Beranda Tafsir Tematik Kajian Semantik Kata Membaca dan Konteksnya dalam Al-Quran

Kajian Semantik Kata Membaca dan Konteksnya dalam Al-Quran

Membaca merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat terlepaskan bagi sebagian manusia. Setiap waktunya seseorang akan merangkai segala bentuk tulisan di hadapannya baik secara sengaja ataupun tidak untuk dibaca. Baik tulisan yang secara nyata berbentuk rangkaian huruf ataupun simbol-simbol yang hadir di mata. Hal itu menandakan bahwa membaca telah menjadi sebagian rutinitas setiap orang di muka bui ini.

Budaya baca kini pun telah digaungkan oleh sebagian para cendekia millennial. Salah satunya Najwa Shihab yang terkenal sebagai sosok Duta Baca Indonesia sejak tahun 2016 lalu. Semangatnya dalam memperjuangkan literasi menjadikannya seorang yang begitu perhatian dalam hal literasi. Sebagai bukti cintanya dalam membaca ia juga melakukan kampanye gemar membaca diberbagai daerah Indonesia.

Menapak tilas pada sejarah membaca, maka jauh sebelum masyarakat millennial melakukan tradisi membaca, Al-Qur’an telah lebih dulu menyebutkannya. Perintah membaca dalam Al-Quran adalah wahyu pertama sebelum adanya perintah lain yang diberikan oleh Allah kepada Nabi saw.

Kosa Kata Membaca dalam Al-Quran 

Menjadi sumber rujukan dalam hidup ini, maka Al-Quran selalu relevan untuk dikaji. Menurut Chirzin (2020) dalam bukunya Kamus Pintar Al-Qur’an kata membaca dalam Al-Quran dengan berbagai derivatifnya disebutkan sebanyak 11 kali dalam ayat dan surah yang berbeda-beda. Terjemahan kata “baca” ini diungkapkan dengan kata dasar qara’a (قرأ) dan tala (تلى).

Baca Juga: Ketahui Sembilan Adab Ketika Membaca Al-Quran

Adapun penyebutan dengan kata dasar qara’a (قرأ) terulang sebanyak 4 kali yakni dalam QS. 16: 98, QS. 26: 199, QS. 75: 18, dan QS. 96: 1. Sedangkan penyebutan dengan lafal kata dasar tala (تلى) terulang sebanyak 7 kali terdapat dalam QS. 29: 48, QS. 3: 58, QS. 27: 92, QS. 37: 3, QS. 23: 66, QS. 29: 45, dan QS. 18: 27.

Konteks Ayat terkait Membaca dalam Al-Quran

Turun dalam waktu dan situasi yang tidak sama membuat ayat Al-Qur’an memiliki konteks beragam. Dari beberapa cantuman daftar ayat yang di dalamnya terdapat kata baca, maka dapat kita temukan beberapa konteks ayat, diantaranya pada QS. 16: 98 berbicara mengenai konteks anjuran memohon perlindungan kepada Allah ketika akan melakukan segala hal termasuklah membaca Al-Qur’an, QS. 26: 199 (mudahnya membaca Al-Qur’an karena lafaz ayat Al-Qur’an mudah dilafalkan), QS. 75: 18 (peringatan kepada Nabi agar tidak tergsa-gesa dalam mengingat/menghafal wahyu yang turun), dan QS. 96: 1 (pengajaran dan penjelasan Allah kepada Nabi saw tentang sifat, perbuaatan-Nya serta Dia adalah sumber ilmu pengetahuan).

Penjabaran di atas merupakan penyebutan konteks ayat yang di dalamnya terdapat kata ‘baca’ dengan kata dasar qara’a. Selanjutnya, adalah penyebutan konteks ayat yang di dalamya terdapat kata dasar tala. Pada QS. 29: 48 (Al-Quran sebagai kemukjizatan Nabi yang ummi, tidak bisa baca dan tulis), QS. 3: 58 (Jibril membacakan Al-Quran kepada Nabi Isa yang di dalamnya berupa informasi mengenai azab akhir), QS. 27: 92 (dakwah rasul seraya menyerahkan kepada setiap orag untuk emilih jalanya sendiri).

Selanjutnya pada QS. 37: 3 (menjelaskan tentang malaikat yang bertugas membacakan wahyu kepada para nabi), QS. 23: 66 (tidak ada jaminan pertolongan Allah bagi orang kufur), QS. 29: 45 (membaca Al-Qur’an, shalat mencegah manusia dalam berbuat kemunkaran), dan QS. 18: 27 (berbicara tentang Al-Qur’an dan semua berita yang ada di dalamnya).

Ulasan Mufasir Mengenai Lafal Qara’a dan Tala

Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamya terdapat kata ‘baca’ maka salah satu dalil perintah membaca itu terletak pada QS. 96: 1. Ayat tersebut termasuk pada wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi saw melalui malaikat Jibril

إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ.

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

Pada ayat di atas dapat kita lihat adanya kata iqra’ yang secara terjemah diartikan dengan ‘bacalah!’. Perintah yang masih bersifat umum ini menimbulkan sebuah pertanyaan tentang hal apa yang harus dibaca oleh Nabi saw kala itu ketika Jibril memerintahkannya, hingga akhirnya perintah inlah yang juga harus disampaikan kepada umatnya.

Pemaknaan mengenai ayat di atas pun telah dilakukan oleh sejumlah mufassir. Salah satunya mufassir kontemporer Quraish Shihab yang telah merampungkan tafsirannya  30 juz Al-Qur’an secara utuh. Metode penafsiran analisis serta corak adab wa ijtima’i sebagai ciri dalam penulisannya membuat tafsir ini sebagai salah satu tafsir yang banyak dirujuk oleh sebagian peneliti Al-Qur’an.

Quraish Shihab memaparkan bahwasanya kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang pada mulanya bermakna menghimpun, dan ketika seseorang telah merangkai huruf atau kata lalu mengucapkan rangkaian tersebut maka sejatinya ia telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian, realisasi perintah yang dimaksud tidaklah mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan dan tidak pula harus diucapkan oleh lisan.

Menyertai dari pemaparan di atas, Shihab juga mengutip sebuah kaidah kebahasaan yang berbunyi “Apabila suatu kata kerja yang mebutuhkan objek namun tidak disebutkan objeknya maka objek yang dimaksud bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang terjangkau oleh kata tersebut”.

Adanya kaidah tersebut memberikan kesimpulan bahwa objek yang diperintahkan untuk dibaca adalah sesuatu yang bersifat umum dapat bacaan yang suci (firman Allah) atau bukan, baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga terrmasuklah alam raya, masyarakat dan diri sendiri serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.

Baca Juga: Lima Cara Membaca Awal Surah At-Taubah dalam Ilmu Tajwid

Setelah adanya penjelasan makna iqra’ lalu bagaimana dengan ungkapan tala yang juga bisa dimaknai dengan ‘baca’?. Adapun Shihab (2001:506) menyebutkan perbedaan antara keduanya. Lafal tala (تلى) berobyek pada bacaan yang agung dan suci atau benar, sedangkan qara’a (قرأ) berobyek pada bacaan yang sifatnya lebih umum, mencakup yang suci atau tidak suci, kandungannya boleh jadi positif atau negatif.

Penjelasan di atas memberikan sebuah pesan bagi para mukmin masa kini bahwasanya hakikat membaca sesungguhnya adalah tidak hanya beraspek pada sesuatu yang tertulis saja namun juga kondisi dan situasi yang sedang terjadi di sekelilingnya.

Oleh sebab itu, adanya kepekaan untuk membaca dan memahami segala objek yang bersiggungan dengan kehidupan dirasa penting untuk dilakukan karena dapat membantu untuk merespon setiap peristiwa yang hadir di tengah perjalanan menuju kematian. Wallahu A’lam.

Aty Munshihah
Alumni Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Pontianak dan Alumni PP. Darul Hidayah Rasau Jaya Kalbar
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...