Beranda Tokoh Tafsir Inilah 2 Ulama Ahli Quran Tunanetra Penuh Karisma

Inilah 2 Ulama Ahli Quran Tunanetra Penuh Karisma

Di antara nikmat Allah yang jarang disadari oleh manusia adalah nikmat penglihatan. Melalui kedua matanya, manusia dapat melihat, mengamati, lalu mencerna segala sesuatu di sekitarnya. Bahkan karena besarnya kenikmatan penglihatan ini, di akhirat kelak, Allah akan meminta pertanggungjawaban untuk penggunaannya selama di dunia. Hal ini seperti disebutkan dalam surah Al-Isra ayat 36:

إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦ …

… Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Akan tetapi, ada beberapa orang yang diuji oleh Allah dengan cara dihilangkan kemampuan penglihatannya. Hal tersebut membuatnya tidak mampu melihat, baik secara keseluruhan maupun sebagian saja karena dibantu alat bantu penglihatan. Kondisi yang demikian disebut juga dengan istilah ‘tunanetra’.

Baca Juga: Proses Panjang Standarisasi Mushaf Braille di Indonesia

Meskipun demikian, di balik musibah tunanetra tersebut, ada orang-orang yang diberi anugerah oleh Allah berupa kecerdasan akal pikiran yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah beberapa ulama Ahli Quran tunanetra yang mempunyai reputasi luar biasa dalam menjaga dan membumikan orisinalitas Al-Quran.

Di antara mereka bahkan ada yang ditimpa ‘kebutaan’ sejak lahir. Namun, hal itu tidak membuat mereka kesulitan dalam menghafalkan Al-Quran, bahkan dapat menghasilkan karya-karya hebat dalam khazanah keilmuuan Al-Quran. Di antara ulama Ahli Quran tunanetra penuh karisma tersebut adalah Imam Al-Syatibi (538-590 H) dan Imam Ibnu Katsir (700-744 H).

Imam Al-Syatibi (w.590 H)

Ulama Ahli Quran tunanetra ini adalah penulis Qasidah Syatibiyyah bernama lengkap Al-Qasim bin Fyrruh bin Khalaf bin Ahmad Al-Andalusi Al-Syatibi. Dikenal dengan ahli ibadah dan ahli zuhud. Imam Al-Syatibi juga terkenal hemat dalam berbicara, kecuali hal-hal yang penting dan ada manfaatnya. Ia  lahir di kota Syatibah (Xativa), Andalusia (Spanyol) pada tahun 538 H.

Ulama kenamaan dalam Ilmu Qira’at ini ternyata telah diuji oleh Allah sejak dilahirkan. Pengelihatannya diambil oleh Allah swt. Faktor inilah yang membuatnya  dijuluki dengan sebutan Al-Dharir (yang buta). Meskipun demikian, Imam Al-Syatibi berhasil menguasai berbagai bidang ilmu keislaman, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Sastra Arab, hingga yang paling menonjol adalah Ilmu Qira’at. Ia rela mengembara ke negara-negara lain dalam rangka menimba ilmu dari ulama-ulama terkemuka, seperti Abu Abdillah Muhammad bin Abi Al-As Al-Nafzi di bidang Ilmu Qira’at dan Abu Tahir Al-Silafi di bidang Hadis.

Dengan kecerdasan yang dimiliki, Imam Al-Syatibi berhasil membuahkan karya-karya fenomenal. Karya-karyanya ini mendapatkan apresiasi dari para ulama semasanya maupun setelahnya. Karyanya yang paling monumental dan memberikan inovasi terbaru dalam kajian Ilmu Qira’at adalah Hirz Al-Amani wa Wajh Al-Tahani fi Al-Qira’at Al-Sab’ Al-Matsani, yang kebih dikenal dengan Matan Syatibi. Melalui karya inilah, Imam Al-Syatibi mencurahkan pemikirannya tentang Ilmu Qira’at Al-Qur’an. Murid-muridnya, bahkan ulama dan cendikiawan Ilmu Qira’at masa kini pun masih menjadikannya sebagai kitab rujukan.

Oleh karena itu, meski dengan penglihatan yang terbatas, Imam Al-Syatibi tidak pernah lelah untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan tetap mensyukuri segala nikmat-Nya. Rasa syukur tersebut dibuktikan melalui semangatnya dalam mencari dan mendalami ilmu-ilmu agama. Hingga akhirnya ia berhasil menjadi seorang ulama ternama Ahli Al-Quran, khususnya di bidang Ilmu Qira’at Al-Quran.

Imam Al-Syatibi wafat pada hari Ahad 28 Jumadil Akhir tahun 590 H. Makamnya terletak di tempat pemakaman ‘Qurafah’ di Kairo, Mesir.

Imam Ibnu Katsir (w.744 H)

Ulama Ahli Quran tunanetra lainnya yang berkontribusi besar dalam kajian Ilmu Al-Qur’an adalah Imam Ibnu Katsir. Mufti sekaligus mufassir tersohor ini memiliki nama lengkap ‘Imaduddin Abu Al-Fida’ Ismail bin Amr bin Katsir bin Dhau’ bin Katsir Al-Bashri Al-Dimasyqi. Lahir pada tahun 700 H, mufassir kenamaan ini telah hidup mandiri sejak kecil karena ditinggal wafat oleh ayahnya.

Dalam Al-Durar Al-Kaminah fi A‘yan Al-Mi’at Al-Tsaminah, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) menjelaskan bahwa, Imam Ibnu Katsir kehilangan penglihatannya pada akhir hayat beliau. Keterangan ini juga disebutkan oleh Muhammad Husain Al-Dzahabi dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun. Beliau wafat di bulan Sya’ban tahun 774 H dan dimakamkan di pemakaman sufi bersama salah satu guru beliau, Ibnu Taimiyah.

Ibnu Katsir telah mendedikasikan sebagian hidupnya untuk belajar berbagai disiplin ilmu keislaman kepada ulama-ulama terkenal, seperti tafsir, fiqih, hadis, sejarah, dan lain sebagainya. Kepiawaiannya dalam menguasai ilmu-ilmu ini membuatnya berhasil melahirkan karya-karya fenomenal yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Salah satu karya fenomenal tersebut adalah di bidang tafsir, yakni Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Tafsir terkemuka ini digadang-gadang sebagai salah satu tafsir bil ma‘tsur terbaik setelah tafsir Al-Tabari.  Dengan berbagai karakteristiknya yang menonjol, tafsir bil ma‘tsur ini kemudian menjadi perantara Imam Ibnu Katsir menjadi seorang Ahli Quran yang masyhur di kancah dunia Islam. Karya lainnya yang terkenal adalah Al-Bidayah wa Al-Nihayah, yang menjadi rujukan umat dalam bidang sejarah kemanusiaan.

Baca Juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Dengan demikian, cobaan ‘kebutaan’ yang menimpa Ibnu Katsir di akhir-akhir masa hidupnya, tidak menghalangi beliau untuk tetap berkarya dalam upaya menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran, khususnya Ilmu Tafsir. Melalui tafsirnya yang monumenal, kajian tafsir terus mengalami perkembangan, bahkan telah bermunculan mufassir-mufassir lain yang tetap berkiblat kepada penafsirannya.

Itulah dua potret ulama Ahlu Quran tunanetra yang penuh karisma. Dengan segala ketebatasan yang ada, mereka tetap mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam kajian Ilmu Al-Qur’an hingga mampu menghasilkan karya-karya terbaik yang fenomenal dan menjadi rujukan umat Islam hingga sekarang. Oleh karena itu, sebagai generasi selanjutnya yang masih terus belajar, kita harus mampu meneladani beliau yang tetap semangat bergumul dengan ilmu-ilmu islam walaupun telah dicabut nikmat penglihatannya. Wallahu A’lam.

Azkiyatuttahiyah
Alumni Ma’had Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Indonesia dan Magister Ilmu Al-Qur’an & Tafsir Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...