Beranda Tafsir Tematik Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

Kita sering mendengar anggapan bahwa nama lain dari Nabi Muhammad saw. adalah Ahmad. Anggapan tersebut didasarkan pada keterangan Q.S. Asshaff [61]:6 sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).”  Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Salah satu pernyataan yang diucapkan Nabi Isa as. kepada Bani Israil adalah tentang kedatangan seorang utusan Allah yang bernama Ahmad. Menurut Syekh al-Sya’rawi dalam Tafsîr al-Sya’rawî (hlm. 15191-15192), rasul yang dimaksud pada ayat tersebut merupakan Nabi Muhammad saw. yang di dalam Injil disebut sebagai Ahmad, sebagaimana yang disebutkan juga dalam Alquran, meskipun menggunakan kata Muhammad pada Q.S. Âli‘Imrân [3]: 144, Q.S. Alaḥzâb [33]: 40, Q.S. Muḥammad [47]: 2, dan QS. Alfatḥ [48]: 29.

Secara etimologi, kata muḥammad dan aḥmad sama-sama terdiri dari tiga huruf dasar, hâ’, mîm, dan dâl yang bermakna al-ḥamdu atau pujian. Berbeda dengan kata muḥammad, tidak didapati adanya petunjuk turunan kata atau derivasi yang membentuk kata aḥmad.

Baca juga: Makna Dibalik Panggilan Hamba di Cerita Isra Nabi Muhammad dalam Alquran

Uraian bahasa dari Syekh Mutawallî al-Sya’râwî menujukkan bahwa kata aḥmad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata ḥâmid yang artinya orang yang memberikan pujian kepada orang lain. Bentuk mubâlaghah pada kata aḥmad menghasilkan makna bahwa aḥmad merupakan sebutan bagi orang yang banyak memuji orang lain. Jika pujian yang diberikan seseorang terbatas, maka disebut dengan ḥâmid, bukan aḥmad.

Adapun kata muḥammad merupakan bentuk derivasi dari kata mahmûd, artinya sesuatu atau seseorang yang dipuji oleh orang lain. Kata muḥammad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata maḥmûd, sehingga arti yang dihasilkan tidak hanya sekedar orang yang dipuji, melainkan orang yang  sangat banyak dipuji oleh orang lain.

Jika yang dimaksud dengan kata aḥmad pada Q.S. Asshaff [61]: 6 adalah Nabi Muhammad saw., maka berdasarkan kandungan makna kata aḥmad dan muhammad,  Rasulullah saw. menghimpun dua hal, yaitu orang yang banyak mendapat pujian dari Allah Swt. (muḥammad), dan orang yang memuji Allah Swt. (aḥmad).

Bagi Ibn ‘Âsyûr, sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab, pemaknaan kata aḥmad sebagai nama lain dari Nabi Muhammad saw. tidak sesuai dengan realitas yang ada bahwa Nabi Muhammad saw. tidak pernah diberi nama Aḥmad, baik sebelum maupun sesudah kenabian. Menurutnya, penggalan ayat “ismuhû Aḥmad” hendaknya dipahami secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada kata ahmad dan mengabaikan kata ismuhû. Dalam hal ini, Ibn ‘Asyûr memaknai ahmad sebagai sesuatu yang terpuji. Namun penggalan ayat “ismuhû Aḥmad”, bisa dipahami dalam tiga makna, tergantung dari pemahaman terhadap kata “ismuhu” pada kalimat tersebut.

Baca juga: Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

Penggalan ayat tersebut dapat dipahami melalui tiga pemaknaan. Pertama, Kata ismu dalam arti al-musamma, yakni “sosok yang dinamai”. Nabi yang dimaksud pada ayat tersebut adalah sosok yang lebih terpuji dalam hal kepribadian, risalah, dan syariat daripada Nabi Isa as. Kedua, ismu dalam arti “kemasyhuran dan kebajikan”,  yakni popularitas Nabi tersebut pada masanya dan sesudah masanya dalam hal kebajikan. Ketiga, Pemaknaan ketiga ini berkaitan dengan kata muhammad yang berarti sesuatu banyak sekali dipuji, sehingga karena sering dan banyaknya beliau dipuji, maka beliau adalah Aḥmad yakni yang paling terpuji (Tafsir al-Mishbah, jilid 14, hlm. 200-201).

Demikianlah uraian mengenai pemaknaan dari kata Aḥmad dalam Q.S. Asshaff [61]: 6. Dari perbedaan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa Aḥmad tidak hanya sekedar nama lain dari Nabi Muhammad saw., akan tetapi juga secara simbolis sebagai bentuk pujian kepada beliau.

Rijal Ali
Mahasiswa UIN Antasari, minat kajian Isu-isu keislaman kontemporer,
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...