Beranda Tafsir Tematik Memaafkan Orang Lain Sebagai Bentuk Memerdekakan Diri

Memaafkan Orang Lain Sebagai Bentuk Memerdekakan Diri

Manusia tak akan luput dari kesalahan, termasuk saya, anda, dan mereka. Sejatinya orang baik adalah yang tidak memandang orang yang bersalah dengan kemarahan dan kebencian. Orang baik selalu mengedepankan belas kasih, berusaha mengikhlaskan dan dengan tulus memaafkan orang lain bahkan mendoakannya kebaikan.

Islam sendiri menekankan kepada umatnya untuk saling maaf-memaafkan, diterangkan dalam al-Quran bahwa ketika manusia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Allah akan memuliakan orang tersebut bahkan Allah sudah menyiapkan segudang pahala untuknya.

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٤٠

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura [42]: 40)

Tafsir Surah Asy-Syura [42] Ayat 40

Mengutip Tafsir as-Sa’di, Allah pada ayat ini menerangkan kebolehan kita membalas atas perilaku dzalim orang lain, yaitu dengan keadilan, seimbang dengan berat ringannya penganiayaan tersebut, tidak lebih dan tidak kurang, semisal harta dibalas dengan ganti rugi harta, nyawa dibalas dengan nyawa, dan setiap angggota tubuh dengan anggota tubuh yang sama.

Baca Juga: Analogi Surah al-Baqarah Ayat 155-156, Lima Ujian Yang Dihadapi Pelajar  

Senada penjelasan dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, balasan yang seimbang maknanya yakni jika kalian membalas orang yang menzalimimu maka janganlah membalas lebih dari kadar kezalimannya kepadamu. Mujahid dan as-Suddy mengatakan: balasan ini dalam tanggapan terhadap orang yang berkata buruk, jika orang itu berkata: “semoga Allah menghinakanmu” maka jika ia membalasnya maka harus dengan “semoga Allah menghinakanmu” tanpa menambahnya dengan ucapan buruk lain.

Namun ada yang lebih utama daripada itu semua, yaitu memaafkan dan berdamai dengan mereka yang melakukan kesalahan. Maka dari itu Allah dalam ayat ini menegaskan, “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah.” As-Sa’di menafsirkannya, Allah akan menganugerahkan balasan ganjaran yang sangat besar dan pahala yang sangat banyak. Hal itu mengandung himbauan untuk seorang hamba agar memberikan maaf kepada pelaku aniaya, karena perbuatan itu sangat dicintai oleh Allah. Sebagaimana ia senang diampuni oleh Allah, maka hendaklah ia mengampuni mereka, karena sesungguhnya ganjaran itu sejenis dengan perbuatan yang dilakukannya.

Quraish Shihab menambahkan penjelasannya, bahwa barangsiapa atas dasar cinta memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya, jika ia mampu dan memperbaiki kembali hubungannya dengan orang itu, akan memperoleh pahala dari Allah. Dia semata yang mengetahui besarnya pahala itu.

Hadis dan Teladan Rasulullah Membalas kepada Pelaku Aniaya

Sejarah mencatat betapa Rasulullah saw berulang kali mengalami penyiksaan, pengkhianatan, dan serangkaian rencana pembunuhan dari kaum kafir Quraisy.  Namun, Rasulullah Saw tidaklah sedikitpun di dalam hatinya memiliki rasadendam. Beliau malah justru memaafkan semua kesalahan yang dilakukan mereka kepada beliau. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang hebat bukanlah mereka yang menang dalam pergulatan. Namun, sesungguhnya orang yang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah, memaafkan serta mengampuni yang memiliki kesalahan dengannya.”

Menurut Syeikh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu’ah min Akhlaq ar-Rasul, memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama. Seperti yang disuriteladankan Baginda Nabi, jika orang lain mencerca kita, sebaiknya kita membalasnya dengan perkataan yang baik dan tidak memasukkannya kedalam hati, begitu juga ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, seharusnya kita bukan balik membalasnya dengan keburukan namun dengan memafkannya dan membalas dengan berbuat baik kepadanya. Karena Allah akan memberikan kemuliaan kepada kita selama memiliki sifat pemaaf dan senang berbuat baik.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Rasulullah Saw bersabda, “Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajat kalian? Para sahabat pun menjawab tentu wahai Rasulullah, kemudian Rasul bersabda, “Kalian harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.”

Nasehat Habib Ali al-Jufri, Memaafkan Orang Lain Itu Memerdekakan Diri

Memaafkan kesalahan orang lain, sesungguhnya membuka sebagian tirai pemahaman kita akan hakikat dunia ini. Ya, bahwa segala yang ada di dunia adalah tentang ketidaksempurnaan, termasuk manusia yang memang digariskan terlahir tak sempurna dan pasti pernah melakukan kesalahan, entah disengaja ataupun tidak, kesalahan itu pula yang bisa menyakiti atau membuat orang lain terluka hatinya. Itu berarti jika kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, sama halnya kita enggan menerima apa yang sudah ditakdirkan dalam kehidupan ini. Kita lupa bahwa di balik setiap kesalahan akan ada hikmah atau kebaikan yang bisa diambil. Bahwa sesungguhnya manusia sedang bertumbuh dan berproses menjadi orang yang lebih baik setelah melakukan kesalahan dan menyadarinya.

Baca Juga: Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

Memberi maaf orang lain, itu pertanda bahwa kita punya keberanian untuk mengakui bahwa diri kita sendiri juga bisa saja berbuat kesalahan yang sama, entah di masa lalu atau bahkan di waktu yang akan datang. Bukan tak mungkin kelak justru kita yang berbuat salah dan meminta maaf pada orang yang hari ini meminta maaf pada kita.

Habib Ali al-Jufri dalam suatu forum menerangkan kepada muridnya tentang ganjaran utama yang dimaksud bagi pemberi maaf, bahwa memberi maaf kepada yang bersalah akan menyelamatkan seseorang dari dampak gangguan yang lebih mendalam daripada gangguan yang awal, yaitu berupa hati seseorang yang selalu penuh dengan amarah, kebencian, dan kedengkian. Bila seseorang tidak melepaskan diri dari hal-hal tersebut, sesungguhnya hal itu malah akan benar-benar mengacaukan dirinya sendiri.

Saat kita enggan memaafkan kesalahan orang lain, hal itu justru menjadi beban dalam diri kita sendiri. Tidak mau memberi maaf sama halnya merawat luka di dalam diri. Tanpa sadar, kita justru sedang menyiksa atau menyakiti diri sendiri. Itu mengapa balasan untuk seorang pemaaf hakikatnya untuk kebaikan dirinya, memaafkan berarti memerdekakan diri kita, dengan memaafkan akan membuat kita sehat, karena kita dapat melangkahkan kaki dengan ringan ke manapun kita pergi dan kepada siapa pun kita ingin menemui, karena hati bahagia tanpa ada rasa dendam.[]

Rasyida Rifaati Husna
Khadimul ilmi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...