BerandaTafsir TematikKorban Palestina, Apakah Mereka Gugur Begitu Saja?

Korban Palestina, Apakah Mereka Gugur Begitu Saja?

Sudah lebih satu bulan berlalu, konflik yang terjadi antara Israel dan kelompok militan Hamas Palestina yang meletus sejak 7 Oktober 2023 terus memakan korban. Menurut Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), sampai hari ke-44 perang, yakni 19 November 2023, jumlah total korban jiwa Palestina mencapai 13.216 orang.

Sungguh teriris hati ini melihat banyak saudara muslim Palestina yang terzalimi, disiksa dan ditindas sedemikian rupa, tetapi hanya sedikit yang bisa kita lakukan; berunjuk rasa dijalanan, melakukan dukungan lewat media sosial, memboikot produk-produk zionis Israel, serta mendoakan mereka. Aksi yang dilakukan sampai saat ini memang belum bisa berdampak besar, namun itu lebih baik daripada hanya diam tanpa melakukan apa-apa.

Namun di sisi lain, melihat dari banyaknya korban dari kekejaman tersebut, sebagai seorang muslim yang memiliki rasa keimanan yang tinggi, seharusnya merasa iri kepada mereka para korban di Palestina. Mengapa demikian? Karna sesungguhnya kematian mereka bukanlah kematian yang sia-sia. Mereka dizalimi, mereka dianiaya sedemikan rupa. Mereka, muslim Palestina, meninggal dalam keadaan memperjuangkan harta, keluarga, tanah air serta agama mereka. Mereka mati dalam keadaan jihad fii sabilillah.

Baca Juga: Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran: Klasifikasi dan Kontekstualisasinya Di Era Kekinian

Jihad merupakan ketaatan badan yang paling utama dan paling berat bagi jiwa, karena membawa kepada kematian. Orang-orang mencintai dunia karena ingin hidup di sana, bahkan tindakan sehari-hari yang mereka lakukan juga bertujuan agar dapat hidup di sana.

Sudah menjadi maklum, bahwa hal yang dicintai tidaklah ditinggalkan oleh orang-orang yang berakal selain untuk memperoleh hal yang lebih dicintai lagi. Maka Allah Swt memberitahukan bahwa orang yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah menjadi tinggi dan agar agama-Nya menjadi tegak, pada hakikatnya ia tidak kehilangan kehidupan yang dicintainya itu, bahkan ia memperoleh kehidupan yang lebih besar dan lebih sempurna dari apa yang diperkirakan.

Sebagaimana dalam Q.S Albaqarah [1]:154:

وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتُۢۚ بَلۡ أَحۡيَآءٞ وَلَٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ ١٥٤

Dan janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.

Kemudian dijelaskan juga dalam Q.S Ali ‘Imran [3]:169-171:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا۟ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ (171)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 154: Merenungi dan Meneladani Spirit Hari Pahlawan

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa janganlah kita mengatakan kepada orang-orang yang mati syahid dalam perjuangan dan jihad yang murni bahwa mereka mati. Sebab mereka sebenarnya hidup di dalam kuburan mereka, hidup dengan tipe kehidupan yang khusus dan ciri-ciri yang spesial. Mereka diberi rezeki, dengan suatu cara yang hanya diketahui oleh Allah.

Manusia yang masih hidup tidak dapat mengetahui hakikat kehidupan tersebut dengan standar indera semata, sebab itu adalah kehidupan gaib, di alam lain, dan memiliki model yang berbeda dari kehidupan dunia ini. Yang terpenting Allah Ta’ala sudah memberi tahu kepada manusia tentang adanya kehidupan itu, tidak perlu diteliti, tapi hanya cukup diimani.

Apa yang disebutkan di atas mengandung isyarat bahwa orang beriman yang mengorbankan dirinya demi memenangkan agamanya dan dakwah Tuhannya tergolong sebagai syahid yang meraih surga keabadian, dan mereka masih hidup, roh mereka berada di dalam tembolok burung-burung hijau yang terbang bebas di surga, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang sahih. (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Jilid 1, 300)

Nabi Saw memberitahukan dalam hadisnya bahwa ruh para syuhada berada di perut-perut burung hijau, di mana burung-burung itu mendatangi sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya, kemudian pulang ke lampu-lampu yang menempel di ‘Arsy.

إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طَيْرٍ خُضْرٍ تَسْرَحُ فِي الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مُعَلَّقَةٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَاطَّلَعَ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ اطِّلَاعَةً، فَقَالَ: مَاذَا تَبْغُونَ؟ فَقَالُوا: يَا رَبَّنَا وَأَيُّ شَيْءٍ نَبْغِي، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خلقك؟ ثم عاد عليهم بِمِثْلِ هَذَا فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَا يُتْرَكُونَ مِنْ أَنْ يَسْأَلُوا، قَالُوا: نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّنَا إِلَى الدَّارِ الدُّنْيَا فَنُقَاتِلَ فِي سَبِيلِكَ حَتَّى نُقْتَلَ فِيكَ مَرَّةً أُخْرَى- لِمَا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ الشَّهَادَةِ- فَيَقُولُ الرَّبُّ جَلَّ جَلَالُهُ: إِنِّي كَتَبْتُ أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لَا يَرْجِعُونَ.

Bahwa arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung-burung hijau yang terbang di dalam surga ke mana saja yang mereka kehendaki. Kemudian burung-burung itu hinggap di lentera-lentera yang bergantung di bawah ‘Arasy. Kemudian Tuhanmu menjenguk mereka, dalam sekali jengukan-Nya Dia berfirman, “Apakah yang kalian inginkan?” Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, apa lagi yang kami inginkan, sedangkan Engkau telah memberi kami segala sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun di antara makhluk-Mu?” Kemudian Allah mengulangi hal itu terhadap mereka. Manakala mereka didesak terus dan tidak ada jalan lain kecuali mengemukakan permintaannya, akhirnya mereka berkata, “Kami menginginkan agar Engkau mengembalikan kami ke dalam kehidupan di dunia, lalu kami akan berperang lagi di jalan-Mu hingga kami gugur lagi karena membela Engkau,” mengingat mereka telah merasakan pahala dari mati syahid yang tak terperikan itu. Maka Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memastikan bahwa mereka tidak dapat kembali lagi ke dunia (sesudah mereka mati). (HR. Muslim: 121) (Abu Yahya Marwan bin Musa, Tafsir Hidayatul Ihsan, 72-73)

Pada riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw menyebutkan derajat syahid bagi orang meninggal karena membela harta bendanya atau kepemilikannya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang gugur karena membela hartanya, maka ia mendapat derajat syahid,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan-keterangan di atas, jelaslah bahwasanya saudara-saudara muslim kita yang sekarang sedang memperjuangkan harta, keluarga, tanah air serta agama mereka, hakikatnya mereka sudah memegang kunci-kunci surga atas kematian mereka. Semoga mereka yang sekarang masih berjuang di sana diberikan Allah kekuatan dan kesabaran. Insyaa Allah kebaikan akan selalu menang sampai kapanpun.

Wallahu A’lam.

- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...