Beranda Kisah Al Quran Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Quran: Refleksi Kepatuhan Terhadap Guru

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Quran: Refleksi Kepatuhan Terhadap Guru

Kisah nabi Musa dan nabi Khidir adalah salah satu kisah dalam Al-Qur’an yang paling terkenal. Kisah ini bercerita tentang perjalanan pengembaraan ilmu nabi Musa as ketika berguru perihal hikmah dan spritualitas dengan salah seorang hamba Allah swt yang telah dianugerahkan ilmu laduni (hikmah dan ma’rifah), yakni nabi Khidir as.

Kisah nabi Musa dan Nabi Khidir ini diceritakan lengkap dalam Al-Qur’an, yakni pada surah al-Kahfi [18] ayat 60-82. Menurut sebagian ulama, kisah ini merupakan bentuk pengajaran Allah swt kepada kita bahwa selalu ada orang yang lebih berilmu daripada kita. Oleh karenanya jangan pernah berlaku angkuh dan sombong. Di sisi lain, kisah ini juga mengajarkan tentang kepatuhan terhadap guru.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir Dalam Al-Qur’an: Refleksi Kepatuhan Terhadap Guru

Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari diterangkan bahwa kisah nabi Musa dan nabi Khidir bermula ketikan nabi Musa melakukan pidato di tengah kerumunan bangsa Israil. Pada waktu itu, salah seorang dari mereka bertanya kepada nabi Musa, “Siapa manusia yang paling berilmu?” nabi Musa merenung sejenak dan mengingat-ingat setiap orang di sekitarnya dan menjawab, “Aku.”

Baca Jugaa: Belajar Metode Demonstrasi dari Kisah Nabi Khidir dan Musa

Allah swt kemudian menegur Nabi Musa karena tidak menyatakan yang paling tahu adalah Allah. Dia kemudian mewahyukan kepadanya, “Sungguh, Aku memiliki seorang hamba-Ku di pertemuan antara dua lautan, dan lebih berilmu dari kamu.” Mendengar firman Allah yang dibawa Jibril, Nabi Musa sadar bahwa dia terburu-buru menyampaikan jawaban.

Setelah mendengar penjelasan Allah swt melalui malaikat Jibril, nabi Musa menjadi penasaran, siapakah gerangan hamba alim yang dimaksud itu dan bagaimana keadaannya? Kemudian dengan tekad yang bulat beliau berkeinginan bertemu dengan hamba Allah itu untuk mengunjunginya sekaligus menimba ilmu pengetahuan kepadanya (Qashash al-Anbiya: 571).

Alkisah, nabi Musa bertemu dengan nabi Khidir di antara pertamuan dua laut. Lalu Khidir berkata, apa yang engkau inginkan wahai Musa?” Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan, “Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya.”

Khidir berkata, “Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.” Musa menjawab, “In sya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun.”

Pada waktu itu, agar dapat pergi dengan nabi Khidir, nabi Musa diberi syarat untuk tidak mengomentari apapun. Setelah persyaratan disepakati, akhirnya Musa pergi bersama Khidir. Ketika Mereka berjalan di tepi laut, ada sebuah perahu yang berlayar, lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka.

Para pemilik perahu mengenal Khidir, lantas mereka pun membawanya beserta Musa tanpa meminta upah sedikit pun. Namun, nabi Musa dibuat terkejut, karena nabi Khidir melubangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.

Musa berkata, “Apakah engkau melubanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang tercela,” Mendengar pertanyaan lugas Musa, Khidir menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar tidak mungkin dilakukan. Nabi Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap pembelajaran dilanjutkan.

Perjalanan lalu dilanjutkan dan mereka menemui sebuah kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan tertidur. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat Khidir membunuh anak kecil yang sedang tidur itu. Musa kembali berkomentar, namun segera berhenti setelah Khidir mengingatkan bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya.

Perjalanan mereka berakhir di suatu desa, di mana warganya sangat pelit karena tidak ada satu pun warga yang mau memberikan tempat penginapan atau makanan. Namun, lagi-lagi Musa dibuat terkejut melihat gurunya Khidir, karena pada malam hari ia memperbaiki sebuah rumah di desa itu. Padahal mereka sama sekali tidak menerima kebaikan dari warga desa (Qashash al-Anbiya: 579).

Musa kemudian berkata, “Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan bangunan itu.” Mendengar perkataan ini, Khidir berkata kepadanya, “Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku.” Khidir mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkan bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.

Kisah nabi Musa dan nabi Khidir Al-Qur’an ini ditutup dengan penjelasan berbagai hikmah dari tindakan-tindakan nabi Khidir. Beliau berkata, “Perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”

“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan aku khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Aku berdoa supaya Tuhan mereka mengganti dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).”

Baca Juga: Kisah Qarun Dalam Al-Quran: Orang Paling Kaya Pada Zaman Nabi Musa

“Adapun penjelasan tentang  rumah yang aku renovasi di suatu desa,  karena rumah itu adalah kepunyaan anak yatim yang di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya ketika mereka dewasa barulah simpanan tersebut dikeluarkan sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, aku melakukan ini semua atas petunjuk Allah swt.”

Dari kisah nabi Musa dan nabi Khidir di atas, ada beberapa hal yang dapat dipelajari, yaitu: Seorang guru memiliki otoritas tertentu terkait pembelajaran dan murid sepantasnya tidak berkomentar atas hal-hal yang dia tidak pahami. Murid sebaiknya memiliki kepatuhan terhadap guru terkait dengan aturan-aturan yang ditetapkan si guru. Adapun jika ada sesuatu yang ditanyakan atau dikritik, maka hendaknya disampaikan dengan baik. Jangan sampai pertanyaan atau kritik jatuh ke arah ketidakhormatan dan ketidaksukaan. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...