Beranda Kisah Al Quran Memahami Makna Seksualitas Perempuan Melalui Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Quran

Memahami Makna Seksualitas Perempuan Melalui Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Quran

Apa yang muncul di benak anda ketika mendengar kalimat Yusuf dan Zulaikha? tentu pikiran kita akan berselancar pada kisah cinta seorang perempuan mendalam yang merupakan istri seorang potifar kepada seorang laki-laki yang merupakan anak angkatnya. Cerita yang demikian pun digambarkan dalam Al-Quran pada QS. Yusuf [12]: 23-31.

Pembacaan terhadap surah Yusuf selama ini hanya berfokus pada sosok Yusuf sebagai tokoh utama, sehingga memungkinkan pemaknaan terhadap fragmen pertemuan Yusuf dan Zulaikha kurang mendapat perhatian mendalam. Jika pun ada, pemaknaan tersebut (khususnya tafsir), masih terkesan bias dalam perspektif gender. Beberapa tafsir yang penulis baca menilai bahwa ekspresi seksual yang dimainkan oleh Zulaikha tersebut digeneralisir sebagai perangai atau kodrat perempuan.

Sebagai Contoh Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebut tindakan Zulaikha menggoda Yusuf (wa rawadathu pada ayat ke-23) sebagai suatu yang normal, sebab perempuan yang telah berpengalaman dalam masalah seks akan cenderung sulit menahan hawa nafsunya.

Pada ayat ke-24 yakni pada kalimat wa laqod hammat bihi yang menunjuk pada Zulaikha dimaknai oleh Al-Maraghi sebagai memukul dan bukan menginginkan hubungan seksual. Sebab tidak mungkin (tidak normal) bagi perempuan meminta berhubungan seksual terlebih dahulu (seksual pasif). Selanjutnya Al-Zamakhsyari menafsirkan kalimat innahu min kaidikunna inna kaidakunna ‘adzim pada ayat ke-28 sebagai perempuan sumber tipu daya.

Beberapa penafsiran tersebut terkesan bias dalam kacamata gender. Padahal beberapa ulama’ seperti M. Quraish Shihab dan Hamka, menilai bahwa kisah ini merupakan kisah terbaik dalam Al-Quran (ahsan al-Qashash). Hal tersebut karena setiap fragmen kehidupan yang ditunjukkan dalam kisah tersebut mengandung pesan moral.

Baca Juga: Surat Yusuf Ayat 28 vs Surat An-Nisa Ayat 76, Benarkah Perempuan Lebih Berbahaya Daripada Setan?

Tafsir Egaliter Kisah Yusuf dan Zulaikha

Berangkat dari penafsiran yang masih bias tersebut, maka penting membaca ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan relasi laki-laki dan perempuan dengan pengalaman mengakomodir pengalaman perempuan, agar pemahaman ayat Al-Quran tidak kehilangan sisi emansipatorisnya.

Mengutip pernyataan Amina Wadud Muhsin dalam bukunya yang berjudul Qur’an and Women: Rereading A Text from Women’s Perspective, Kisah dalam Al-Quran bersifat extrahistorical yakni inti nilai moral yang secara khusus disebutkan dalam Al-Quran yang berada pada kondisi sosial budaya tertentu, dapat disarikan kembali nilai moral atau dapat dipetik hikmahnya pada waktu yang lain.  Hal ini juga berlaku pada kisah Yusuf dan Zulaikha dengan mengambil nilai moral yang berkaitan dengan seksualitas perempuan di dalamnya, tentunya dengan pemahaman yang egaliter.

Namun, sebelum beranjak jauh, perlu memahami asbabun nuzul dari surah ini sebagai pijakan awal. Imam as-Suyuthi dalam kitabnya menyebutkan asbabun nuzul dari kisah Yusuf dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibn Abbas yang menceritakan bahwasanya nabi diminta oleh sekelompok orang Yahudi untuk menceritakan sebuah kisah, maka turunlah surah Yusuf.

Sedangkan M. Quraish Shihab dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sekelompok orang Yahudi atau dalam riwayat lain sekelompok kaum muslimin meminta Rasul untuk menceritakan kisah nabi Yusuf dalam Islam, sebab mereka telah mendengar cerita tersebut dari Perjanjian Lama. Dengan demikian, surah Yusuf diturunkan atas konteks permintaan, serta ditujukan untuk menguatkan keimanan kaum muslim pada masa itu.

Baca Juga: Prinsip Tafsir Husein Muhammad dalam Ayat Relasi Laki-laki dan Perempuan (1)

Selanjutnya, bagaimanakah pemaknaan yang egaliter terhadap seksualitas perempuan dalam kisah ini?

Pertama, kisah ini mengisyaratkan kepada manusia untuk menguatkan sisi spiritual sebagai kontrol atas tindakan seksual destruktif. Hal tersebut sebagaimana digambarkan sosok Yusuf yang teguh keimanannya ketika dirayu oleh Zulaikha. Selanjutnya karakter Yusuf menjadi teladan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menghadapi godaan hidup dan menjaga keseimbangan sosial.  Satu hal yang perlu ditekankan yakni sosok Yusuf sebagai representasi manusia yang kokoh spiritualnya, bukan terbatas pada representasi kaum laki-laki.

Di sisi lain, aksi Zulaikha menggoda Yusuf pun tidak boleh digeneralisir sebagai kodrat perempuan, karena peristiwa tersebut memiliki sebab dan terbatas pada keadaan Zulaikha. Ia disebut kekurangan nafkah batin dari suaminya yang lemah syahwat. Dengan demikian Zulaikha mengalami kondisi kekurangan media untuk mengekspresikan hasrat seksualnya. Quraish Shihab menambahkan bahwa Zulaikha tidak memiliki benteng agama dalam dadanya, sehingga sulit untuk menahan hawa nafsunya.

Kedua, melalui kisah ini Allah sedang membentuk karakter manusia yang bermoral. Yusuf dan Zulaikha merupakan simbol  karakter manusia yang berkembang, kadang baik dan kadang buruk. Maka, Al-Quran memberikan pilihan-pilihan moral tersebut  beserta akibatnya untuk membangun insan yang budiman. Dalam kisah ini Zulaikha melakukan tindakan seksual destruktif sebagai representasi tidakan amoral. Namun, bukan berarti manusia yang bermoral tidak melakukan tindakan seksual, mereka tetap dapat menikmatinya sesuai norma yang berlaku.

Adapun kesucian moral itu tidak berdasarkan jenis kelamin, akan tetapi buah dari prilaku termasuk prilaku seksual. Laki-laki dan perempuan sama-sama mampu membangun kualitas kemanusiaannya. Pemaknaan demikian sekiranya lebih dekat dengan misi dibicarakannya perihal seksualitas dalam Al-Quran, yakni sebagai counter seksualitas masa lalu yang amoral (Fatima Mernissi, t.t: 109), serta merumuskan pola seksualitas yang sesuai ajaran agama (Syafiq Hasyim, 2015).

Baca Juga: Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi

Ketiga, Melalui kisah tersebut, Al-Quran menerangkan tentang hakikat seksualitas dan subjek seksual.  Pada dasarnya, hakikat seksualitas merupakan proses sosial di mana manusia dapat mengekspresikan hasrat seksualnya. Seksualitas murni yang dimiliki setiap manusia merupakan anugerah dari Tuhan. Jika menengok dalam dunia medis, maka terdapat hormon endorkin. Hormon inilah yang dapat memproduksi hormon tertentu yang berfungsi untuk membangkitkan, merangsang atau bahkan melemahkan perasaan tertentu.

Adapun dari segi subjeknya, baik laki-laki maupun perempuan berpotensi menjadi subjek maupun objek seksual. Zulaikha menggoda Yusuf sejatinya menggambarkan bahwa perempuan dapat menjadi subjek seksual. Kecenderungan tersebut tidak boleh dijadikan sebagai suatu yang aneh, apalagi sampai mendiskriminasi salah satu jenis kelamin. Sehingga yang perlu ditekankan bukanlah jenis kelaminnya, akan tetapi kecenderungan destruktif yang dilakukan serta kontrol penyalurannya yang sesuai nilai dan norma yang berlaku.

Keempat, baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi sumber fitnah. Kalimat inna kaidikunna inna kaidakunna ‘adzim (ayat 28) yang ditujukan kepada Zulaikha sebagaimana ditafsirkan oleh al-Zamahksyari dimaknai sebagai fitnah yang bersumber dari perempuan. Abu Syuqqah berpendapat bahwasanya pembicaraan mengenai fitnah bukanlah sesuatu yang mutlak terjadi pada perempuan kepada laki-laki, akan tetapi juga sebaliknya.

Hal ini dapat dibuktikan pada ayat ke-31, ketika Yusuf diminta untuk menyambut para tamu undangan Zulaikha. Para perempuan istana terpesona kepada Yusuf, hingga mereka tidak sadar melukai tangan mereka. Dengan demikian, Yusuf pun dapat menjadi sumber fitnah bagi perempuan.

Karakter Zulaikha dalam panggung sejarah memang bersifat destruktif, akan tetapi yang perlu ditekankan adalah peristiwa tersebut tidak dapat digeneralisir sebagai kodrat seluruh perempuan. Artinya, cerita menggoda dan melakukan tindakan amoral tersebut terbatas pada sosok Zulaikha. Baik laki-laki maupun perempuan diciptakan setara, termasuk dianugerahkannya seksualitas kepada setiap manusia untuk disalurkan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam

Izza Royyani
Peminat kajian tafsir dan gender. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asal Instansi saat ini Ponpes Salafiyah Syafi'iyyah Gorontalo.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...