Beranda Tafsir Tematik Etika Kritik Terhadap Penguasa Ala Nabi Musa

Etika Kritik Terhadap Penguasa Ala Nabi Musa

Pada jumat 2 September 2022 ditengah fenomena kenaikan harga BBM yang dibarengi dengan demontrasi mahasiswa, terdapat satu situasi yang tidak mengenakan dari salah satu demonstran yang cukup ramai di jagat maya. Kritik dan demonstrasi yang disampaikan memuat penyebutan Presiden Republik Indonesia dengan kata yang tidak semestinya.

Indonesia merupakan negara demokrasi, ditandai dengan adanya kebebasan berpendapat. Namun tidak baik dan kurang etis rasanya ketika pendapat dan kritik tersebut bermuatan ujaran kebencian dan disampaikan dengan narasi yang tidak beretika. Terlebih lagi yang menyampaikan narasi kritik tersebut ialah seorang mahasiswa, sebagai insan terpelajar dan berjiwa akademis.

Sikap kritis atas fenomena diatas secara tidak langsung telah lepas dari Islam yang damai dan beradab. Pesan tersebut telah tersampaikan dalam Alquran “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik ….” (QS. An-Nahl [16] ;125)

Baca Juga: Fenomena Zakat Profesi dan Nasihat Berinfak Q.S. Albaqarah: 43

Pada dasaranya kritik ataupun menyampaikan pesan diperbolehkan, terlebih di negara demokrasi. Mengenai kebolehan tersebut, Ibnu Taimiyah menegaskan dengan beberapa ketentuan “wajib bagi setiap orang yang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran berlaku ikhlas tindakannya dan murni taat kepada Allah. Kedua, mengkritik harus dibarengi dengan ilmu atau mempunyai kompetensi di bidangnya. Ketiga, sampaikan dengan kelembutan dan santun.

Yang dikatakan Ibnu Taimiyah diatas selaras dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Harun. kedua nabi tersebut, dalam QS. Thaha ayat 44 digambarkan penuh dengan kelembutan dan santun, meskipun dengan raja yang dzalim sekaligus penguasa/pemerintah yang kejahatannya diabadikan dalam, yaitu Fira’un.

Allah Swt berfirman dalam QS. Thaha ayat 44.

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha [20]; 44)

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa prinsip berkata lemah lembut seharusnya menjadi poin penting yang harus dipegang dalam berkomunikasi, dengan ucapan yang tidak menyakiti hati sasaran kritik. Perkataan yang disampaikan juga harus tepat tidak hanya dalam kandungannya, namun juga waktu, tempat serta susunan kata yang tidak bermuatan makian.

Karena itu, dijelaskan dalam Tafsir Tematik Kementerian Agama RI  tentang Komunikasi dan Informasi, bahwa dalam istilah Arab komunikasi dikenal dengan al-i‘lam, sepadan dengan kata ‘ilm (ilmu) dan ta‘lim yang memang memiliki fungsi informasi, edukasi dan persuasif (Kemenag, 2009).

Qaullan layyina yang ada pada ayat diatas, dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwasannya pesan dakwah atau komunikasi antara Musa dan Harun dalam prosesnya diperintahkan menggunakan narasi yang lemah lembut dan santun. Hal tersebut dikarenakan agar terkesan menggugah perasaan sasaran komukasi atau kritik serta tercapai hasil yang baik.

Terdapat hal yang menarik, kenapa komunikasi Nabi Musa menggunakan Pendekatan Qaulan Layyina? Padahal jika dilihat lawan komunikasi atau penerima pesan ialah raja yang jahat dan zalim pada masanya, namun tetap lemah lembut ketika berinteraksi.

Menurut ar-Razi, terdapat beberapa sebab, terlepas dari Nabi Musa pernah dididik dan dihudi dari bayi sampai dewasa. Melalui pendekatan qaullan layyina atau lemah lembut biasanya seorang penguasa yang zalim akan cenderung lebih kasar dan merasa ada perlakuan yang tidak dihormati, menurut raja/penguasa tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surah Alhadid Ayat 23: Ciri-Ciri Zuhud

Sebagai khatimah, dapat diambil pelajaran Bersama bahwa ketika hendak berkomukasi termasuk kritik, comment, debat sekalipun penting memahami dalam penggunaan narasi ucapan yang santun dan lemah lembut. Dari sini terlihat bahwasannya Islam mempunyai etika ketika berkomunikasi.

Model dan nasehat nabi Musa diatas yang sejatinya harus dipahami dan diaktualisasikan dalam proses berkomunikasi termasuk dalam mengkritisi pemerintah. Narasi-narasi bermuatan ujaran kebencian dan makian sebisa mungkin dihindarkan.  Pesan Alquran tersebut tiada lain agar tercipta hubungan yang baik dan harmonis antara penerima dan penyampain pesan dan poin-poin yang menjadi urgensitas dalam pesan tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan dipahami. Wallahu A’lam.

Khabib Musthofa
Praktisi Perbankan Syariah, Peminat kajian Studi Islam dan Ekonomi Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dhalla Tidak Hanya Bermakna ‘Sesat’, Simak Penjelasannya

0
Makna dhalla dalam Alquran tidak selalu diartikan sesat, tersesat atau menyimpang dari jalan yang benar. (Ar-Raghib al-Asfahani, Kamus al-Qur’an, Jilid 2, ,545). Ia selalu...