Beranda Tafsir Tematik Kajian Semantik: Makna Kata Jannah dalam Al-Qur’an

Kajian Semantik: Makna Kata Jannah dalam Al-Qur’an

Jannah berasal dari kata janana yang berarti “tertutup”, yaitu tidak dapat dijangkau oleh panca indra manusia (Zuhaili, al-Maushu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah). Dalam Mu’jam al-Wasith dijelaskan makna kata jannah sebagai kebun. Dari akar kata tersebut pengertiannya menjadi berkembang sejalan dengan perkembangan konteks pemakaiannya sehingga terbentuk berbagai kata lain.

Misalnya, kata janin diartikan dengan “bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya”. Diartikan demikian karena bayi tersebut masih tertutup oleh perut ibunya. Kemudian, salah satu makhluk halus ciptaan Tuhan disebut jin karena hakikat dan wujudnya tidak dapat diketahui oleh indra manusia.

Seorang yang gila disebut majnun karena akalnya tertutup. Kebun yang dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan sehingga menutupi pandangan manusia dinamai jannah; kata ini diartikan juga dengan “surga” karena hakikat surga tertutup dari pengetahuan indra dan akal manusia.

Makna Relasional

Di dalam penjelasan awal telah dijelaskan akar kata Jannah serta derivasi katanya serta maknanya secara lughawiyyah menurut beberapa mu’jam (kamus bahasa Arab). Adapun dalam pembahasan ini maka akan dilihat bagaimana pemaknaannya dalam relasinya dengan ayat-ayat al-Qur’an.

Quraish Shihab dalam Ensiklopedia al-Qur’an Kajian Kosa Kata menyebutkan bahwa dalam relasinya dengan ayat-ayat al-Qur’an kata Jannah dapat dimaknai dengan beberapa makna, diantaranya :

  • Gelap (Q.S al-An’am: 76)

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang  (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

Kata جَنَّ  merupakan salah satu bentuk derivasi dari kata جنة yang memiliki arti dasar tertutup apabila dikaitkan dengan kataاللَّيْلُ  maka maknanya ialah tertutup kegelapan atau menjadi gelap. Hal ini juga dijelaskan Imam Thabari dalam tafsrinya tatkala menafsirkan ayat ini dimana dalam tradisi linguistik Arab, setiap yang lenyap/ menghilang/ tersembunyi (tawara) dari penglihatan manusia maka digunakan kata قد جَنَّ .

  • Surga (Q.S al-Nisa: 124)

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا

Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa yang dimaksudkan adalah surga. Hal ini bisa diindaksi dengan adanya syarth dan jawab dalam kalimat tersebut. Dimana orang-orang yang mengerjakan amal kebajikan tanpa mempertimbangkan jenis kelaminnya selama ia beriman kepada Allah, maka ganjaran baginya adalah surga dan segala kenikmatan yang akan diberikan di dalamnya. Adapun dalam beberapa kitab tafsir tetap menafsirkannya dengan kata asalnya karena telah ma’lum apa yang dimaksud dengan jannah di dalam ayat tersebut.

  • Janin (Q.S al-Najm: 32)

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ

Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa kataأَجِنَّةٌ  merupakan bentuk plural dari kata الجنين  yang bermakna calon bayi / anak yang masih berada dalam kandungan. Adapun dinamai janin karena memang calon bayi tersebut tersembunyi dari penglihatan manusia karena tempatnya yang berada di dalam kandungan atau rahim.

  • Perisai (Q.S al-Mujadalah: 16)

اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah; maka bagi mereka azab yang menghinakan.

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam al-Qurthubi menyertakan perihal sejarah yang mengiringi turunnya ayat ini (asbabun nuzul) dimana konteks di masa itu sedang terjadi perang. Maka orang-orang munafik yang takut dan ingin menghindari perang menggunakan keimanan mereka atau dalam tafsir dimaknai dengan ikrar-ikrar mereka sebagai perisai atau alasan yang menutupi/melindungi mereka untuk ikut terlibat di dalam peperangan. Tidak sampai disitu saja, mereka justru menghasut atau menghalangi umat muslim lainnya dengan menakuti-nakuti mereka agar tidak turut serta terlibat di dalam peperangan.

  • Gila (Q.S al-Syu’ara: 27, Q.S al-Hijr: 6)

قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Ayat yang pertama (Q.S al-Syu’ara: 27) merupakan perkataan Fir’aun yang direkam di dalam al-Qur’an yang menunjukkan betapa sombongnya Fir’an sehingga dengan merendahkan Nabi Musa dan mengatakannya majnun yang bermakna tertutup akalnya (gila). Tidak jauh berbeda dengan ayat yang pertama, ayat yang kedua merekam perkataan kafir Quraisy yang dengan sombongnya mengatakan nabi Muhammad gila.

  • Kebun (Q.S Saba’: 15; 16)

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”; Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr.

Dalam ayat ini yang dimaksud dengan kata جَنَّتَانِ  adalah dua buah kebun yang terbentang diantara dua gunung yang dalam konteks tersebut terdapat di negeri Saba’. Kebun tersebut penuh dengan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang menurut Imam Qusyairi yang dikutip oleh Imam Qurthubi, bahwa karena terlalu lebatnya bahkan manusia bisa bersembunyi diantara kebun tersebut. Jadi disebut dengan jannah karena saking lebatnya manusia pun mampu bersembunyi dari pandangan manusia lainnya. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...