BerandaTokoh TafsirIbnu Athiyyah, Mufasir Al-Quran dari Granada Spanyol

Ibnu Athiyyah, Mufasir Al-Quran dari Granada Spanyol

Kegemilangan Islam di Andalusia (sekarang Spanyol) telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peradaban dan pemikiran Islam. Hal ini dibuktikan dengan kemajuan dalam bidang keilmuan baik sains maupun agama. Banyak para ilmuwan filsuf dan ahli tafsir yang lahir dari rahim Islam di Andalusia, salah satunya adalah Ibnu Athiyyah.

Ibnu Athiyyah adalah seorang ahli tafsir Al-Quran yang lahir dari peradaban Islam di Granada, Andalusia. Ia mempunyai satu karya terbesar di bidang tafsir yaitu Tafsir al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz. Tafsir ini menjadi salah satu rujukan kelompok Aswaja dalam kajian tafsir. Berikut penjelasan biografi Ibnu Athiyyah, kiprah, dan karya-karyanya.

Biografi Ibnu Athiyyah

Sebelum mengemukakan lebih jauh terkait biografi Ibnu Athiyyah, perlu ditegaskan bahwa Ibnu Athiyyah yang dimaksud dalam artikel ini ialah orang Andalusia bukan orang Damaskus (al-Dimasyqi). Ibnu Athiyyah bernama lengkap Abu Muhammad ‘Abd al-Haqq bin Galib bin ‘Abdurrahman bin Ghalib bin ‘Abd al-Rauf bin Tamam bin ‘Abd Allah bin Tamam bin Athiyyah bin Khalid bin Athiyyah al-Muharibi al-Dakhil (Abdul Wahab Fayid, Manhaj Ibnu Athiyyah fi Tafsir al-Quran al-Karim).

Terkait nasab beliau, terdapat khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama sebagaimana diungkapkan oleh Al-Rahalliy al-Faruq, et.al dalam al-Ta’rif bi al-Muallif dalam Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz. Syamuddin al-Dzahaby misalnya, Abdurrahman bin Ghalib bin Tammam bin Athiyyah. Sedangkan al-Suyuthi mengatakann Abdul Malik bin Ghalib bin Tamam bin Athiyah. Bahkan versi Syamsuddin al-Dawudi lebih panjang Abdurrahman bin Abdul Rauf bin Tammam bin Abdullah bin Tammam bin Athiyyah. Dengan demikian, nama Athiyyah bukan nama ayahnya melainkan kakeknya.

Ibnu Athiyyah lahir di Granad, Spanyol pada penghujung abad ke-5 atau 481 H pada masa awal pemerintahan Bani Murobitin. Bani Murobitin atau Dinasti Murobitun adalah produk politik dalam sejarah Islam Andalusia bersama Dinasti Muwahhidun. Ia wafat pada 25 Ramadhan 541 H di Lorca (Luraqah Andalusia), Murcia, Spanyol (Abu al-Hasan ‘Ali bin Abd Allah bin al-Hasan al-Nabahy, Tarikh Qudhah al-Andalus dan al-Hafidz Syams al-Din Muhammad bin Ahmad al-Dawudiy, Thabaqat al-Mufassirin dan Hasan Yunus Abidu, Dirasah wa Mabahits fi Tarikh al-Tafsir wa Manahij al-Mufassirin dan Muhammad Syakir al-Katbi, Fawat al-Wafayat wa al-Dzayl ‘alaiha).

Beliau hidup di lingkungan keluarga akademis dan agamis sebagaimana disampaikan Abd Wahhab Fayid dalam Manhaj Ibnu Athiyyah. Ayahnya merupakan ulama besar pada masanya, yakni Al-Imam al-Hafidz Abu Bakr Ghalib bin ‘Athiyyah. Ia adalah keturunan Arab dari Bani ‘Athiyyah. Kakenya adalah seorang pejuang yang membebaskan Andalusia bersama Tariq bin Ziyad.

Sejak kecil Ibnu ‘Athiyyah memang dididik untuk mencintai ilmu. Maka tak heran, jika ia banyak melakukah rihlah intelektual (rihlah ilmiyyah) dan nyantri kepada para berbagai ulama (Ibnu Farhun, al-Dibaj al-Muhadzab dan al-Dzahaby, Al-Tafsir wa al-Mufassirun).

Abd Wahhab Fayid mennyampaikan bahwa ada dua hal esensial yang sangat berpengaruh terhadap Ibnu ‘Athiyyah sehingga menjadikannya ulama besar, yaitu nasab dan lingkungan keluarga ilmiah serta kecerdasan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu. Selain itu penguasaan berbagai disiplin keilmuannya semakin melengkapi dirinya sebagai seorang pakar.

Perjalanan Intelektual

Sebagaimana tradisi para ulama, Ibnu Athiyyah juga berkunjung ke berbagai wilayah untuk menimba ilmu, seperti fikih, hadits, qiraat, tafsir dan bahasa. Tercatat ada berbagai daerah yang dikunjunginya yaitu Cordoba, Murcia, Valencia, dan Sevilla. Ibnu Athiyyah juga seorang Malikiyah dan qadhi (hakim) di daerah Almeria, Andalusia.

Fayid mengutip al-Fahrasat, karya Ibnu Athiyyah bahwa ada 30 orang guru Ibnu Athiyyah, 7 orang di antaranya sangat mendominasi pemikiran Ibnu Athiyyah, yakni (1) ayahnya sendiri, seorang ahli hadits; (2) Abu Ali al-Husain bin Muhammad al-Gasaani (427-498 H/ 1035-1104 M), ahli hadits; (3) Abu Ali al-Husain bin Muhammad al-Shadafy (w. 514 H); (4) bu al-Hasan Aliy bin Ahmad bin Khalaf al-Anshariy atau Ibnu al-Badzis (444-528 H/ 1052-1133 M), ahli bahasa dan qiraaat;

(5) Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad bin Itab al-Qurthuby, ahli fiqih, qiraat dan tafsir; (6) Abu Bahr Sufyann bin al-Ashi’ bin Ahmad al-Asadi, ahli fiqih; (7) Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ali bin Abdul Aziz bin Hamadin al-Taglabi, ahli fiqih dan sastra Arab.

Dari latar belakang kepakaran guru-gurunya sangat membentuk kepribadian Ibnu Athiyyah dan pemikirannya sebagai ulama yang menguasai di berbagai disiplin keilmuan (ahli tafsir, hadits, fiqih, qiraat, bahasa dan sastra Arab). Selain mewarisi keilmuan guru-gurunya, ia juga memiliki banyak murid yang terkenal di antaranya,

Al-Hafidz al-Tsiqah Abu Bakr Muhammad bin Khair bin Umar al-Isybilli (w. 575 H/ 1179 M), al-Imam al-Faqih Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abdul Malik bin Abi Jamrah al-Mursiy (w. 599 H/ 1202 M), al-Imam al-Hafidz Abu Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah al-Anshariy atau dikenal dengan Ibnu Hubaysy (w. 584 H/ 1188 M), al-Imam al-Faylasuf Abu Bakr Muhammad bin Abd al-Malik bin Thufayl al-Qaysiy (w. 581 H/ 1185 M) atau dikenal Ibnu Thufayl, al-Imam al-‘Alim al-Tsiqah Abu Ja’far Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Madha al-Nakhamiy al-Qurthubiy (w. 592 H/ 1195 M).

Karya-karya

Ibnu Athiyyah merupakan ulama produktif yang banyak menghasilkan karya, akan tetapi yang sampai kepada kita atau generasi sekarang hanya tiga buah karya, yaitu Tafsir Al-Muharrar al-Wajiz, Al-Ansab fi al-I’tiqad ‘ala Iqtibas al-Anwar wa al-Tamas al-Azhar fi Ansab al-Shahabah li al-Rasyathi dan Al-Fahrasat fi Kitab al-Tarajim al-Andalusiyah. Bahkan konon, penulisan karya terbesarnya al-Muharrar dimulainya sejak belia. Sungguh luar biasa. Ia seringkali dibangunkan ayahnya 2 kali dalam semalam untuk menulis. Semangat menulis ilmiahnya sudah dipupuk sejak dini oleh keluarganya. Sebuah hal yang patut diteladani bagi keluarga di era kekinian.

Kesan Para Ulama

Beliau juga mendapat pujian dari berbagai ulama akan ke’aliman dan kepakarannya. Az-Zahaby dalan Siyaar ‘Alam al-Nubala menyebut beliau sebagai imam al-‘Allamah, Imam dalam fiqih, tafsir, bahasa Arab, mufassirin, pintar, cerdas. Senada dengan al-Zahaby, Ibnu Furhun dalam al-Dibaj al-Mudzhib dan Ibn Basykuwaal dalam al-Shilah menyematkan mutafannin fi al-ulum (pakar dalam berbagai ilmu) dan waasi’ al-ma’rifah (luas cakrawala pandang).

Ibnu ‘Athiyyah adalah orang yang cerdas, rajin dan cinta akan ilmu pengetahuan. Karena itulah, ia senang berkelana ilmiah mendatangi guru-guru atau ulama di beberapa kota besar di wilayah Andalusia sebagaimana penjelasan di muka. Ibnu Athiyyah merupakan mu’awwil al-Asy’ari (orang yang suka mena’wil ayat dan berpaham Asy’ari).

Kelahiran tafsir al-Muharrar menjadi penting sebab dibuktikan dengan kemunculan beberapa tafsir di Barat setelahnya, seperti Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Ibnu Hayyan, Tafsir Jami’ al-Ahkam karya Imam al-Qurthuby dan Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Quran karya al-Sa’alabi di Maghrib (Maroko). Sebagai tafsir yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita perlu untuk mempelajarinya untuk menambah wawasan dalam beragamal. Wallahu A’lam.

Miatul Qudsia
Miatul Qudsia
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...