarkan urutan mushaf (tartīb al-muṣḥafī) yang bersifat tauqīfī. Namun, dari ke-tauqīfī-an itulah para pakar Al-Qur’an klasik seperti al-Rāzī (w. 606/1209), al-Biqā‘ī (w. 885/1480), dan al-Suyūṭī (d. 911/1505), hingga tokoh modern seperti Muḥammad ‘Abduh (w. 1323/1905), al-Ṭāhir b. ‘Āsyūr (w. 1395/1973), Sayyid Quṭb (w. 1386/1966), serta al-Farāhī (w. 1351/1930) dan Iṣlāḥī (w. 1418/1997), meyakini adanya mukjizat keserasian dalam sistematika mushaf.

Diskursus ini disebut al-Qurṭūbī (w. 671/1273) dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān-nya—dan diikuti Wahbah al-Zuḥailī (w. 1436/2015) dalam Tafsīr al-Munīr-nya—sebagai “al-i‘jāz al-tanāsubī” (mukjizat tentang keserasian struktur). Konsep ini memandang Al-Qur’an bukan sebagai teks terfragmentasi, melainkan sebagai apa yang dianalogikan oleh Quraish Shihab dalam Tafsīr al-Mishbāḥ-nya sebagai “kalung mutiara”, yang saling terikat secara harmonis. Keserasian ini sekaligus merupakan jembatan epistemologis menuju pemahaman maqāṣid al-Qur’ān (tujuan-tujuan utama Al-Qur’an). Menurut al-Biqā‘ī dalam Maṣā‘id al-Naẓr, jika Al-Qur’an diibaratkan sebuah bangunan, maka surahnya bukanlah kamar yang terisolasi, melainkan satu kesatuan arsitektur dengan fondasi yang sama.

Dalam diskursus modern, gagasan ini juga diperkuat konsep al-waḥdah al-mauḍu‘iyyah atau kesatuan tematik. Apa yang diistilahkan oleh Quraish Shihab—dalam bukunya Metodologi Tafsir Al-Qur’an: Dari Tematik Hingga Maqashidi—itu, juga diistilahkan berbeda oleh Sayyid Quṭb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān-nya, bahwa setiap surat memiliki “kepribadian”-nya masing-masing (shakhṣiyyah al-sūrah), yang diikat oleh poros makna atau yang disebut oleh al-Farāhī dan Iṣlāḥī sebagai “‘amud”. Dan di tengah samudera makna tersebut, terdapat dua surat yang menjadi simpul utama dan pengikat seluruh pesan Ilahi: yaitu Surat al-Fātiḥah dan Surat al-Ikhlāṣ. Keduanya membentuk fondasi teologis sekaligus bingkai metodologis untuk memahami keutuhan tujuan Al-Qur’an secara serasi dan komprehensif.

Surat al-Fātiḥah: Miniatur Seluruh Maqāṣid al-Qur’ān

Al-Fātiḥah menduduki posisi sentral sebagai “Umm al-Kitāb” atau induknya Al-Qur’an karena merangkum esensi ajaran-ajaran Al-Qur’an. Menurut al-Zarkasyī, mengenai strukturnya, Mazhab Syāfi‘ī memasukkan basmalah sebagai ayat pertama guna menjaga konsistensi harmoni suara (fāṣilah). Fakhr al-Dīn al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghaib dan al-Biqā‘ī dalam Naẓm al-Durar juga menyebutkan nama lain surat tersebut seperti al-Asās (fondasi) dan al-Kāfiyyah (yang cukup), yang menunjukkan kedalaman fungsi epistemiknya.

Lantas, al-Rāzī membagi kandungan al-Fātiḥah ke dalam empat poros: ketuhanan (al-ilāhiyyat), hari kebangkitan (al-ma‘ād), kenabian (al-nubuwwāt), dan ketetapan Ilahi (al-qadā’ wa al-qadar) (al-Rāzī, 1420, p. 156). Begitu pula al-Ṭāhir b. ‘Āsyūr dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, menegaskan bahwa surat ini mencakup seluruh maqāṣid, mulai dari tauhid hingga janji dan ancaman. Kemudian, ‘Abduh dalam Tafsīr al-Manār, menambahkan bahwa Al-Qur’an juga turut mengikuti sunnatullāh, yakni memulai dari yang global (mujmal) dalam al-Fātiḥah sebelum diperinci (tafsīl) pada surah-surah berikutnya. Bahkan menurutnya, segala rahasia Al-Qur’an (asrār al-Qur’ān) tersimpul di sini.

Baca juga: Serba-serbi Seputar Surah Alfatihah

Di lihat dari nama yang lainnya lagi, yakni al-Sab‘ al-Maṡānī, universalitasnya bukan saja tercermin dari pengulangannya di setiap rakaat salat, melainkan di setiap bagian Al-Qur’an. Tak heran jika al-Suyūṭī dalam Tanāsuq al-Durar, yang mengutip al-Ḥasan al-Baṣrī, menyatakan bahwa memahami al-Fātiḥah seakan-akan memahami seluruh kitab suci yang diturunkan Allah.

Lalu menurut al-Biqā‘ī, hubungan struktural ini terlihat saat permohonan hidayah dalam al-Fātiḥah (ayat 6), lalu langsung dijawab oleh awal al-Baqarah yang menegaskan Al-Qur’an sebagai hudān li al-muttaqīn (petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).

Surat al-Ikhlāṣ: Kristalisasi Tauhid dan Sepertiga Al-Qur’an

Jika al-Fātiḥah adalah induk, maka al-Ikhlāṣ adalah simpul pengikat yang memurnikan esensi ketuhanan. Nama “al-Ikhlāṣ” sendiri, berasal dari kata “khāliṣ” (murni), karena seluruh ayatnya didedikasikan untuk menafikan kemusyrikan. Al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghaib juga mencatat dua puluh nama lain surat tersebut, seperti al-Tauḥīd dan al-Amān, yang pada intinya menunjukkan kedalaman kandungannya.

Sementara dalam tradisi hadis, Imam Aḥmad dalam Musnad-nya dan Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, meriwayatkan hadis bahwa surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an (ṡuluṡ al-Qur’ān). Kemudian, al-Ghazali dalam Jawāhir al-Qur’ān menjelaskan mengenai hal tersebut, bahwa isi Al-Qur’an terbagi ke dalam tiga poros: mengenal Allah (ma‘rifat Allāh), mengenal jalan lurus, dan mengenal akhirat. Lantas, al-Ikhlāṣ sepenuhnya mewakili poros pertama, sehingga secara tematis mewakili sepertiga tujuan wahyu.

Baca juga: Rahasia di Balik al-Ikhlas: Satu Surah Seribu Keutamaan

Keberadaan surat ini sendiri awal-awalnya merupakan respons teologis yang menetapkan eksistensi mutlak Allah yang Maha Aḥad dan posisi-Nya sebagai tumpuan segala sesuatu (al-Ṣamad), yang menurut al-Rāzī, sekaligus menafikan segala bentuk antropomorfisme (tajsīm) dan keserupaan dengan makhluk (tasybīh). Begitu pula al-Ṭāhir b. ‘Āsyūr yang menyebutnya sebagai prinsip universal pengetahuan ketuhanan (kulliyyāt al-ma‘ārif al-ilāhiyyah), yang menjadi fondasi hukum dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an.

Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, al-Bukhārī meriwayatkan, bahwa secara praktis Rasulullah sendiri menjadikannya sebagai bacaan rutin dan zikir perlindungan (al-mu‘awwiżāt). Lalu menurut riwayat Imam Aḥmad dalam Musnad-nya, kecintaan terhadap surat ini dipandang sebagai jalan menuju surga (ḥubbu-ka iyyā-hā adkhala-ka al-jannah). Tak ayal jika kemudian al-Ikhlāṣ menjadi pusat gravitasi teologis; dan para ulama sendiri sepakat bahwa tauhid adalah elemen pertama dan utama maqāṣid al-Qur’ān al-kubrā, yang kemudian juga merupakan fondasi reformasi (iṣlāḥ) dunia.

Dialektika Struktur dan Tujuan: Filosofi Kalung Mutiara

Melalui analogi kalung mutiara, terlihat bahwa konsep al-tanāsub (keserasian) itu tadi berperan sebagai instrumen struktural, sementara konsep maqāṣid menjadi orientasi substansialnya. Al-Fātiḥah dan al-Ikhlāṣ menempati posisi sebagai dua simpul utama. Al-Fātiḥah berfungsi sebagai titik awal (starting point) yang membuka garis besar maqāṣid melalui bingkai pengakuan ketuhanan (al-ikhbār wa al-iqrār bi al-rubūbiyyah). Setiap hukum dan kisah berikutnya adalah detail dari sentralitas al-Fātiḥah.

Baca juga: Menilik Pengertian ‘Amud Al-Quran dan Metodologinya ala Hamiduddin Farahi

Sebaliknya, al-Ikhlāṣ bertindak sebagai simpul pengunci (binding knot) yang mengkonfirmasi ketauhidan. Ia memastikan seluruh rantai makna tidak terurai, menjamin Al-Qur’an tetap kokoh secara fungsi. Keserasian dengan dua surat setelahnya, yakni al-Falaq dan al-Nās, juga hematnya menunjukkan bahwa perlindungan yang hakiki adalah kepada Allah: baik sebagai Rabb al-falaq, Rabb al-nās, Malik al-nās, Ilāh al-Nās. Hingga dengan kata lain, mentauhidkannya lah kita dapat terlindung dari apa saja yang/sebagaimana dibahas dalam kedua surat mu‘awwiżatain itu. Dan agaknya ini memperlukan pembahasan tersendiri.

Sekarang, yang jelas, hubungan antara al-Fātiḥah dan al-Ikhlāṣ menunjukkan pola dialektis: yang satu membuka jalan dengan garis besar tujuan, dan yang lain mengikatnya dengan keteguhan tauhid. Pergerakan maqāṣid ini dimulai dari pengakuan ketuhanan, permintaan hidayah, dan dipuncaki dengan pemurnian penghambaan. Dengan demikian, Al-Qur’an nampak sebagai mukjizat yang utuh, di mana keindahan susunan bertemu dengan soliditas tujuan yang abadi.

Krisna Hadi Wijaya
Krisna Hadi Wijaya
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

sumber: https://lst.ac.uk/peter-riddell-appointed-as-professor-emeritus/

Peter G. Riddell dan Terjemahan Al-Qur’an di Asia Tenggara

Artikel ini membahas kontribusi Peter G. Riddell dalam mengkaji sejarah terjemahan Al-Qur’an di Asia Tenggara, khususnya melalui tulisannya Qurʾān translations in pre-modern Southeast Asia....