Beranda Khazanah Al-Quran Ketahui Ayat-Ayat Favorit Santri Bekal Rohani dari Para Kyai

Ketahui Ayat-Ayat Favorit Santri Bekal Rohani dari Para Kyai

Ayat-ayat favorit santri yang dimaksud di sini adalah ayat Al-Quran yang sering dibaca oleh para santri di pondok pesantren. Jika melihat jauh ke belakang, fenomena ayat-ayat favorit ini sudah ada sejak zaman Rasulullah. Disebutkan dalam beberapa hadisnya, Rasulullah menyatakan bahwa ada ayat-ayat khusus yang dianjurkan dibaca ketika keadaan tertentu, misal membaca ayat kursi ketika hendak tidur agar terhindar dari gangguan setan dan sihir.

Cerita ini ternyata masih berlanjut hingga sekarang dan dipraktekkan oleh sebagian besar orang Islam, bahkan juga berlaku untuk ayat-ayat Al-Quran yang lain dan dalam keadaan yang lain pula. Misal tradisi istighotsah di pesantren, yang di dalamnya banyak terdapat ayat-ayat Al-Quran. Inilah yang kemudian penulis istilahkan dengan ayat-ayat favorit santri.

Sangat sering seorang kyai mempunyai wiridan ayat Al-Quran yang kemudian diajarkan ke para santri dan dilanjutkan oleh mereka. Rutinitas wiridan itu ada yang berbentuk istighotsah. Biasanya, teks istighotsah terdiri dari gabungan antara ayat Al-Quran dan bacaan dzikir lain yang bersumber dari hadis atau juga wiridan khusus dari para guru.

Berikut beberapa ayat-ayat favorit santri yang lumrah ada di teks istighotsah dan dibaca di beberapa pesantren.

Pertama, Surat al-Fatihah. Surat ini dijadikan sebagai pembuka nampaknya sudah menjadi hal yang biasa. Ini dimaksudkan tabi’ li al-Qur’an. Surat ini juga menjadi pembuka dari al-Qur’an. Dalam Asma’ Suwar al-Qur’an wa Fada’iliha dikatakan bahwa surat al-Fatihah merupakan surat yang kandungnya sangat luas, meliputi semua isi al-Qur’an, mulai dari tauhid, ibadah dan sosial. Selain itu, surat ini juga dinamakan surat as-su’al, karena di dalamnya juga mengakomodir doa dan permintaan, tepatnya pada ayat ke enam. Hal tersebut sesuai dengan kandungan umum dan maksud dari pembacaan istighosah,yaitu sebagai permohonan dan doa.

Kedua, Surat al-Ikhlas. At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat ini adalah jawaban dari tantangan orang Quraisy yang meminta nabi Muhammad untuk mendeskripsikan dan menyebutkan sifat-sifat Allah. Oleh karena itu, surat ini secara keseluruhan berbicara tentang sifat-sifat Allah. Di antaranya, Allah itu Esa, sifat ini menyangkal trinitas ketuhanan dalam tradisi kaum Nasrani.

Sifat yang lainnya adalah Allah tempat bergantung atas segala sesuatu yang dibutuhkan oleh makhlukNya, satu-satunya tempat meminta, memohon, mengeluh dan yang lainnya. Akan tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya, Allah tidak butuh dan tidak tergantung terhadap siapapun. Allah juga tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanakkan. Allah bukan orang tua yang mempunyai anak dan bukan pula seorang anak yang dilahirkan, tidak seperti tuduhan orang Nasrani. Di akhir surat, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang sama dan setara denganNya.

Baca Juga: Santri dan Prioritas Kewajiban Menjaga Nyawa

Berdasar pada tafsiran tersebut, sebenarnya inti poin atau kandungan utama dari surat ini adalah ayat pertama, yaitu mengesakan Allah. Ayat ke dua dan seterusnya adalah penjelasan lebih lanjut tentang keEsaanNya. Di waktu yang sama, penghambaan yang tulus dan ikhlas dari seorang hamba adalah ketika dia dengan sadar dan tidak dalam keadaan terpaksa mengakui akan keEsaan Tuhannya.

Oleh karena itu, sampai pada tingkatan ini, seseorang yang membaca dan mentadabburi surat al-Ikhlas adalah salah satu tanda dari penghambaannya yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Berbekal ketulusan ini maka berharap sebuah permohonan akan lebih mudah dan cepat dikabulkan.

Keistimewaan lain dari surat ini sebagaimana disampaikan oleh Al-Baidhawi adalah perkataan Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa nilai surat al-Ikhlas adalah sepertiga Al-Quran. Jika mengikuti hadis tersebut, maka ketika surat al-Ikhlas dibaca tiga kali berarti ia telah menghatamkan al-Qur’an. Dengan menghatamkan Al-Quran ini diharapkan dapat mempermudah terkabulnya doa, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh kyai Asep dalam istighosahnya.

Ketiga, Ayat-ayat favorit santri selanjutnya yaitu potongan ayat 87 surat al-Anbiya’ (لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّلِمِين). Ayat ini dapat dikatakan sebagai ayat yang memang popular di setiap istighotsah. Ayat ini dijelaskan oleh At-Tabari sebagai dzikir Nabi Yunus ketika dimakan ikan. Ayat ini adalah ekspresi pengakuan dosa nabi Yunus dan bentuk taubatnya dari kesalahan yang telah diperbuat.

Seperti diketahui, keadaan Nabi Yunus pada saat itu sangat sulit, ia terpenjara di dalam ikan yang gelap dan sempit. Bukan hanya itu, ia juga ada di dasar laut, bagian terbawah dari bumi. Dalam keadaan yang sangat menyengsarakan tersebut, ia menyadari akan kesalahan dan dosa yang telah dilakukan hingga kemudian bertaubat, mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah. Allah kemudian menyelamatkan Nabi Yunus dan membebaskannya dari keadaan tersulit itu.

Baca Juga: K.H. Choer Affandi: Santri Kelana Pemilik Tafsir Sunda Choer Affandi

Riwayat di balik ayat 87 surat al-Anbiya’ ini kemudian dijadikan standar tingkat kesulitan dalam hidup. Jika Nabi Yunus dalam keadaan yang sangat sulit itu dapat menemukan solusi hingga akhirnya diselamatkan oleh Allah, begitu juga dengan manusia lainnya, namun tetap dengan syarat berdoa, mengakui dosa, menyesali dan berikrar untuk tidak mengulanginya lagi. Sebagaimana jaminan Allah pada ayat berikutnya, di ayat 88.

Keempat, Potongan Ayat 173 Surat Ali Imran dan Ayat 40 Surat al-Anfal. Ayat-ayat favorit berikutnya adalah dua potongan ayat yang digabung menjadi satu. Pertama yaitu potongan ayat 173 surat Ali Imran (حسبنا اللّه و نعم الوكيل) dan satu lagi potongan ayat 40 surat al-Anfal dan surat al-Hajj ayat 78 (نعم المولى و نعم النّصير ). Memahami dua potongan ayat ini, mengharuskan kita untuk membaca keseluruhan ayat agar dapat diketahui secara utuh maksud dari ayat tersebut.

Meski ada di tiga tempat yang berbeda, dua potongan ayat ini memiliki beberapa kesesuaian satu sama lain. Pertama, keduanya menyebut sifat Allah yang sama, yaitu Maha Pelindung dan Penolong. Kedua, penyebutan kedua sifat itu mempunyai maksud yang sama, yaitu memasrahkan perlindungan dan pertolongan hanya kepada Allah. Ketiga, berdasar pada keseluruhan bunyi ayat, dua potongan ayat ini termasuk sifat dari orang-orang yang beriman. Beberapa kesesuaian ini menjadikan keduanya tampak seperti bacaan yang utuh.

Baca Juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul

Menimbang dan membandingkan keseluruhan bunyi ayat dan kesesuaiannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Menggunakan ayat ini sebagai ‘alat’ agar Allah menjamin keberhasilan sebuah doa dianggap sangat wajar, karena sikap tawakkal yang ada di dalam makna lafadnya.

Ayat-ayat favorit santri ini selain menjadi rutinitas, juga menjadi sangu rohani yang diberikan oleh para kyai untuk para murid spiritualnya. Dengan begitu, santri tidak hanya sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani. Doa terbaik untuk para santri, terlebih untuk para kyai.

Selamat Hari Santri Nasional 2020,

Santri Sehat Indonesia Kuat  

Limmatus Sauda
Pegiat literasi di CRIS Foundation, nyantri di Amanatul Ummah Mojokerto
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Menyegerakan haji saat sudah mampu

Hukum Menerima Hadiah Naik Haji Gratis 

0
Salah satu media online memberitakan, Seorang jemaah Masjid Istiqlal, Jakarta, mendapatkan hadiah naik haji gratis dari Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi....