BerandaTafsir TematikBerikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Salah satu ayat Al-Quran yang memerintah senantiasa beristikamah di jalan Allah yaitu QS. Fushshilat [41]: 6:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya (istikamah) dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Ad beberapa hal penting yang disampaikan oleh Allah di dalam ayat di atas, yaitu:

  1. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa, seperti umatnya. Yang membedakan beliau dengan umatnya hanya satu, yaitu beliau diberi wahyu oleh Allah Swt.
  2. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah Swt, Tuhan umatnya juga adalah Allah Swt., dan Tuhan seluruh umat manusia adalah Allah Swt. Karena, Dialah yang pantas disembah.
  3. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk memerintahkan kepada seluruh umatnya agar menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu, dan tetap senantiasa berada di jalan-Nya, jalan yang lurus. Jika umat melakukan yang demikian, maka mereka menjadi manusia yang beruntung.
  4. Allah menyatakan di dalam ayat ini bahwa kecelakaan yang sangat besar bagi manusia yang menyekutukan Allah dan tidak berada di jalan-Nya.

Baca Juga: Apa Saja Jaminan Allah dalam Al-Quran untuk Mereka yang Istikamah?

Sikap istikamah dari seseorang, bisa jadi tinggi pada saat tertentu, boleh jadi berada pada tingkat menengah pada saat tertentu, dan pada saat yang lain bisa rendah. Menjaga sikap istikamah agar tetap stabil pada tingkat yang sangat tinggi memang berat. Untuk menstabilkan sikap istikamah itu, perlu ada upaya-upaya yang dilakukan oleh setiap orang. Berikut tips beristikamah sekaligus hal-hal yang melemahkannya.

Penyebab rendahnya istikamah

Istikamah seseorang bisa menjadi meningkat, dan bisa juga menjadi lemah atau rendah. Hal-hal yang menyebabkan rendahnya istikamah di dalam diri seseorang ialah:

  1. Rendahnya kadar keimanan kepada Allah. Kadar iman yang rendah dapat menjadikan istikamah itu menjadi rendah. Sebaliknya, kadar iman yang kuat akan mendorong istikamah itu menjadi kuat. Ini berarti bahwa pada saat tertentu istikamah bisa menjadi kuat dan pada saat yang lain istikamah menjadi rendah.
  2. Rendahnya komitmen untuk menerima semua anugerah Allah, baik anugerah yang baik dalam bentuk nikmat maupun anugerah yang tidak menyenangkan dalam bentuk ujian dan cobaan Allah. Komitmen untuk menerima semua anugerah Allah akan menyebabkan kadar istikamah seseorang menjadi kuat. Karena itu, terima dengan tulus dan ikhlas apa ayang telah dianugerahkan Allah kepadamu.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan. Pengetahuan yang banyak tentang kedua hal itu, akan mendorong seseorang untuk lebih meningkatkan sikap istikamahnya. Karena itu, kita harus belajar terus tentang kebaikan dan keburukan. Kebaikan yang ada dalam pengetahuan kita harus kita amalkan. Keburukan yang ada di dalam pengetahuan harus kita hindari.
  4. Tidak bergaul dengan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah. Bergaullah dengan para ulama dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah, agar kita dapat meneladani mereka.
  5. Tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat duniawi, sehingga melalaikan kenikmatan akhirat yang hakiki dan kekal abadi. Hati-hatilah dengan kenikmatan yang  diperoleh. Semua kenikmatan akan memudahkan seseorang untuk melupakan Pemberi nikmat. Kenikmatan yang hakiki, yaitu kenikmatan di alam akhirat harus kita perhatikan dengan melakukan amal yang terbaik.
  6. Mudah terpengaruh oleh keadaan, tanpa mempertimbangkan keuntungan yang lebih bermanfaat bagi dirinya. Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan yang ada di sekeliling kita. Orang yang mudah terpengaruh oleh keadaan akan menyebabkan rendahnya tingkat istikamahnya.

Baca Juga: Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

Tips beristikamah

Sementara itu, agar seseorang senantiasa memiliki sifat istikamah, maka ia harus melakukan berbagai hal, di antara tips beristikamah sebagai berikut:

  1. Tingkatkan iman dengan senantiasa berzikir kepada Allah. Sebab, zikir akan meningkatkan iman. Orang yang kurang berzikir kepada Allah, imannya menurun. Orang yang tidak pernah berzikir, dapat dipastikan imannya berada pada titik nadir, yang sangat rendah.
  2. Tingkatkan ilmu dengan senantiasa mencari dan menuntutnya. Ilmu yang bertambah akan membuat wawasan seseorang menjadi bertambah luas dan dalam. Ilmulah yang mengantarkan seseorang dapat memahami, mendalami, dan menghayati sesuatu. Orang yang rendah ilmunya, pemahaman, penghayatan, dan pendalamannya menjadi berkurang.
  3. Tingkatkan amal dengan melaksanakan berbagai perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunat. Amalan yang wajib membuat kita bertambah cinta kepada Allah, dan amal yang sunat akan membuat kita dicintai oleh Allah. Bertambah banyak dan istikamah seseorang melakukan amal wajib, maka cinta kepada Allah bertambah kuat. Bertambah banyak seseorang melaksanakan amal sunat, maka cinta Allah pun akan bertambah kepadanya. Seseorang meningkatkan amal sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya.
  4. Perbanyak berzikir kepada Allah, dengan melaksanakan berbagai macam amal saleh, baik amal badaniah, seperti salat, amal batiniyah (nafsiyah) seperti puasa, amal lisaniah, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, dan amal qalbiah, dengan zikir sirri. Berzikir membuat hatimu menjadi tenang dan tidak gampang berbalik.
  5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh merupakan obat penyubur bagi hati untuk istikamah. Amal saleh itu akan melahirkan kebaikan bagi diri sendiri, kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan bagi Tuhannya. Kesalihan yang dilakukan seseorang akan menjadikan hatinya menjadi stabil, tidak mudah terombang-ambing.
  6. Jangan mudah terpancing dengan godaan yang hanya bersifat duniawi, bersifat sesaat. Pancingan yang mengarah kepada keduniaan begitu banyak, datang dari segala sisi, dari atas, dari depan, belakang, dari arah kanan juga arah kiri. Pancingan itu datang dari berbagai pihak, dari hawa nafsu kita  sendiri, dari orang lain yang ada di sekitar kita, dari barang-barang yang menyilaukan kita, dan dari setan yang senantiasa menggoda.
  7. Kuatkan komitmen bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan dunia kekal abadi. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya sesaat dan sebentar. Gunakan kesempatan sesaat itu beramal untuk akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi, tidak ada ujungnya. Kebahagiaan akhirnya akan dapat diraih, jika kita melakukan kebaikan-kebaikan ketika masih berada di dunia ini.
  8. Bergaullah dengan orang yang berilmu dan yang memiliki sifat istikamah. Bersama dengan orang-orang yang berilmu, akan menyebabkan seseorang dapat menimba ilmunya, dan dengan cara ini ia mendapat keberkatan. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat istikamah akan membuat seseorang mendapat keteladanan darinya. Keteladanan yang baik hanya didapat dari orang-orang yang baik.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Iman yang kuat akan menguatkan istikamahmu. Iman yang rendah akan menurunkan istikamahmu. Perkuatlah imanmu dengan banyak berzikir. Kekuatan iman, ilmu, amal dan dzikirmu memperkuat istikamahmu. Kelemahan iman, ilmu, amal dan zikirmu melemahkan istikamahmu.

Ahmad Thib Raya
Ahmad Thib Raya
Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran (PSQ)
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

pandangan imam al-Ghazali tentang musik dan nyanyian

Pandangan Imam al-Ghazali Mengenai Musik dan Nyanyian

0
Akhir-akhir ini, tengah ramai diperbincangkan mengenai halal-haramnya musik. Hal ini bermula dari penjelasan ust. Adi Hidayat mengenai asy-Syu’ara yang dimaknai sebagai para pemusik, yang...