Beranda Ulumul Quran Ketika Al-Quran Menceritakan Proses Nuzulul Quran

Ketika Al-Quran Menceritakan Proses Nuzulul Quran

Sebenarnya bagaimana proses Al-Qur’an diwahyukan atau dikenal dengan istilah Nuzulul Quran? Kapan al-Quran pertama kali turun? Pertanyaan inilah yang sering terlintas di benak para penikmat sejarah Al-Qur’an ketika membaca QS.  Al-Qadr [97]: 1, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” Padahal sejarah Islam mencatat bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan kurang lebih 13 tahun sebelum hijrah.

Peristiwa pewahyuan al-Qur’an di atas dikenal masyarakat muslim sebagai malam nuzulul Quran. Biasanya mereka melakukan berbagai macam peringatan untuk mengenang sejarah peristiwa turunnya al-Qur’an yang juga merupakan peresmian Muhammad Saw diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul untuk menyebarkan ajaran Islam dan ihsan.

Kemudian, mungkin juga terlintas dalam pikiran para penikmat sejarah Al-Qur’an berbagai pertanyaan lain. Misalnya, lantas bagaimana menjelaskan perbedaan QS. Al-Qadr [97]: 1 dengan realitas sejarah yang terjadi? Apakah catatan sejarah salah atau malam lailatul qadar yang dimaksud dalam QS. Al-Qadr [97]: 1 terjadi pada tanggal 17 Ramadhan?

Baca Juga: Sejarah Pencetakan al-Quran dari Italia hingga Indonesia

Berbagai pertanyaan tersebut sebenarnya bisa ditemukan dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an sendiri dalam banyak ayat menyebutkan bagaimana proses dirinya turun ke dunia, hanya saja diperlukan pembacaan kritis dan sistematis agar bisa menangkap pesan yang telah dijelaskan Al-Qur’an. Pesan itu juga dapat ditemukan melalui catatan-catatan ulama tafsir.

Ketika berbicara mengenai proses nuzulul Quran, Al-Qur’an biasanya menggunakan 2 istilah bahasa, yakni anzala dan nazzala. Keduanya sama-sama berasal dari kata n-z-l yang bermakna turun namun memiliki perbedaan spesifik. Secara singkat, anzala dapat dimaknai dengan turun secara keseluruhan dalam satu jumlah sekaligus. Sedangkan nazzala bermakna turun berangsur-angsur atau berulang-ulang.

Kedua istilah anzala dan nazzala di atas adalah kata kunci yang harus dicermati untuk mengetahui rahasia proses nuzulul Quran yang telah diceritakan Al-Qur’an. Dengan mengetahui perbedaan keduanya, seseorang akan bisa memahami bahwa tidak ada pertentangan antara QS.  Al-Qadr [97]: 1 dan catatan sejarah pewahyuan Al-Qur’an, karena keduanya memang berada pada konteks ayat yang berbeda.

ٍَQS. Al-Qadr [97]: 1 berbicara mengenai proses nuzulul qur’an secara sekaligus, yakni dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia). Sedangkan peristiwa sejarah diturunkannya Al-Qur’an di goa Hira, merupakan kronologi dari ayat yang lain, yaitu; QS. ‘Alaq [96]: 1-5. Pembahasan rinci mengenai kedua tahapan nuzulul qur’an tersebut akan dijelaskan pada pembahasan berikut.

Nuzulul Quran Secara Sekaligus

Sebelum disampaikan kepada nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an telah melalui dua proses nuzul, yakni dari Allah Swt ke lauh al-mafuzh dan dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia). Proses ini dilakukan langsung oleh malaikat Jibril as atas izin Allah Swt. Al-Qur’an yang berada di lauh al-mahfuzh diketahui telah ada jauh sebelum nuzul-nya, bahkan jauh sebelum penciptaan nabi Adam as di surga.

Di dalam Al-Qur’an kata lauh al-mafuzh disebutkan sebanyak satu kali, yakni pada QS. Al-Buruj ayat 22. Dikisahkan bahwa lauh al-mafuzh adalah tempat di mana Allah mencatatkan “takdir” kehidupan alam semesta. Selain itu, semua perkara yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia juga tercatat di dalamnya secara akurat. Meskipun demikian, tidak diketahui bagaimana bentuk catatan tersebut.

Pada tahapan pertama nuzulul qur’an, yakni dari Allah Swt ke lauh al-mafuzh, eksistensi Al-Qur’an masih dalam bentuk “bahasa transendental” yang tidak memiliki huruf, suara, dan kata.  Tidak ada manusia yang mampu memahami bahasa tersebut kecuali atas izin Allah. Di lauh al-mafuzh, Al-Qur’an tersimpan dan terjaga dengan sempurna tanpa kecacatan.

Selanjutnya Al-Qur’an dibawa oleh malaikat Jibril as dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia) dalam bentuk yang utuh dan komplet. Pada tahap ini, bentuk Al-Qur’an sudah bertransformasi ke dalam bahasa yang mampu “dirasa” manusia. Menurut mayoritas ulama Muslim, pada tahap ini Al-Qur’an diturunkan kepada Jibril dalam bentuk kata dan maknanya. Dengan demikian, Al-Qur’an yang selama ini dibaca umat Islam 100 persen sama dengan Al-Qur’an yang dibawa Jibril as.

Peristiwa nuzulul Qur’an secara sekaligus ini dikisahkan dalam Al-Qur’an pada QS.  Al-Qadr [97]: 1 yang berbunyi:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.”

Nuzulul Qur’an Secara Berangsur-angsur

            Setelah diturunkan ke langit dunia, Al-Qur’an kemudian disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur kurang lebih selama 23 tahun. Proses ini dimulai pada tanggal 17 Ramadan tahun 13 SH di goa Hira, tempat di mana biasanya nabi Muhammad Saw melakukan uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merenungi kehidupan masyarakat Arab yang sudah jauh dari ajaran-Nya.

Proses nuzulul qur’an secara berangsur-angsur bertujuan agar Al-Qur’an dapat dipahami dengan baik dan mudah serta dapat menjawab berbagai persoalan sosial kemasyarakatan yang terjadi pada masa nabi Muhammad. Dialektika ini kemudian diistilahkan oleh Nashr Hamid sebagai “al-Qur’an muntaj wa muntij tsaqafi” (Naqd al-Khiṭṭāb: 51), yakni Al-Qur’an merespon budaya dan realitas yang ada kemudian menumbuhkan budaya dan realitas baru.

Secara umum, pada tahap ini Al-Qur’an disampaikan melalui tiga cara, yaitu: Pertama, malaikat Jibril langsung memasukkan wahyu ke dalam hati nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini beliau sama sekali tidak melihat wujud apapun, ia hanya merasa ayat Al-Qur’an sudah berada di dalam hatinya sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Syu’ara [26]: 193-194 “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.”

Baca Juga: Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

Kedua, malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Rasulullah, baik dalam wujud aslinya maupun dalam bentuk manusia. Kemudian Jibril menyampaikan ayat Al-Qur’an sebagaimana yang diceritakan dalam kronologi pewahyuan QS. ‘Alaq [96]: 1-5. Ketiga, Wahyu datang secara tiba-tiba seperti gemerincing lonceng. Dikisahkan bahwa cara ini adalah proses paling berat yang dirasakan Baginda Nabi Saw. Terkadang kening beliau berkeringat meskipun sedang musim dingin dan terkadang beliau terpaksa berhenti lalu turun dari unta karena merasa berat ketika wahyu datang. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...