Beranda Khazanah Al-Quran Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Kompleksitas kehidupan seringkali membuat manusia mengalami gejolak kepribadian dan perasaan, baik secara positif maupun negatif seperti krisis kepercayaan diri. Perasaan ini bisa terjadi karena munculnya rasa minder akibat penampilan, kemampuan ataupun kepribadian. Tak jarang, krisis kepercayaan diri dipengaruhi oleh standardisasi tertentu dari lingkungan sekitar yang memarginalkan individu berbeda.

Perkembangan dunia digital, sosial media, tren kekinian, dan ekspektasi lingkungan yang berlebihan juga turut serta menciptakan “tekanan baru tak terlihat” bagi berbagai kalangan masyarakat, terutama para remaja. Hal ini kadangkala mempengaruhi kepribadian dan perasaan mereka sehingga mengalami krisis kepercayaan diri. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka memilih untuk mengasingkan diri dari sekitar.

Krisis kepercayaan diri jika tidak diatasi dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti kurangnya keberanian untuk bertindak, takut untuk mencoba, sulitnya bersosialisasi dengan orang lain, kurangnya motivasi dan lain-lain. Bahkan terkadang orang mengalami krisis kepribadian membenci dirinya sendiri karena menurutnya dirinya tidak bisa diandalkan dan sama sekali tidak mampu untuk melakukan apapun.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Psychology Today, krisis kepercayaan diri cenderung membuat seseorang untuk selalu mengkhawatirkan kesalahan masa lalu dan takut mengulanginya. Perenungan yang berlebihan ini membuat ia menarik diri dari kemungkinan-kemungkinan positif di masa sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, krisis kepercayaan diri harus diatasi sedini mungkin.

Ada banyak cara agar seseorang terhindar dari krisis kepercayaan diri, diantaranya: mengenal dan menghargai diri sendiri, menyemangati diri dengan berbagai kata-kata positif, menyusun skala prioritas dan mengeliminasi hal-hal tak penting, menggali potensi terpendam, bersifat terbuka terhadap orang lain, mensyukuri diri, serta mengevaluasinya kemudian. Beberapa tersebut mampun membantu meningkatkan kepercayaan diri.

Amalan Agar Percaya Diri Dan Berwibawa

Selain berusaha melakukan tindakan-tindakan di atas, seseorang juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kewibawaan – sebuah ikhtiar tambahan – melalui amaliah bacaan Al-Qur’an sebagai bentuk doa seorang mukmin kepada Allah Swt. Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitab adz-Dzahabul Ibris bahwa ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana meningkatkan wibawa dan kepercayaan diri.

Ayat yang bisa digunakan untuk meningkatkan wibawa dan kepercayaan diri adalah QS. Al-Fatihah [1] ayat 1 dan QS. Al-Isra’ [17]: ayat 80. Dua ayat tersebut dibaca berturut-turut dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt akan meningkatkan wibawa dan kepercayaan diri melalui washilah atau perantara ayat ini.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا ٨٠

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah [1]:1). Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku) (QS. Al-Isra’ [17]: 80).

Amaliah ini didapatkan imam al-Ghazali dari Abdullah bin al-Hakam. Ia meriwayatkan, “Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid mengutus seorang utusan untuk mengundang Imam Malik bin Anas agar hadir di majelisnya. Ketika sampai di hadapan Harun Ar-Rasyid, Malik bin Annas membaca QS. Al-Fatihah [1] ayat 1 dan QS. Al-Isra’ [17]: ayat 80.”

Setelah itu, Harun ar-Rasyid menyambut Imam Malik bin Anas dengan sangat baik, memuliakannya, dan mengagungkannya. Ketika melihat tempat duduk telah penuh, Imam Malik bin Anas berkata, “Wahai amirul mikminin, di mana aku duduk?” Sang raja lantas menggeser tempat duduk anaknya di sampingnya untuk dijadikan tempat duduk bagi sang Imam dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, tidak ada yang duduk di sini karena kemuliannya selain engkau dan anakku.”

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Imam As-Syafi‘i pernah mengamalkan amaliah ini. Al-Buwaithi, seorang pengikut beliau berkata, “Ketika imam asy-Syafi‘i sampai di Mesir dan disambut banyak orang, beliau diundang oleh semua orang untuk singgah di rumah mereka, termasuk pemimpin Mesir pada waktu itu.

Alkisah, berangkatlah Imam Asy-Syafi‘i dengan dikawal tentara menuju istana kekaisaran. Ketika sampai di sana, beliau membaca QS. Al-Fatihah [1] ayat 1 dan QS. Al-Isra’ [17]: ayat 80. Atas izin Allah, beliau dijamu dengan sebaik-baiknya, beliau ditempatkan di kedudukan tertinggi, dan diberi hadiah tanpa diminta. Padahal waktu itu diceritakan bahwa sebelumnya sang khalifah menuntut pajak kepadanya.

Dari riwayat-riwayat tersebut, Imam Al-Ghazali kemudian berkesimpulan bahwa QS. Al-Fatihah [1] ayat 1 dan QS. Al-Isra’ [17]: ayat 80 – jika diamalkan – dapat meningkatkan kepercayaan dan kewibawaan seseorang. Tentunya hal ini dilakukan dengan penuh keyakinan kepada Allah Swt, tanpa keraguan sedikitpun kepada-Nya.

Selain melakukan amalan tersebut, seseorang juga wajib melakukan hal-hal yang dapat menunjang kepercayaan diri dan kewibawaan serta menghindari hal-hal yang dapat merusak keduanya. Dengan begitu lengkaplah ikhtiar kita, yakni melalui usaha dan doa. Selebihnya cukup kita serahkan kepada Allah Swt Sang Maha Pengatur. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

0
Hari raya Iduladha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban sehingga kadang disebut pula dengan hari raya kurban. Masyarakat muslim yang berkemampuan secara finansial dianjurkan menyisihkan...