Beranda Tafsir Tematik Apa Hanya Ruh Nabi Saw yang Melakukan Isra Mikraj? Ini Penjelasan Ulama

Apa Hanya Ruh Nabi Saw yang Melakukan Isra Mikraj? Ini Penjelasan Ulama

Rajab menjadi bulan istimewa sebab ada suatu keajaiban supranatural yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw., yakni peristiwa Isra Mikraj. Isra secara etimologi berarti perjalanan yang dilakukan pada malam hari, sedang Mikraj adalah naik ke atas dengan tangga. Sedangkan secara terminologi, Isra adalah perjalan Nabi Muhammad Saw. pada malam hari, dimulai dari Mekah (Masjidil Haram) dan berakhir di Yerussalem (Masjidil Aqsa). Sedangkan, Mikraj berarti naiknya Nabi Muhammad ke Sidratulmuntaha.

Kronologi Isra Mikraj

Sebelum perjalanan Isra Mikraj, Nabi Muhammad ditimpa duka sebab ditinggal dua sanak keluarga yang amat dekat dengannya, yakni Khadijah dan Abu Thalib. Dua tokoh ini punya peran signifikan bagi dakwah Nabi di Mekah. Kesedihan menyelimuti hati Rasulullah Saw., sehingga pada hari itu disebut dengan yaumul huzn (hari kesedihan) yang dialami Rosulullah Saw.. Karena itulah Allah menghiburnya dengan Isra Mikraj.

Isra Mikraj terjadi pada tahun 621 M. Mengutip Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, terdapat hadis yang menceritakan kronologi Isra Mikraj. Diriwayatkan, dari Ummu Hani’ atau nama aslinya Hindun Binti Abu Thalib, dia berkata: pada suatu malam Rasulullah bermalam dirumahku. Setelah Salat akhir malam, Rasulullah tidur, begitu juga kami.

Menjelang fajar, Rasulullah membangunkan kami. Lalu, ia mendirikan salat jamaah. Beliau berkata: “wahai Ummu Hani’, setelah aku mendirikan salat akhir malam bersama kalian dilembah ini seperti yang engkau lihat, aku pergi ke Baitul Maqdis (Yerussalem) dan mendirikan shalat ditempat itu. Dan sekarang, aku mendirikan shalat fajar bersamamu seperti yang engkau lihat.”

Baca juga: Memasuki Bulan Rajab, Ini 5 Amalan yang Dianjurkan

Lantas Ummu Hani’ berkata: “ Wahai Nabi Allah, janganlah menceritakan ini kepada orang orang, karena mereka pasti akan mendustakanmu dan menyakitimu!”

Rasulullah menjawab: “Demi Allah aku akan menceritakan kepada mereka”

Begitu mulianya peristiwa tersebut sehingga Allah Swt mengabadikanya dalam Alquran Surah Alisra’ ayat 1:

سُبْحَنَ الَّذِى اَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاقْصَى الَّذِى بَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ اَيَتِنَا اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Maha suci (Allah), yang telah memperjalankan hambahnya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia maha mendengar, maha melihat.”

Ayat ini sangat mulia sebab didahului kata subhanallah (mahasuci Allah). Dalam tafsir Jalalain diterangkan bahwa lafaz tersebut disebut ai tanzih yakni suatu kesucian dan keagungan Allah yang telah memperjalankan hambahnya Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga sampai ke Sidratul Muntaha hanya dengan waktu semalam. (Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahali, Tafsir Jalalain, Jilid 1, 364).

Para ulama mengatakan bahwa ayat yang didahului lafaz subhanallah menunjukkan keagungan yang terkandung di dalam ayat tersebut. Ibnu Qayyim memberi penafsiran tentang mengapa dalam ayat ini menggunakan lafaz abdihi (hambahnya), bukan birasulihi (utusanya), atau binabiyyihi (nabinya). Menurutnya, lafaz biabdihi menunjukkan isyarat bahwa Nabi menempati derajat yang agung dengan segala kesempurnaan penghambaan untuk Tuhannya.(Tafsir Ibnu Qayyim, 751).

Bca juga: Tafsir Surah Attaubah Ayat 36: Kesunahan Puasa Rajab

Menyifati Nabi Muhammad Saw dengan biabdihi dalam ayat ini juga sebagai kemuliaan dan kedekatan Nabi Muhammad Saw. dengan Allah Swt..(Ibnu Qasim Muhammad bin Muhammad ibnu Juzai al kilbi al gharnathi, al-Tashil li ‘Ulum al-Tanzil, Jilid 1, 440).

Memperjalankan hambahnya dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsha dalam waktu semalam adalah suatu kemustahilan bagi nalar manusia. Akan tetapi jika Allah sudah berkehendak, tidak ada suatu yang mustahail baginya.

Beda pendapat soal ruh atau jasad Nabi yang Isra Mikraj

Dalam peristiwa Isra Mikraj ini terdapat berbagai pendapat dari para ulama kalam tentang dengan jasad atau ruh Rasulullah Saw yang Isra Mikraj. Akan tetapi, perbedaan pendapat tersebut tidak sampai menghilangkan kepercayaan dan kebenaran keberangkatan Rasulullah untuk Isra Mikraj.

Sebagian Ulama yang berpendapat bahwa Rasulullah Saw Isra Mikraj dengan ruh berpegang kepada keterangan Ummu Hani’ dan apa yang pernah disampaikan oleh Aisyah bahwa jasad Nabi Saw tidak hilang, tetapi Allah memperjalankan ruhnya saja.

Sama halnya dengan pendapat Muawwiyah bin Abi Sufyan bahwa Isra Mikraj hanyalah yang benar dari tuhan. Mereka berpegang kepada Firman Allah dalam Surah Alisra’ ayat 60. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, 269).

Berbeda dengan pendapat Mushtafa al-Sibai dalam kitabnya, Sirah Nabawiyyah, Durus walbar. Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. Isra Mikraj menggunakan ruh dan jasad, sebab di sana Nabi Saw langsung menerima perintah dari Allah berupa salat lima waktu.

Baca juga: Bulan Sya’ban Tiba, Begini Peristiwa Penting dan Amalannya dalam Al-Quran

Alasan lain bagi ulama yang berpendapat bahwa peristiwa Isra dengan jasad dan ruh Nabi Saw. adalah ketika kaum Quraisy yang mendengar kisah Isra dan orang yang sudah beriman juga menanyakan bukti kebenaranya. Rasulullah bercerita tentang adanya kafilah yang pernah dilaluinya ditengah jalan. Lalu ada seekor unta dari kafilah itu yang tersesat, kemudian Nabi menunjukkan jalan. Beliau juga pernah minum dari salah satu kafilah lain, dan setelah minum, beliau menutup bejana air itu. Kemudian, kedua kafilah itu membenarkan apa yang diceritakan Nabi. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, hal 280).

Sebagian orang berpendapat bahwa Isra Rasulullah Saw dengan jasad. Hal ini berpegang pada sabda Nabi Saw bahwa di tengah perjalanan beliau menyaksikan peristiwa di lembah ini dan itu. Sedangkan Mikrajnya menggunakan ruh.

Saya kira dengan jasad, ruh, atau keduanya, Nabi melakukan Isra Mikraj, tidak lantas menghalangi orang yang beriman untuk mempercayai peristiwa tersebut. Orang yang beriman maka semakin tambah imanya, orang yang tidak beriman tertutup oleh ketidakimanannya. Wallahu a’lam.[]

Abdullah Rafi
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...