Beranda Kisah Al Quran Kisah Bani Israil Dalam Al-Quran dan Hidangan Dari Langit

Kisah Bani Israil Dalam Al-Quran dan Hidangan Dari Langit

Dalam Al-Quran kisah bani Israil banyak diceritakan. Jika ditelusuri secara literal, maka dapat ditemukan bahwa kata bani Israil terulang sebanyak 43 kali dalam Al-Qur’an. Namun jika ditelusuri secara maknawi, dapat ditemukan banyak kisah bani Israil, terutama surah al-Baqarah yang mayoritas ayatnya berbicara mengenai sejarah nabi terdahulu dan bani Israil.

Salah satu kisah bani Israil yang diceritakan Al-Qur’an adalah kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit. Kisah ini dapat ditemukan dalam Surat al-Maidah ayat 111 sampai 115. Secara umum ayat-ayat ini berbicara mengenai umat nabi Isa yang diberi Allah Swt nikmat berupa hidangan makanan dari langit untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Alkisah, pada suatu hari nabi Isa memerintahkan Hawariyyun dan umatnya untuk berpuasa selam 30 hari. Setelah selesai, mereka meminta kepada nabi Isa agar diturunkan hidangkan bagi mereka sebagai bukti bahwa Allah Swt telah menerima puasa mereka dan supaya hati mereka menjadi tenang. Nabi Isa kemudian memenuhi permintaan tersebut sebagai bentuk perayaan bagi mereka.

Pada hari itu semua golongan umat nabi Isa bersiap, mulai dari yang muda, yang tua, yang miskin, hingga yang kaya. Mereka semua berkumpul menunggu permintaan dikabulkan. Nabi Isa – sebelum meminta kepada Allah Swt – menasihati mereka dan merasa khawatir sekiranya mereka tidak mau bersyukur dan menaati syarat-syaratnya. Namun, mereka semua tetap bersikeras meminta.

Baca Juga: Bagaimana Kisah Harut dan Marut Sebenarnya dalam Al-Quran?

Tatkala mereka tak mau mengurungkan niat dan permintaan tersebut, maka nabi Isa bangkit menuju tempat shalat, mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu, berdiri di atas kedua kakinya, menundukkan kepala dengan air mata bercucuran, merendahkan diri di hadapan Allah Swt seraya berdoa dan memohon agar permintaan umatnya dikabulkan (Kisah Para Nabi dan Rasul: 870).

Kemudian doa nabi Isa dijawab oleh Allah Swt dengan menurunkan hidangan dari langit dan Umat nabi Isa melihat hal tersebut dengan mata kepala mereka sendiri. Hidangan turun dari langit melalui sela-sela diantara dua awan. Kemudian hidangan tersebut sedikit demi sedikit mulai mendekati mereka. Pada saat bersamaan, Nabi Isa berdoa semoga itu merupakan nikmat Allah Swt, bukan azab-Nya.

Ketika hidangan sampai di hadapan nabi Isa dan kaumnya, beliau berdiri dan berkata, “Dengan menyebut nama Allah, sebaik-baik pemberi rezeki.” Hidangan tersebut terdiri dari tujuh ikan laut dan tujuh roti. Ada yang mengatakan cuka dan ada pula yang mengatakan itu adalah buah delima serta buah-buahan lainnya. Terlepas dari itu semua, hidangan ini merupakan makanan dari Allah Swt.

Lantas nabi Isa memerintahkan umatnya untuk menikmati hidangan dari langit tersebut. Namun mereka malah berkata, “Kami tidak akan makan sebelum kamu makan.” Nabi Isa menjawab, “Kalianlah yang meminta hidangan ini.” Mereka menolak untuk memakan lebih dulu karena khawatir hidangan tersebut merupakan azab dari Allah Swt (Kisah Para Nabi dan Rasul: 871).

Kemudian nabi Isa memerintahkan orang-orang fakir, orang-orang yang kekurangan dan orang-orang tua dengan penyakit menahun yang berjumlah Jumlah sekitar 1.300 orang untuk memakannya. Setelah menikmati hidangan, atas izin Allah setiap penyakit dan disfungsi anggota tubuh mereka semua sembuh total. Ini membuat orang-orang yang tidak mau memakannya sangat menyesal.

Dikisahkan bahwa hidangan Allah Swt yang turun dari langit ini diberikan sekali dalam sehari. Karena sudah ada bukti keamanan dan khasiat hidangan tersebut, maka orang-orang – yang berjumlah sekitar 6.000 orang – mulai berani memakannya. Namun mereka yang memakan hidangan hanya mendapatkan rasa kenyang, tidak sebagus khasiat pertama kali.

Setelah beberapa waktu, hidangan ini tidak lagi turun setiap hari, tetapi berselang satu hari sebagaimana pemanfaatan unta nabi Shalih yang susunya sehari diminum oleh orang-orang dan sehari tidak diminum. Kemudian Allah Swt memerintahkan nabi Isa untuk memberikan hidangan tersebut hanya kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan, tidak termasuk orang kaya.

Tindakan nabi Isa di atas lalu mendapatkan beberapa protes dari orang-orang kaya dan orang-orang munafik. Bagi mereka, hal ini sangat tidak adil dan menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat protes tersebut, kemudian Allah Swt memberhentikan pemberian hidangan dan merubah orang-orang yang mempersoalkan distribusi menjadi binatang, yakni babi.

Baca Juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Bani Israil dan hidangan dari langit juga diceritakan dalam sebuah hadis mauquf riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang berujung kepada Sa’id bin Abi ‘Urbah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Hidangan turun dari langit yang terdiri dari roti dan daging. Mereka (umat nabi Isa as) diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak membawanya untuk hari esok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan membawanya, sehingga wujud mereka dirubah menjadi babi-babi.”

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan rincian kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit ini. Jumhur ulama mengatakan bahwa hidangan memang diturunkan dari langit sebagaimana literal ayat Al-Qur’an. Namun Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri menolak pendapat tersebut. Menurut keduanya, kata turun pada Surat al-Maidah ayat 115 hanyalah sebuah kiasan.

Terlepas dari perdebatan ulama mengenai realitas kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit dan serba-serbinya, kisah ini mengajarkan kepada pembaca agar mensyukuri nikmat Allah Swt sebesar atau sekecil apapun itu dan agar tidak iri dengan nikmat orang lain. Karena jika seseorang melakukan hal tersebut – bisa jadi – nikmat yang dimilikinya akan diangkat oleh Allah Swt. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Surah An-Nur ayat 26

Surah An-Nur Ayat 26: Penjelasan Ayat dan Konsep Jodoh

0
Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Kita tentu familiar dengan kaidah ini. Kaidah ini diambil dari ayat Alquran Surah...