Beranda Kisah Al Quran Inilah Beberapa Perempuan yang Disinggung dalam Al-Quran

Inilah Beberapa Perempuan yang Disinggung dalam Al-Quran

Terdapat beberapa perempuan yang disinggung dalam Al-Quran. Di antara para perempuan ini ada pengaruh dalam sejarah peradaban di antaranya Maryam dan Ratu Balqis. Artikel ini akan mengulas beberapa nama yang berkaitan erat dengan ayat-ayat al-Quran.

Asiyah Bint Muhazim dan Hawa

Satu dari sekian perempuan yang disinggung dalam Al-Quran adalah Asiyah Bint Muhazim, wanita ini tidak disebutkan namanya secara implisit oleh Al-Quran, hanya menggunakan ungkapan “istri fir’aun” (QS. Al-Qashash [28]: ayat 9, QS. Al-Tahrim [66] ayat 11). Asiyah adalah salah satu wanita yang dijanjikan surga oleh Allah Swt. sebagaimana dalam riwayat Aisyah Ra. Bahwa “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah Binti Rasulullah, Khadijah Binti Khuwailid, dan Asiyah”.

Mengapa Asiyah menjadi perempuan yang disinggung dalam al-Quran dan dijamin masuk surga? Dalam sebuah keterangan dikatakan bahwa Asiyah adalah sosok perempuan yang sangat setia, terutama terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa As.  Meskipun ia menjadi istri fir’aun. Bahkan sampai ia wafat karena disiksa oleh Fir’aun yang memaksa Asiyah untuk mengakui Fir’aun sebagai Tuhan.

Perempuan yang disinggung dalam Al-Quran selain Asiyah adalah  Hawa (QS. Al-Nisa: [4] ayat 1).  Ia adalah sosok yang sangat setia menemani Nabi Adam. Saat mereka merasakan kebahagian ketika mereka berada di Surga, hingga merasakan penderitaan saat mereka diturunkan ke muka Bumi oleh Allah Swt.

Usai diusir dari surga Nabi Adam (QS. Al-A’raf: [7] 18) terpisah dengan Siti Hawa, terdapat perbedaan riwayat terkait daerah diturunkannya Adam dan Hawa. Dalam sebuah riwayat Ibnu Haitam dari Al-Saddi, ia berkata Adam turun di India, sedangkan Hawa di Jeddah. Dalam waktu yang lama mereka akhirnya dipertemukan kembali di Jabal Rahmah (bukit cinta) yang berada di padang Arafah. Akhirnya mereka berdua hidup bahagia dengan dikaruniai keturunan yang banyak.

Maryam Bint Imran

Maryam adalah keturunan Imran, salah satu keluarga terbaik yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Kemulian Maryam digambarkan dalam Al-Qur’an Surah al-Tahrim ayat 12 dan Surah Ali-Imran ayat 42.

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).

Dalam tafsir Marah Labid dijelaskan bahwa ayat ini (QS. Ali Imran: [3] 42) menggambarkan kepribadian Maryam yang dikatakan oleh Malaikat Jibril, bahwa Ia adalah wanita yang taat dalam beribadah, memiliki sifat lemah-lembut, terbebas dari akhlak tercela (maksiat) serta gangguan para lelaki.

Oleh karena itu, namanya dicatat sebagai wanita yang mulia di sisi Allah Swt. bahkan dalam Shahih Bukhari dikatakan dari Ali Bin Abi Thalib bahwa Rasulullah bersada “sebai-baik wanita adalah Maryam dan Siti Khadijah”. Dari rahim Maryam-lah kemudian melahirkan Nabi Isa as.

Ratu Balqis    

Ratu Balqis atau Ratu Syeba merupakan sosok pemimpin wanita yang tangguh (QS. Al-Naml [27] ayat 23). Hal ini digambarkan dari kondisi kerajaan dan masyarakat yang di pimpinnya, mereka semua hidup makmur dan sejahtera. Keterangan ini dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa negeri Saba Allah sebutkan dalam Al-Qur’an sebagai negeri yang “baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur” yaitu negeri yang makmur dan mendapatkan ampunan dari Tuhan.

Maula Sari dalam artikelnya yang berjudul Tafsir QS. Al-Naml Ayat 23 memberikan catatan bahwa Ratu Balqis dan rakyatnya tidak menutup dirinya dengan kebenaran dakwah yang dibawa oleh Nabi Sulaiman. Menunjukkan bahwa ia merupakan sosok pemimpin yang mengantarkan rakyatnya menuju jalan kebenaran agar menyembah Allah Swt.

Istri Nabi Nuh dan Istri Nabi Luth

Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan bahwa Istri Nabi Nuh bernama walihah, sedangkan Istri Luth bernama wali’ah. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li ahkamil Qur’an)

Istri Nabi Luth dan Nabi Nuh ini, melakukan pengkhianatan terhadap agama. Dikisahkan bahwa istri Nabi Luth menyerukan maksiat kepada para tamu Nabi Luth, sedangkan Istri Nabi Nuh menyebarkan propaganda kepada masyarakat bahwa suaminya gila. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa mereka adalah dua orang yang munafik, di depan suaminya bersikap baik tetapi di belakang suaminya mereka menyebarkan fitnah, selain mengkhianati Nabi Luth dan Nabi Nuh, mereka juga mengkhianati Allah Swt.

Dari kisah para perempuan yang disinggung dalam Al-Quran, kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) sebagaimana dijelaskan dalam QS. Yusuf ayat 111

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” Wallahu A’lam.

Andy Rosyidin
Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC), Mojokerto. Alumni Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Alumni PP. LSQ Ar-Rahmah, Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hikmah dalam Polemik Rumah Tangga Zayd bin Haritsah dan Zainab binti Jahsyi

Hikmah dalam Polemik Rumah Tangga Zayd bin Haritsah dan Zainab binti...

0
Zayd bin Haritsah adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang istimewa, karena dia adalah satu-satunya sahabat Nabi yang namanya disebut secara eksplisit dalam...