Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menyimpan khazanah naskah manuskrip kuno pembelajaran Al-Qur’an yang begitu melimpah dan tersebar luas, baik sebagai koleksi perpustakaan, pesantren, koleksi pribadi, maupun yang sudah didigitalisasi. Termasuk tiga naskah yang akan dibahas dalam artikel ini merupakan warisan naskah dari Jawa Barat. Pertama, naskah Tafsīr al-Jalālayn Kuningan (Cod. DS001500003); Kedua, naskah surat-surat pendek KBN 843 Bandung (Cod. DS002900280); dan naskah Kafiyat Khatm Qur’an (Cod. DS015600018).
Naskah Tafsīr Al-Jalālayn Kuningan
Naskah pertama, naskah manuskrip koleksi pribadi Mansur Yunus yang berada di Kuningan yaitu naskah Tafsir Al-Qur’an. Materialitasnya terdiri dari 298 halaman kertas Eropa, dengan 2 halaman kosong. Setiap folio berukuran 33×20 cm, sampul naskah berukuran 33×20 cm, sedangkan blok teks berukuran 23,5×13 cm.
Naskah ini berupa salinan Tafsīr al-Jalālayn karya Jalal al-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuti yang kemungkinan ditulis oleh Daeng Waqa’ di Ciporang, Cirebon. Penulis belum mengetahui secara pasti mengapa naskah yang disalin di Cirebon bisa berada di Kuningan. Namun, Kuningan merupakan pintu gerbang Islam di Jawa Barat, sehingga manuskrip ini menjadi bagian penting yang memberikan wawasan berharga tentang sejarah intelektual Islam di wilayah ini (Luthfillah, 2024).

Gambar DS001500003 f. 1r

Gambar kolofon DS001500003 f. 144v
Naskah salinan Tafsīr al-Jalālayn ini ditulis menggunakan diakritik, memiliki catatan atau glosarium antar baris yang dominan berbahasa Jawa dengan aksara Arab dan catatan tepi (marginal) berbahasa Arab. Secara umum catatan antar baris adalah terjemah dari teks asli, sedangkan catatan tepi berisi penjelasan atau kutipan catatan penting lainnya.
Ayat Al-Qur’an ditulis dengan tinta merah, sedangkan isi tafsir, tanda diakritik, dan terjemah antar baris dengan tinta hitam. Menariknya naskah tafsir daerah Jawa biasa disebut tafsir ber-jenggot karena memiliki terjemah antar baris yang menyerupai helai-helai jenggot.
Baca juga: Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT
Di bagian akhir naskah terdapat teks yang berisi khotbah pernikahan, penjelasan tentang tata cara shalat bagi orang yang telah meninggal, dan catatan tentang rahasia gerhana bulan juga matahari yang terjadi pada bulan-bulan tertentu (DREAMSEA, n.d.-c).
Naskah KBN 843 Bandung
Naskah kedua, naskah manuskrip koleksi YAPENA yaitu naskah Tafsīr Al-Fātiḥah dan Jampi Adus yang tersimpan di École Française d’Extrême-Orient (EFEO) Bandung. Materialitasnya terdiri dari 19 halaman kertas Eropa dengan watermark “Superfin 1897”. Dimensinya berukuran 16,5 x 11 cm, blok teks berukuran 14 x 8,5 cm. (DREAMSEA, n.d.-a)

Gambar DS002900280 f. 1v
Berbeda dengan naskah salinan Tafsīr al-Jalālayn, naskah KBN 843 merupakan naskah perpaduan antara bahasa Sunda dan Jawa dengan tulisan aksara Arab Pegon yang menunjukkan praktik adaptasi bahasa, sastra, dan budaya lokal dari masa ke masa. Pada umumnya teks ditulis dengan tinta hitam, namun di beberapa halaman ada yang memakai warna ungu. Naskah ini juga berupa salinan yang ditulis oleh Bapak Endjum pada abad ke-19 di daerah Batukarut, Pameungpeuk, Bandung.
Penulis merasa terpukau dengan naskah KBN 843 ini, sebab naskah dibuka dengan pupuh Asmarandana, yaitu “Pupuh asmarandana, bismillah ieu kitab nu ditulis tafsir Fatihah nu nyata asal nurod Jawa keneh diganti ku basa Sunda”.
Pupuh Asmarandana merupakan salah satu jenis pupuh yang berasal dari tradisi sastra Sunda. Pupuh Asmarandana melambangkan nafsu, cinta, atau kasih sayang. (Budi, 2024). Begitu pula dalam naskah ini, naskah diperindah dengan sentuhan seni sastra lokal sebagai bentuk usaha penulis dalam menyebarkan ilmu keagamaan.
Baca juga: Naskah-Naskah Mushaf Makna Antarbaris di Nusantara
Naskah Kafiyat Khatm Qur’an Sukabumi
Naskah ketiga, naskah manuskrip koleksi Pesantren Nurul Fata yang letaknya di Sukabumi yaitu naskah yang berisi kompilasi do’a dari Al-Qur’an, sanad, fikih, dan tasawuf. Sampul naskahnya berukuran 16,7 x 11,5 cm, ukuran kertas manuskrip 16 x 11 cm, dan blok teks 12,5 x 6 cm. Terdiri dari 292 halaman dengan 3 halaman kosong. (DREAMSEA, n.d.-b) Naskah ini berupa litograf yang dicetak dan salinan yang belum diketahui siapa penyalinnya. Penulisan teks umumnya menggunakan tinta hitam, di beberapa halaman terdapat catatan dan penanda yang beragam warna, seperti warna merah, hijau, oren, ungu, coklat, dan biru.

Gambar DS015600018 f. 2v dan f. 1v
Sekilas penulis gambarkan naskah Sukabumi ini. Tulisannya menggunakan bahasa Arab, namun sebagian juga menggunakan bahasa Sunda dengan aksara Arab Pegon. Di bagian awal naskah terdapat daftar isi yang memudahkan bagi pembaca untuk menelusuri bagian mana yang akan dipelajari atau dilihat.
Baca juga: Tafsir Alquran Aksara Pegon yang Dikenal dalam Tradisi Tafsir Pesantren
Dari ketiga naskah yang telah dipaparkan secara singkat di atas, terlihat bagaimana dinamika pembelajaran Al-Qur’an di Jawa Barat. Meskipun tidak mencerminkan keseluruhan tradisi di Jawa Barat, tetapi setidaknya memberikan gambaran bahwa manuskrip kuno yang ada bukan hanya sekedar peninggalan tanpa arti, tetapi menyimpan banyak ilmu pengetahuan, wawasan, dan menjadi warisan intelektual Islam yang dipahami juga dipelajari secara lokal melalui adaptasi, perpaduan bahasa, budaya, bahkan metode yang khas sehingga mudah diingat masyarakat setempat.
Betapa luar biasa keilmuan bisa turun temurun dari zaman dahulu hingga sekarang. Setiap orang bisa berguru ke ulama manapun, kemudian dituliskan dalam kertas demi kertas yang memungkinkan perbedaan judul atau subjek dari isi sehingga kaya akan pemahaman. Tentunya, Al-Qur’an bukan hanya dimaknai secara tekstual tetapi menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan lokal yang hidup, termasuk di Jawa Barat. Naskah berupa litograf pun menandakan evolusi teknologi penulisan dan penyebaran ilmu agama yang semakin modern dengan tetap mempertahankan nilai tradisi melalui bahasa dan aksara yang dipakai.
Sebagai kesimpulan, dari ketiga naskah ini dapat dipahami bahwa dinamika pembelajaran Al-Qur’an di Jawa Barat mencerminkan perpaduan harmonis yang terus bertransformasi antara warisan klasik Islam dengan kreativitas lokal dan penyesuaian terhadap konteks budaya serta teknologi yang terus berkembang. Keberagaman bahasa, aksara dan bentuk penyajian naskah menunjukkan pembelajaran Al-Qur’an di daerah Jawa Barat bersifat dinamis, inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman, serta digitalisasi naskah-naskah Nusantara menjadi sangat penting sehingga bisa diakses oleh siapapun yang ingin belajar dan memahami naskah kuno Asia Tenggara, khususnya Nusantara Indonesia.

















