BerandaTafsir TematikKritik Allah kepada Bani Israil yang Membunuh para Nabi Terdahulu

Kritik Allah kepada Bani Israil yang Membunuh para Nabi Terdahulu

Bangsa Israil atau bani Israil merupakan sebuah kelompok etnis yang berasal dari keturunan Nabi Ibrahim a.s., khususnya melalui keturunan Nabi Ishaq a.s,, yakni anaknya yang bernama Ya’qub. Nabi Ya’qub adalah orang yang pertama kali dijuluki sebagai bani Israil karena ia memiliki kebiasaan melakukan perjalanan pada malam hari.

Pada mulanya, bani Israil dikenal sebagai bangsa pilihan. Namun, karena keingkaran dan kedurhakaan kepada Allah Swt. mereka kemudian dilengserkan dari posisi tersebut. Karena alasan itulah, di dalam Alquran cukup banyak kritikan terhadap sifat dan sikap bani Israil yang kerap durhaka. Hasilnya, mereka dikenal sebagai bangsa yang ingkar dan enggan bersyukur.

Kedurhakaan bani Israil tidak hanya terbatas pelanggaran sederhana, melainkan pelanggaran yang berujung pada dosa besar. Bahkan, bani Israil berani membunuh para nabi yang telah diutus kepada mereka. Ini tertuang dalam firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 91:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاۤءَهٗ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْۢبِيَاۤءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Alquran),” mereka menjawab, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Alquran) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?”

Baca juga: Bani Israil dan Ujian Kenikmatan yang Melalaikan

Secara umum, surah al-Baqarah ayat 91 berisi tentang kritik terhadap kepalsuan keimanan bani Israil. Mereka mengaku percaya kitab yang diturunkan oleh Allah, tetapi mereka ingkar terhadap Alquran yang dibawa Nabi Muhammad. Kepalsuan keimanan mereka juga dapat dilihat dari tindakan pembunuhan terhadap para nabi terdahulu.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azim, surah al-Baqarah ayat 91 merupakan kritik terhadap keimanan orang-orang dari bani Israil. Mana kala ditanya apakah mereka beriman kepada kitab yang diturunkan Allah Swt, mereka menjawab kami hanya beriman dengan Taurat serta Injil, dan kami tidak percaya pada selainnya, padahal mereka tahu bahwa Alquran adalah kitab yang benar-benar diturunkan oleh Allah Swt.

Karena pengakuan tersebut, yakni mengaku hanya beriman pada kitab terdahulu kecuali Alquran, Allah Swt. kemudian memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan, “Jika kalian benar-benar beriman dengan kitab Taurat dan Injil, lantas mengapa kalian membunuh para nabi terdahulu.” Ini merupakan kritik keras Alquran kepada kepalsuan keimanan bani Israil yang kerap membunuh para nabi terdahulu.

Baca juga: Runtuhnya Bani Israil: Ibrah Untuk Memulai dari Diri Sendiri 

Pandangan serupa disampaikan oleh Abu al-Fida’ dalam Tafsir Ruh al-Bayan. Menurutnya surah al-Baqarah ayat 91 berbicara mengenai kepalsuan keimanan bani Israil. Mereka mengaku beriman kepada kitab Taurat dan Injil yang diturunkan Allah Swt, namun ingkar kepada kitab Alquran yang menjadi pelengkap keduanya. Di samping itu, pengakuan iman tersebut juga palsu, karena mereka berani membunuh para nabi dan rasul.

Imam al-Baghawi menerangkan makna surah al-Baqarah ayat 91 adalah apabila ditanyakan kepada bani Israil apakah mereka beriman kepada Alquran, mereka menjawab, kami hanya beriman kepada Taurat. Lalu Allah memerintahkan Nabi Muhammad berkata, “Kalau benar demikian, lantas kenapa kalian membunuh para nabi jika kalian benar-benar beriman, padahal dalam Taurat kalian dilarang untuk membunuh para nabi?” (Ma’alim Tanzil fi Tafsir al-Qur’an: 122).

Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa surah al-Baqarah ayat 91 berisi tentang kritik Alquran terhadap kepalsuan keimanan bani Israil. Meskipun secara lisan mereka mengaku beriman kepada kitab terdahulu, tetapi kenyataannya secara faktual mereka tidak mengamalkan isi dari kitab tersebut. Bahkan mereka mengabaikannya dan membunuh para nabi dengan kejam.

Baca juga: Perpecahan dan Kemunduran Bani Israil: Presistensi Ilmuwan yang Tendensius

Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah nabi yang dibunuh oleh bani Israil, tetapi diduga jumlahnya cukup banyak. Imam al-Baidhawi pernah menyebutkan beberapa nama nabi yang dibunuh oleh bani Israil. Beliau berkata, “Bani Israil membunuh Isaia, Zakariya, Yahya, dan nabi-nabi lainnya, padahal mereka tahu itu tidak dibenarkan. Ini mereka lakukan karena mengikuti hawa nafsu dan terlalu cinta terhadap dunia (Tafsir al-Badhawi: 331).

Meskipun tidak ada dalil spesifik dari Alquran maupun hadis mengenai jumlah para nabi yang dibunuh oleh bani Israil, Ibnu Qayyim menuturkan, “Generasi bani Israil sepeninggal nabi Musa gemar membunuh para nabi. Mereka membunuh Zakariya dan banyak nabi lainnya. Hingga dalam waktu sehari mereka membunuh 70 nabi, lalu mereka mengadakan pasar di sore hari, seolah-oleh mereka tidak berbuat kesalahan apa pun.” (Hidayah al-Hayara: 19).

Baca juga: Bani Israil dan Kisah Pemuda Pemilik Sapi

Terlepas dari kesahihan riwayat jumlah nabi yang dibunuh oleh bani Israil, penjelasan itu sudah cukup menggambarkan bagaimana kedurhakaan dan kedurjanaan mereka kepada Allah Swt. Sebab, mereka tidak hanya melanggar perintah Allah, melainkan juga membunuh para nabi yang membawa pesan hikmah dari-Nya. Tindakan ini bisa dikatakan sebagai puncak kekufuran dan kekafiran bani Israil.

Di sisi lain, kritik Alquran terhadap kepalsuan keimanan bani Israil menjadi peringatan kepada umat Islam, bahwa setiap pengakuan keimanan haruslah dibuktikan secara nyata, baik melalui hati, lisan, maupun tindakan. Jika seseorang mengaku beriman kepada Allah Swt, maka sudah sepantasnya ia menaati segala perintahnya dalam berbagai keadaan. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Nasakh Perspektif Mahmud Muhammad Thaha

0
Dalam ranah Ulumul Qur’an, nasakh secara mengandung beberapa makna. Pertama, diartikan sebagai izalatun yakni penghapusan. Pemaknaan ini diambil dengan merujuk pada QS. Alhajj :...