Beranda Khazanah Al-Quran Manuskrip Mushaf Al-Quran dari Daun Lontar: Koleksi Kiai Abdurrachim asal Grobogan, Jawa...

Manuskrip Mushaf Al-Quran dari Daun Lontar: Koleksi Kiai Abdurrachim asal Grobogan, Jawa Tengah

“Indonesia adalah gudangnya manuskrip”. Kalimat tersebut agaknya tidak terlalu tendensius dan merasa superior karena memang adanya begitu. Hal tersebut telah dibuktikan sendiri oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Kementerian Agama dengan inventarisasi dan riset mengenai manuskrip mushaf Al-Quran di berbagai daerah pada tahun 2003 hingga 2005. Manuskrip –manuskrip tersebut dimiliki oleh baik perorangan, musium, perpustakaan, masjid, maupun pesantren.

Penyalinan mushaf Al-Quran di Nusantara ditengarai berlangsung dalam rentan waktu yang sangat lama, sekitar 6500 tahun. Diperkirakan telah ada sejak sekitar akhir abad ke-13, ketika era Kerajaan Samudera Pasai (kerajaan pesisir pertama di Nusantara yang memeluk Islam). Mushaf Nusantara tertua yang bisa diketahui saat ini tersimpan di Belanda yang menjadi koleksi William Marsden. Ali Akbar dalam Mushaf Al-Quran di Indonesia dari Masa ke Masa menerangkan bahwa mushaf tersebut berasal dari Johor, Malaysia tahun 1606 M.

Tetapi pada penghujung abad ke-19 M minat penulisan mushaf Al-Quran di Indonesia semakin berkurang seiring dengan masuknya era disrupsi teknologi. Bahkan Mustopa dalam Mushaf Kuno Lombok Telaah Aspek Penulisan dan Teks memperkirakan pembuatan manuskrip mushaf Al-Quran mulai berhenti pada awal abad ke-20. Manuskrip-manuskrip naskah tersebut masih dapat dijumpai hingga saat ini seperti manuskrip mushaf Al-Quran dari daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim asal Dusun Tarub, Tawangharjo, Grobogan Jawa Tengah yang akan dikaji dalam artikel ini.

Sekilas Mushaf Al-Quran Daun Lontar

Qona’ah dan Abdul Khalik dalam Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat) mengemukakan sejauh penelusuran, manuskrip mushaf Al-Quran yang ditulis di atas daun lontar tersebut bukan satu-satunya manuskrip yang ada di Indonesia.

Sejatinya masih banyak lagi manuskrip-manuskrip daun lontar yang ada di wilayah Indonesia seperti manuskrip Kiai Helmi dari Bogor yang mana merupakan pemberian dari seorang yang tidak diketahui identitasnya sehingga diyakini mengandung unsur mistis sebagaimana dituturkan Lu’luatun Latifah dalam Kekhasan Manuskrip Daun Lontar Milik Kiai Helmi (Kajian Filologi dan Resepsi).

Selain itu, tulisan Ali Akbar dalam situs Kemenag menginformasikan bahwa selain berwujud buku (codek), terdapat Al-Quran “kuno-kunoan” dalam bentuk salinan di atas daun lontar. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlunya riset mendalam terhada[ mushaf daun lontar ini, apakah manuskrip daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim ini juga termasuk Al-Quran “kuno-kunoan” tadi ataukah benar-benar memang manuskrip yang sudah berumur tua?

Manuskrip mushaf daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim ini berada di kediaman beliau belum terlalu lama. Asal-usulnya pun kurang jelas. Meski begitu, uniknya manuskrip ini tidak mempunyai syakal atau tanda baca sebagaimana mushaf-mushaf lainnya. Hal ini tentu semakin menimbulkan kecurigaan, apakah memang disengaja tidak diberi syakal agar terkesan “kuno” atau memang adanya begitu?. Maka perlu diadakan kajian rasm dan qiraat pada mushaf tersebut untuk mendeteksinya.

Baca juga: Jejak Qiraat Imam Nafi’ dalam Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan

Mushaf Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim

Mushaf ini merupakan koleksi kiai Abdurrochim, seorang tetua agama di Desa Tarub, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mushaf ini tidak mempunyai kode mushaf sebab termasuk kategori mushaf milik perorangan. Nama pengarangnya pun tidak disebutkan di dalamnya sekaligus nama penyalinnya. Namun status mushaf ini dimiliki kiai Abdurrochim.

Dari data yang diambil dari Qona’ah dan Abdul Khalik dalam Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat), Kiai Abdurrochim mengaku tidak banyak informasi yang diketahuinya terkait manuskrip tersebut. Konon mushaf ini adalah milik Kiai Thoyyib dari Jawa. Sebagaimana dikatakan Bapak Ahmadi, selaku pemegang mushaf kelima,

“yang membuat itu termasuke juga orang alim mbak Kiai Thoyyib bin Abdurrohman, asli keturunan Jawa dulunya pengasuh pondok. Usianya waktu menulis, ceritane sejak dulu ia belajar membaca Al-Qur‘an  dan menulis. ceritanya dulu orang mencari ilmu kemudian dapat istri anak kiai. Mushafnya ada banyak sekitar 9 mushaf, ada yang di Jawa, di Sumatra, dan ada yang dikasihkan, ada yang ditukar dengan ongkos mencari ilmu tadi. Saya mendapat mushaf yaitu awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)”

Artinya: yang membuat mushaf itu termasuk orang alim, namanya Kiai Thoyyib bin Abdurrohman, asli keturunan Jawa yang juga pengasuh pondok. Usianya ketika menulis yaitu sejak ia belajar membaca dan menulis. Ceritanya ia mencari ilmu disuatu pondok dan mendapat istri dari anak kiai tersebut. Mushafnya banyak yaitu sekitar 9 mushaf, ada yang di Jawa, di Sumatra, dan ada yang diberikan, ada pula yang ditukar dengan uang sebagai ongkos mencari ilmu tadi. Saya mendapat mushaf yaitu pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).”

Baca juga: Mushaf Sultan Ternate; Pernah Dianggap Tertua di Nusantara dengan Dua Kolofon Berbeda

Wawancara tersebut semakin mena’kidkan bahwa mushaf tersebut tidak hanya satu yang beredar melainkan terdapat 9 mushaf yang sama dan itu disengaja diproduksi dengan tujuan komersial. Pak Kiai Ahmadi mengaku memperoleh mushaf tersebut di era pemerintahan SBY (2004). Beliau juga menuturkan bahwa pembuatan mushaf tersevut adalah sejak awal pemerintahan Suharto. Berikut penuturannya,

Artinya: “Saking mrika nipun pemerintahan Soeharto, yang membuat masih remajaremajanya masih kentheng, di pesantren, Pak yai Thoyyib dari Jawa timur ceritane niku dulu kala orang musafir ngudi bidang diagama di Jawa Timur. Jawa Timurnya mana yo mbk, aku kurang jelas, beliau sampun sedo, terus nek wong kali jowo penurunya saja ceritane nganu og mbak waktu masih  pesantrennya sudah nggak ada ya penurunnya sekarang mungkin murid-murid seperti kita, seperti saya anggap seperti saya.”

Artinya: “Dari sananya yaitu pada pemerintahan Soeharto, yang membuat kerika masih remaja, masih sehat-sehatnya, membuatnya di pesantren, pak kiai Thoyyib dari Jawa Timur, Jawa Timurnya mana ya mbak, aku kurang jelas, beliau sudah meninggal. Kemudian kata penurunnya yaitu waktu beliau masih ada pesantrennya sudah tidak ada penurunnya, sekarang bisa jadi penurunnya adalah murid-murid seperti kita, saya anggap seperti saya.”

Kiai Ahmadi hanya memberikan keterangan bahwa dari pemberi pertama yakni sejak pada era pemerintahan Soeharto. Beliau mengatakan bahwa penulis mushaf ini adalah Kiai Thoyyib asal Jawa Timur. Kiai Thoyyib sudah meninggal, begitu pula tidak ada generasi yang melanjutkan tongkat estafetnya.

Dengan demikian, pada aspek penanggalan meskipun tidak terdapat informasi internal seperti penyebutan penulis maupun kepemilikannya, akan tetapi dapat dipastikan melalui bukti eksternal (wawancara dan uji sejarah dengan mengkomparasikan teknik penulisan), diperkirakan usia mushaf ini adalah 40 hingga 50 tahunan.

Identias Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar

Mushaf ini berukuran 50 x 40 x 6 cm, dengan rincian panjang lebar halaman secara full 50 cm dan lebar 40 cm. Sedangkan ukuran panjang dan lebar halaman yang digunakan untuk menulis adalah panjang 50 cm dan lebar 37 cm. Adapun ukuran yang tidak digunakan untuk menulis berukuran panjang 50 cm dan lebar 40 cm. Setidaknya ada 3 halaman yang tidak digunakan untuk menulis yaitu 1 halaman kosong pada lembaran awal, dan 2 halaman kosong pada lembaran paling akhir.

Mushaf ini disalin di atas daun lontar yang pada satu halamannya terdiri dari 16 daun lontar, di mana satu daun lontar memuat 3 baris sehingga 3 x 16 = 48. Jadi dalam satu naskah membutuhkan 48 baris pada setiap halamannya. Pengecualian untuk surat al-Fatihah dan awal surat al-Baqarah, hanya terdiri dari 8 baris plus nama suratnya.

Nama surat ditulis ditepi bagian kanan, kecuali Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah ditulis di tepi atas. Sampulnya terbuat dari pohon palem, mushaf ini tidak beriluminasi dan pada halaman awal menyisakan bagian kosong. Ditulis dengan tinta hitam, dan berbahasa Arab karena manuskrip ini adalah mushaf Al-Quran lengkap 30 juz. Terdapat dua kuras pada setiap halamannya, jika ditotal maka keseluruhannya terdapat 74 kuras.

Baca juga: Tayyar Altikulac: Filolog Muslim Pengkaji Manuskrip Al-Qur’an Kuno

Penomorannya menggunakan angka Arab diletakkan di setiap lembar bagian kiri dan tidak bolak balik, dimulai dari angka dua pada lembar daun ketiga, total jumlah keseluruhan halaman ada 39 halaman. Mengutip dari Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat), kondisi manuskrip ini kurang baik, jilidnya sudah renggang dan terdapat tulisan yang memudar.

Bahkan Surat Al-Anfal ditulis dua kali hal ini bisa jadi disengaja atau bisa juga penulis mushaf lalai sehingga mengalami redundan (ganda) pada mushaf. Kelalaian tersebut bisa jadi tergesa-gesa dalam menulisnya mengingat ketika wawancara penulis kepada pemilik mushaf bahwasannya mushaf tersebut sebenarnya ada 5 mushaf dan salah satunya sudah diperjualbelikan.

Mushaf ini juga tidak ada kolofon sehingga tidak terdapat informasi internal terkait penyalin dan tahun penyalinannya. Pada akhir halaman termaktub doa khotmil Al-Quran. Demikianlah perkenalan kita kepada manuskrip mushaf Al-Quran koleksi Kiai Abdurrochim dari Grobogan, Jawa Tengah. Wallahu A’lam.

Miatul Qudsia
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Analisis Makna Pegon pada Naskah Jalalain

Analisis Makna Pegon pada Naskah Tafsir Jalalain

0
Tak hanya melalui kolofon dan kertas yang digunakan, usia sebuah naskah kuno juga dapat diketahui dengan melakukan analisis terhadap isi teks yang tertulis di...