Beranda Tokoh Tafsir Karel A. Steenbrink, Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Belanda

Karel A. Steenbrink, Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Belanda

Penelitian kisah Al-Quran telah banyak dilakukan baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim. Orientalis mengkaji Al-Quran khususnya, kisah Al-Quran yang juga terdapat pada Bibel/Alkitab, seperti kisah-kisah nabi terdahulu. Salah satu orientalis yang mengkaji Al-Quran adalah Karel Adriaan Steenbrink, peneliti asal Belanda. Ia banyak mengkaji Al-Quran, seperti kisah Isa atau Yesus dalam Al-Quran.

Profil Karel A. Steenbrink

Karel A. Steenbrink lahir pada tanggal 16 Januari 1942 di kota Breda, Belanda. Ia lahir di tengah-tengah keluarga katolik yang sangat taat. Ia adalah anak kesepuluh dari 12 bersaudara. Sebuah keluarga besar yang setiap hari melayani gereja, mengajar di sekolah dasar katolik, menulis di koran katolik, dan berkecimpung dalam partai politik katolik dan serikat pekerja denominasi sampai pada pertengahan tahun 1960-an.

Keluarga besar ini sejalan dengan sikap Gereja Katolik dan Konsili Vatikan pada tahun 1960-an yang mulai mementingkan pendapat pribadi khalayak umum dibanding dengan menaati hukum doktrin gereja yang cenderung mengatur dan membatasi reproduksi manusia, di samping kebahagiaan pribadi pula, Ia lahir di tengah-tengah Perang Dunia II, atau lebih tepatnya menjelang masa penjajahan bangsa Jepang di Indonesia.

Di tengah-tengah keluarga tersebut, ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang pluralis, seperti yang ia dapati dalam sikap ayah dan ibunya yang berbeda dan tak segan bertentangan. Ayahnya yang seorang ritualis sangat berpegang teguh pada peraturan yang diberikan dari atasan, layaknya kebaktial formal seperti Misa Kudus setiap pagi di Gereja Paroki.

Sedangkan ibunya jarang pergi beribadat ke gereja kecuali hari Minggu. Ibunya lebih cenderung melakukan ibadah individual. Ketika pulang dari pasar, ia menyempatkan diri untuk membakar lilin di Gereja Katedral di depan patung Maria yang dilanjutkan dengan duduk hening beberapa saat. Bagi ibunya, menemani semua anaknya sarapan, duduk, ngobrol, dan minum teh bersama jauh lebih penting dari pada harus setiap pagi pergi ke gereja.

Baca juga: Robert of Ketton dan Dinamika Penerjemahan Al-Quran, Menjawab Kesimpulan Keliru Soal Kontribusi Orientalis dalam Studi Al-Quran

Sementara itu, ayahnya tidak terlalu suka pada patung dan membakar lilin di depannya. Apalagi sampai harus berziarah yang disertai piknik dan rekreasi. Ia mengannggap hal tersebut terlalu mencampuri urusan keseriusan ibadah dengan hanya bertujuan rekreasi belaka. Namun begitu, keluarganya masih tetap bisa hidup rukun dalam sebuah pernikahan yang bahagia sampai lebih dari 55 tahun dan tetap beragama Katolik sampai wafat.

Steenbrink termasuk seorang akademisi yang produktif menghasilkan karya. Beberapa di antaranya adalah: Pesantren Madrasah dan Sekolah, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia abad ke-19,  Kitab Suci atau Kertas Toilet?,  Kawan dalam Pertikaian, Adam Redivivus: Muslim Elaborations of the Adam Saga with Special, Reference to the Indonesian Literary Tradition  De Korte Hoofdstukken van de Koran, De Jesusverzen in de Koran  Javanese Stories of Jesus,  A History of Christianity in Indonesia,  Mencari Tuhan dalam Kacamata Barat,  Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern,  The Study of Comparative Religions by Indonesian Muslim,  Indonesia: Too Much Religion,  Otobiografi Seorang Islamolog Indonesia,  Low Religion Dialogue in the Netherlands, Catholics in Independent Indonesia, Catholics in Indonesia, Dan lain-lain

Pemikiran Karel Steenbrink Tentang Al-Quran

Pemikiran Karel Steenbrink yang paling menonjol terkait Al-Quran ialah bahwa Steenbrink menafsirkan ayat-ayat tentang Yesus dalam Al-Quran sesuai dengan urutan Al-Quran yang ada saat ini. Oleh karena itu, pengisahan Yesus dalam buku ini tidak berjalan sesuai dengan kronologis dari mulai kelahiran sampai kembali Yesus nanti ke dunia pada akhir zaman.

Maka dari itu di sini mencoba menjelaskan tentang gambaran Steenbrink tentang Yesus dalam Al-Quran.

Strengthened with the Holy Spirit (dikuatkan dengan Roh Suci) Q.S: al-Baqarah 87, 136, dan 253

Steenbrink menggambarkan Yesus disini sebagai seorang Nabi yang memiliki proving (bayyinat/bukti kebenaran) yang juga disebut dengan “sign” atau tanda (ayat). Selanjutnya, Steenbrink menerangkan bahwa penyebutan Ruh al-Quds (Roh Suci), Jibril (Gabriel) meniupkan sesuatu ke dalam mantel Maryam (Mary) yang kemudian ia pakai dan dari sanalah Maryam kemudian mengandung Yesus.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Pada ayat terakhir ini Isa atau Yesus dikatakan sebagai yang paling asketik, mistik, dan dekat dengan Tuhan dari pada nabi-nabi lain seperti Musa (Moses), Sulaiman (Solomon), dan Yusuf (Joseph) putra Ya’kub (Jacob)

Grandson of Imran (Anak Cucu Imran), Q.S: Ali Imran 35-63 dan 84

Kali Isa atau Yesus digambarkan sebagai contoh bagi Tuhan kepada manusia. Pertama-tama pada ayat ini dimulai dengan kejutan bagi Ibunda Maryam atau Istri Imran, Hannah binti Faqud yang mendapatkan anak perempuan yang secara normal tidak akan bisa melayani kuil mana pun, karena biasanya diisi oleh laki-laki.

Kemudian setelah itu diceritakan bahwa Maryam melihat penampakan malaikat, seperti yang ada pada Injil Lukas. Maryam seringkali berdoa dengan merenggangkan pergelangan kakinya, yakni berdoa dengan lutut yang menyebabkan kulitnya menebal karena seringnya berlutut. Ia juga menjelaskan bahwa Isa atau Yesus memiliki empat gelar teologi “Word (Firman)”, “Messiah” (al-Masih), “Held in Honour” (orang yang terkemukan), dan “close to God” (dekat dengan Tuhan). Isa juga dilahirkan melalui kekuatan Tuhan dan sabda-Nya tanpa campur tangan manusia.

A Servant as example (Hamba yang menjadi contoh), QS. Al-Zukhruf: 57-65

Dalam surah ini, Steenbrink mengemukakan bahwa Isa atau Yesus pada surah ini dipandang “hanyalah” seorang hamba terhormat. Ayat-ayat ini, menurut Steenbrink, merupakan pendukung kenabian Muhammad, karena perdebatan Muhammad dengan kaum Nasrani pada waktu itu. Selain itu, ayat ini berkenaan dengan konflik Muhammad dengan orang Makkah yang mengatakan: “Kenapa Tuhan-tuhan kami ditolak? Sedangkan engkau menggunakan Yesus sebagai perumpamaan? Dan kemudian Muhammad menjawab bahwa ia tidak menggambarkan Isa sebagai Tuhan atau rival Tuhan, atau Putra Tuhan, melainkan hanya sebagai seorang hamba yang telah diberi kenikmatan.

Selanjutnya, Steenbrink mengutip pendapat Hamka bahwa kelak Yesus akan turun ke bumi dengan cara khusus (dengan lahir dari seorang perawan), untuk menunjukkan keagungan dan kekuasaan Tuhan. Dalam hal ini, Yesus juga merupakan tanda yang baik untuk mendukung keyakinan akan adanya hari pembangkitan.

Pada ayat berikutnya, Steenbrink menjabarkan bahwa kata “البينات “berarti mukjizat yang Yesus tunjukkan. Sedangkan kata “الحكمة “berarti insight (wawasan) yang telah diberikan kepada Yesus. Banyak kaum orientalis khususnya Horovits berpendapat bahwa Kitab, Hikmah, Taurat/Torah, dan Injil/Gospel adalah empat buku yang ada dari mulai Ibrahim sampai Yesus. Kitab dan Hikmah seharusnya adalah wahyu yang turun sebelum Musa. Wallahu A’lam.

Neny Muthi'atul Awwaliyah
Peneliti, dosen di Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Salatiga.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...