Beranda Tafsir Tematik Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

Merasa banyak jasa kebaikan yang diberikan kepada orang lain, kemudian mengungkit kebaikannya tersebut di depan orang yang diberi jasa, merupakan perilaku yang sering kita temui. Amal banyak tapi sering menyebut kebaikannya, tanpa disadari itu merupakan perbuatan tipu daya setan kepada manusia.

Orang yang suka menyebut jasa kebaikannya berarti ia khawatir orang lain lupa jasanya itu. Jika tidak diceritakan berulang-ulang, ia merasa kebaikannya terabaikan begitu saja. Berikut surat Al-Baqarah ayat 264 merupakan sebuah ayat yang menceritakan tentang amal sedekah yang sering kali disebutkan kepada orang lain.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Baca juga: Membaca Al-Quran Untuk Pamer, Simak Peringatan Nabi Berikut!

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 264

Dalam Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, dipaparkan bahwa, orang Mukmin janganlah hilangkan pahala sedekah dengan menyebut-nyebut kebaikan kalian di hadapan orang-orang yang membutuhkan dan dengan menyakiti mereka. Sebab, dengan begitu, -maksudnya dengan seringali menyebut kebaikanmu dihadapan orag banyak- kalian seperti orang-orang yang berinfak dengan motif ketenaran dan ingin dipuji. Sesungguhnya mereka itu tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Prof Quraish Shihab memberikan perumpamaan orang yang berinfak dengan motif riya, seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah. Begitu hujan deras turun menyirami batu itu, hilanglah tanah itu semua. Seperti halnya tanah yang subur dan produktif itu hilang dari batu yang licin karena diterpa hujan deras, begitu pula pahala sedekah akan hilang karena perbuatan riya dan menyakiti. Tidak ada sedikit pun yang dapat diambil manfaatnya. Itulah sifat-sifat kaum kafir, maka hindarilah. Sebab Allah tidak akan menunjuki orang-orang kafir kepada kebaikan.

Ibnu Jarir al-Thabari menjelasakan dalam kitab tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wil ay al-Qur’an bahwa surat al-baqarah ayat 264 membahas tentang untuk tidak menyebut-nyebut pahala kebaikanmu (al-mann) dan menyakiti perasaan yang kau sedekahi ( al-adza). Karena itu berpotensi menghilangkan pahala kebaikan yang sudah kita lakukan.

Baca juga: Haruskah Pamer Hewan Kurban di Medsos? Simak Penjelasannya dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 271

Memberikan Sedekah pada Orang Lain Sebaiknya Seperti Apa?

Tujuan dari sedekah adalah untuk menyucikan harta, membantu sesama serta bekal pahala di akhirat kelak. Dan sedekah juga dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Baik itu bisa dengan memberi pertolongan dengan harta maupun jasa tenaga, bisa dengan melafalkan zikir setiap saat waktu luang, melakukan kebaikan hal yang sepele yakni membuang paku di jalan, merawat orang tua sakit, menafkahi keluarga, dan tentunya masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak amarah atau menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

Dalam Islam, dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang yang diberi sedekah. Dengan cara apa? Yaitu dengan menyembunyikan amalan sedekahnya tersebut pada pandangan orang banyak. Cukup orang yang bersedekah dan orang yang diberi sedekah. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala sedekah.

Akan tetapi jika bersedekah, namun tetap menyebut kesana kemari jasa kebaikannya kepada orang yang disedekahi, hal ini bukanlah malah akan menjaga pahala,justru akan menyakiti perasaan dari orang yang diberi sedekah.

Baca juga: Macam-Macam Bentuk Nafsu Menurut Al-Quran

Sesuai yang dikatakan oleh Imam Tirmidzi pada hadis riwayatnya, bahwa dengan tidak menyebut jasa kebaikannya tiap saat malah akan melahirkan dua kebaikan yaitu pahala sedekah dan pahala menjaga silaturahim. Sebagaiamna Rasulullah bersabda, “Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah dan kepada kerabat ada dua (kebaikan), yaitu sedekah dan silaturrahim.”

Semoga sedekah yang sedang kita lakukan atau yang sudah kita lakukan terjauhkan oleh sifat penghilang pahala, dan menjadi kebaikan yang berkah untuk orang banyak. Amin. Wallahu a’lam[]

Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...