Beranda Tafsir Tematik Beda Derajat Orang yang Berilmu dan Tidak Berilmu

Beda Derajat Orang yang Berilmu dan Tidak Berilmu

Agama Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Sebagai agama ilmiah nan mulia, Islam sangat mendorong sekali umatnya menjadi orang yang berilmu, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, terlebih seorang pendidik, guru, dosen, ustadz.

Bahkan mereka diklasifikasikan sebagai orang-orang yang ulul albab (orang yang berakal) dan beruntung baik di dunia maupun di akhirat. Derajat mereka tentu lebih tinggi bahkan tidak sama dengan mereka yang tidak berilmu, sebagaimana dalam firman-Nya surat az Zumar ayat 9;

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. az-Zumar [39]: 9)

Tafsir Surat az-Zumar Ayat 9

Al-Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menjelaskan asbabun nuzul ayat ini, menurut Ibnu Abi Hatim dari penuturan Ibnu Umar, ayat ini berkenaan dengan sahabat Utsman bin Affan. Sementara Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalur al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahwa orang yang dimaksudkan ialah Ammar bin Yasir. Adapun menurut Juwaibir dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, dan Salim mantan budak Abu Huzaifah.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini menurut ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Firas, dari as-Sya’by, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud yang dimaksud kata al-qanit adalah orang yang selalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Penafsiran yang lain datang dari al-Baghawy, ia menyebut al-qanit dengan al-muqim ala ath-tha’ah (senantiasa dalam keadaan taat). Ibnu Umar mengatakan al-qunut bermakna qiraatul qur’an wa thulul qiyam (membaca Alquran dan panjang berdirinya (beribadah di tengah malam)).

Sedangkan Ibnu Abbas, al-Hasan, al-Saddi, dan Ibnu Zaid menafsiri redaksi ana al-lail ialah tengah malam, yakni waktu tengah-tengah malam (jauf al-lail). Berbeda dengan mereka, al-Tsauri telah meriwayatkan dari Mansur yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah waktu malam yang terletak antara Magrib dan Isya’. Al-Hasan dan Qatadah menyebutkan waktu permulaan, pertengahan dan akhirnya.

Pada redaksi selanjutnya, yahdzarul aakhirata wa yarju rahmata rabbihi, Ibnu Katsir menafsirinya dengan dalam ibadahnya ia takut (khaaif) dan berharap (raja’) kepada Allah. Dan memang sepatutnya ibadah kepada-Nya dilakukan dengan seperti itu. Sedangkan al-Baghawy menafsirkan redaksi yahdzarul akhirah dengan yakhaful akhirah (takut kepada azab akhirat) dan yarju rahmata rabbihi seperti perbuatan yang dilakukan tanpa mengharap sesuatu alias tulus dan ikhlas.

Kalimat yang menyebut, “adakah sama orag yang tidak mengetahui dengan yang mengetahui?” Ulama ahli tafsir beragam dalam menafsirkan kalimat ini. Di antaranya, Abu Sa’ud al-‘Imady Muhammad bin Muhammad dalam Irsyad al-‘Aqli as-Salim ila Mazaya Kitab al-Karim mengatakan apakah sama orang-orang yang mengetahui hakikat segala sesuatu kemudian melakukan sesuatu sesuai pengetahuan yang dimilikinya sebagaimana orang yang bangun di tengah malam dibanding mereka yang tidak mengetahui hakikat sesuatu kemudian beramal dengan kebodohan dan kesesatan?

Maka, jawabannya jelas tidak sama. Sejalan dengan al-Imady, Ibnu Katsir mengatakan, apakah sama orang yang sebelumnya menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah?

Al-Zujaj memberikan pandangannya dalam Tafsir al-Qurthuby, bahwa tidak sama orang yang berada dalam ketaatan dengan mereka yang berada dalam kemaksiatan. Ia menambahkan tidak sama orang yang melakukan suatu amal yang didasari dengan ilmu dengan suatu amal yang dilakukan tanpa berdasar pada ilmu.

Maka, sesungguhnya orang yang mengetahui perbedaan di antara keduanya hanyalah orang yang mempunyai akal, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Pungkas ayat ini.

Beda Derajat Orang Berilmu dan Tidak Berilmu

Kedudukan orang yang berilmu, orang yang taat berbeda dengan mereka yang tidak berilmu (bodoh) dan berada dalam kemaksiatan. Ayat di atas menyiratkan bahwa orang yang menghabiskan waktunya untuk berbuat taat kepada Allah dengan berbagai bentuk ketaatann didasarkan pada ilmu tidak sama dengan mereka yang hanya menuruti hawa nafsunya. Mereka memiliki kedudukan lebih tinggi dan mulia ketimbang yang senantiasa berbuat kemaksiatan dalam hidupnya.

Mengutip Kiai Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim menjelaskan selisih derajat ulama dibandingkan orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sahabat Ibnu Abbas, “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.”

Ini belum dibandingkan dengan derajat orang yang senantiasa bermaksiat dan berada dalam kesesatan, tentu perbedaannya cukup signifikan. Sungguh, barang siapa yang beramal tanpa didasari dengan ilmu, maka tertolak. Semoga spirit pendidikan yang terkandung dalam ayat di atas, mampu kita praktikkan dengan menuntut ilmu sepanjang hayat serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

qiraat al-quran

Mimpi Imam Hamzah dan Kemuliaan Penjaga Alquran

0
Salah satu di antara imam qiraah yang mutawatir adalah Imam Hamzah. Beliau lahir di Kuffah pada tahun 80 H. Bernama lengkap Hamzah bin Habib...