Beranda Tafsir Tematik Keunikan dan Rahasia Lailatulqadar

Keunikan dan Rahasia Lailatulqadar

Termasuk ‘keunikan’ di bulan Ramadan adalah lailatulqadar. Alquran memberi status malam tersebut dengan suatu waktu yang lebih baik dari seribu bulan. Namun demikian, petunjuk lebih jelas tentang malam tersebut masih sangat misterius, detail waktu dan ciri-cirinya yang lain. Untuk itu, tidak heran jika para ulama ‘berlomba-lomba’ untuk memberi penjelasan tentang rahasia lailatulqadar tersebut.

Lailatulqadar adalah suatu keistimewaan yang diberikan khusus kepada umat Muhammad saw. Di dalam kitab Ahkamul Qur’an li Ibni Arabi, juz 4, hal. 428 Ibnu Arabi mengutip penjelasan Imam Malik dalam Muwattha-nya bahwa Rasulullah saw. diperlihatkan umat terdahulu yang usianya ratusan tahun, lalu Rasulullah saw. pesimis bahwa usia umatnya tidak akan sampai pada angka tersebut, sehingga Allah swt. memberi keistimewaan umat ini dengan adanya lailatulqadar yang lebih utama dari seribu bulan.

Penjelasan tersebut adalah hadis riwayat Ibnu Qasim dan lainnya. Dari penjelasan tersebut kita sebagai umat Muhammad tidak perlu pesimis apalagi iri dengan umat terdahulu yang dikasih Allah jatah umur yang panjang untuk beribadah kepadanya.

Dengan lailatulqadar inilah umat Muhammad bisa meraup kebaikan dan keistimewaan yang bisa menandingi umat terdahulu yang usianya ratusan tahun. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri untuk bisa mendapatkan lailatulqadar ini, dan kita harus memantaskan diri agar dipertemukan dengan malam yang sangat mulia ini. Sebab waktu istimewa akan diberikan kepada seseorang yang istimewa pula.

Baca Juga: Malam yang Diberkahi Lailatul Qadar atau Nishfu Syaban?

Rahasia lailatulqadar

Berbicara lailatulqadar maka kita teringat Q.S Al-Qadr [97]: 1-5.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ. تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ .ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

Artinya: Sesungguhnya kamu telah menurunkan (Al-Quran) pada malam qadar. Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat dan Ruh (jibril) dengan zin tuhanya untuk mengatur semua urusan. Sejahterahlah (malam itu) sampai terbit fajar.

Ayat ini secara spesifik mengkabarkan bahwa sesungguhnya Allah Swt. menurunkan Al-Quran pada malam mulia dan diberkahi. Malam tersebut diyakini adalah lailatulqadar yang ada pada bulan Ramadan, sebagaimana Allah swt. berfirman dalam ayatNya yang lain, yaitu Q.S. Al-Baqarah [2]: 185. (Ibnu Kasir, Tafsir Ibnu Kasir, juz 8 hal. 144).

Allah mengkhusukan malam ini sebab pada malam ini Alquran diturunkan. Lalu dikatakan bahwa pada malam ini lebih baik dari pada seribu bulan. Ibnu jarir At-Tabari dalam tafsirnya mengutip hadis riwayat Amru bin Qois bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah amalan ketika lailatulqadar itu lebih baik daripada amalan seribu bulan yang tidak akan dijumpai kecuali pada malam itu. (At-Tabari, Jamiul bayan, Juz 24, hal. 545).

Juga pada malam itu dengan izin Allah Swt. para malaikat termasuk malakat jibril turun ke bumi untuk menebarkan salam kepada orang-orang beriman yang secara khusus mendapatkan lailatulqadar. Demikian lanjutan At-Tabari menggambarkan keadaan lailatulqadar.

Baca Juga: Surah Al-Qadr [97] Ayat 3: Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan

Lantas kapan lailatulqadar itu?

Rahasia lailatulqadar pertama adalah waktunya. Tidak ada yang bisa memprediksi secara persis kapan terjadinya lailatulqadar ini, Allah Swt. sengaja merahasiakanya agar hambanya mau berlomba-lomba mempersiapkan mencari keutamaan malam yang misterius ini. Meski begitu, ulama banyak melakukan prediksi mengenai waktu tersebut.

Di dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Atsqalani memaparkan bebarapa pendapat para ulama mengenai waktu terjadi lailatulqadar. Ibnu Hajar mengatakan terdapat 45 pendapat ulama mengenai waktu lailatulqadar, akan tetapi dari banyaknya pendapat, yang paling rajih (unggul) adalah jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Jatuhnya di malam yang berbeda pada setiap tahunya.

Dari sepuluh malam terakhir ini pun, yang berpotensi terjadi lailatulqadar menurut para ulama adalah pada malam ganjil, antara lain tanggal 21 dan 23 Ramadan. Sebagaimana pendapat Imam Syafii. Sementara menurut pendapan ulama yang lain adalah malam tangal 27 Ramadan. (Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fathul Bari, juz 5, hal. 569).

Pendapat ini berpijak pada hadis Rasulullah Saw. dari Aisyah r.a sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُجَاوِرُ فِيْ اْلعِشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ, وَيَقُوْلُ ( تَحَرُّو لَيْلَةَ القَدرِ فِيْ العَشْرِ الاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari Aisyah ra pula, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Carilah lailatul qadar itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan.” (HR. Bukhari).

Dari hadis diatas, Ibnu Hajar mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa lailatulqadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan bertepatan pada malam-malam ganjil antara 21, 23, 25 & 27.

Ini masih prediksi dari para ulama, untuk kapan waktu pastinya, hanya Allah yang tahu. Dengan kesamaran lailatulqadar ini membuat ‘pemburuan’nya akan semakin seru, dan tentu membuat persiapan setiap orang berbeda.

Baca Juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Lantas siapakah hamba istimewa yang mendapatkan lailatulqadar?

Rahasia lailatulqadar berikutnya adalah orang yang mendapatkan keutamaan malam ‘unik’ ini. Menurut Quraish Shihab, penulis Tafsir Misbah mengatakan bahwa hamba yang akan mendapat lailatulqadar adalah dia yang senantiasa mempersiapkan diri menggapai malam itu, mereka yang memiliki hati damai, jiwa damai, dan termasuk damai dengan orang lain.

Lebih lanjut Abil Fadl Al-Ghumari dalam kitabnya, Ghayatul Ihsan menjelaskan tanda-tanda seseorang yang mendapatkan lailatulqadar sebagai berikut: Pertama, seseorang yang bisa menemukan lailatulqadar hanyalah orang yang sedang melakukan sujud. Kedua, tampaknya cahaya pada setiap sudut tempat, bahkan tempat tempat yang gelap gulita. Ketiga, mendengar suatu panggilan dari malaikat. Keempat, tanda-tanda lainnya adalah diterima doa orang yang menemukan lailatulqadar.

Pendapat tersebut berlainan dengan pendapat Imam At-Thabrani, Dia mengatakan bahwa mereka yang mendapat lailatulqadar tidak harus melihat sesuatu ataupun mendengar sesuatu.  Dengan begitu baik mereka yang mengetahui tanda-tanda tersebut dan yang tidak tahu, bisa jadi akan mendapat keistimewaan lailatulqadar. Menemukan dan mendapatkan lailatulqadar diukur dari persiapan seseorang dalam menyambut malam mulia tersebut. Wallahu a’lam.

Abdullah Rafi
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...