Beranda Tafsir Tematik Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman

Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman

Salah satu isu dalam Al-Qur’an yang kerap menimbulkan polemik di dalam tubuh umat Islam adalah bagaimana pembacaan dan penafsiran terhadap ayat-ayat antropomorfisme atau ayat-ayat yang seperti mengandung penyerupaan antara Allah dengan makhluknya.

Ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Allah seperti istawa (bersemayam), yad (tangan), wajh (wajah), dan lain-lain hingga isu kemampuan manusia untuk melihat Allah di akhirat kelak. Penafsiran terhadap ayat-ayat ini di kemudian hari memicu berkembangnya penafsiran yang bercorak teologis atau akidah.

Secara umum penafsiran terhadap ayat-ayat antropomorfisme ini bisa diklasifikasikan pada tiga aliran pemahaman yaitu aliran mujassimah, mu’tazilah dan ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Di mana ketiganya memiliki pemikiran dan ke-khasannya masing-masing yang membedakan satu sama lain.

Baca juga: Makna Qur’an yang Plural dan Kontradiktif, Makna Awal Qur’an yang Terlupakan

Penafsiran Tajsim Kalangan Mujassimah

Yang pertama adalah kalangan mujassimah. Dalam Mu’jam al-Syamil li Mushthalahat al-Falsafah (745-746) Abdul Mun’im al-Hafni mengatakan bahwa mujassimah adalah kelompok yang mengatakan bahwa Allah itu berupa jisim dengan sebenar-benarnya. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang sangat berlebihan hingga mengatakan Allah itu berbentuk seperti rupanya manusia.

Salah satu tokoh mufassir yang disebut sangat terpengaruh paham tajsim adalah Muqatil Ibn Sulaiman. Di antara pernyataan yang dinisbatkan kepadanya adalah bahwa Allah itu merupakan jism sebagaimana manusia, memiliki daging, darah, rambut dan tulang, tersusun dari berbagai anggota tubuh, serta memiliki kepala dan dua mata. Menurut Abdullah Syahatah, penisbatan kepada Muqatil ibn Sulaiman ini tidak benar adanya.

Para pengikut Muqatil ibn Sulaiman -atau muqatiliyyah-, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah Mahmud Syahatah selaku muhaqqiq kitab Tafsir Muqatil ibn Sulaiman berargumen atas pendapatnya ini dengan mengatakan (5/80),

وَقَالَت مُقَاتِلِيَّةُ فِي تَعلِيلِ ذَلِكَ: لِأَنَّا لَا نَشهَدُ شَيئًا مَوسُومًا بِالسَّمعِ وَالبَصَرِ وَالعَقلِ وَالعِلمِ وَالحَيَاةِ وَالقُدرَةِ إِلَّا مَا كَانَ لَحمًا وَدَمًا.

Karena kami tidak pernah menyaksikan sesuatu yang tersusun dengan pendengaran, penglihatan, akal, ilmu, kehidupan, dan kekuatan kecuali sesuatu itu juga pasti memiliki daging dan darah”.

Pandangan-pandangan tajsim Muqatil Ibn Sulaiman ini bisa dilihat dalam kitab tafsirnya. Misalnya ketika ia menafsirkan firman Allah Q.S. Thaha [20]: 5 berikut,

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang ber-istiwa’ di atas ‘Arsy

Dalam tafsirnya (3/20-21), Muqatil mengatakan bahwa Allah telah ber-istiwa di atas ‘arsy sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Kata istiwa’ pada ayat ini ditafsiri oleh Muqatil dengan istaqarra yang berarti menetap. Yang berarti Allah itu bertempat –tamakkun-, duduk dan bersemayam tepat di atas ‘arsy.

Penafsiran ini juga berkesinambungan dengan penafsirannya terhadap kata kursiy dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 255,

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

…Kursi Allah meliputi langit dan bumi…

Ia mengatakan dalam tafsirnya (1/213),

كُلُّهَا وَكُلُّ قَائِمَةٍ لِلكُرسِيِّ طُولُهَا مِثلُ السَمَىوَاتِ السَّبعِ وَالأَرضِينَ السَّبعِ تَحتَ الكُرسِيِّ فِي الصَّغرِ كَحَلقَةٍ بِأَرضِ فَلَاة

kursinya (Allah) itu luasnya meliputi langit dan bumi. Dan setiap tiang penyangganya panjangnya seperti tujuh lapis langit dan bumi, (lalu tujuh lapis langit dan bumi) itu tak lebih dari seonggok cincin di padang tandus jika dibandingkan dengan besarnya kursi Allah”.

Selain itu, ketika menafsirkan ayat ini ia juga menetapkan bahwa Allah berada di atas semua makhluk sehingga tidak ada yang lebih agung dari-Nya. Ia juga mengatakan bahwa kursiNya ditopang oleh empat orang malaikat, di mana ini ia sandarkan pada riwayat isra’iliyyat yang tidak jelas sanadnya.

Penafsirannya yang lain, yang juga ‘berbau’ tajsim adalah ketika ia menafsirkan kata yamin (tangan kanan) dan kata saaq (betis) pada Q.S. Al-Zumar [39]: 67 dan Q.S. Al-Qalam [68]: 42.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya

Muqatil menegaskan dalam tafsirnya (3/685),

فهمما كلاهما في يمينه يعني في قبضته اليمنى

maka keduanya (langit dan bumi) berada di kedua tangannya, yakni di genggaman tangannya yang kanan”.

Adapun dalam Q.S. Al-Qalam [68]: 42 Allah berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ

Pada hari ketika ‘betis’ disingkapkan…

Oleh Muqatil (4/408), ayat ini dikaitkan dengan firman Allah Q.S. Al-Zumar [39]: 69 yang artinya ‘dan bumi menjadi terang benderang dengan cahanya Tuhannya’. Dalam tafsirnya terkait ayat ini (3/687), Muqatil menjelaskan bahwa nur atau cahaya yang disebutkan pada ayat tersebut berasal dari betis-Nya yang disebutkan pada Q.S. Al-Qalam [68]: 42.

Baca juga: Melihat Sisi Lain Muqatil bin Sulayman

Dugaan Inkonsistensi Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman

Dari beberapa penafsirannya di atas, terlihat bahwa Muqatil terindikasi berpaham tajsim atau bisa dikatakan ekstrim kanan dalam Dzat Allah, dimana ia terkesan berlebih-lebihan dalam meng-itsbatkan sifat Allah sehinga jatuh kepada tasybih.

Hujjatul Islam al-Ghazali dalam Iljam al-‘Awamm memberikan peringatan yang sangat keras akan paham seperti ini, al-Ghazali bahkan mengumpamakan kalangan mujassimah ini tak ubah layaknya penyembah berhala lantaran menyerupakan Tuhan dengan makhluk karena men-jisimkan Tuhan.

Namun, perlu diketahui bahwa pada beberapa penafsirannya terhadap ayat antropomorfisme yang lain, Muqatil menetapkan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk, seperti penafsirannya terkait melihat Allah kelak di akhirat dan terkadang ia juga menta’wil ayat-ayat sifat seperti kata yad atau yadain dengan kekuatan, kesetiaan dan hikmah sesuai dengan konteks ayat.

Ini berarti Muqatil ibn Sulaiman ketika menafsirkan ayat-ayat antropomorfisme tidak ‘sepenuhnya’ terpengaruh paham tajsim.

Sebagai catatan akhir, menurut muhaqqiq kitab ini (5/113), masih terdapat perbedaan pendapat di antara para pakar apakah benar yang terpengaruh paham tajsim ini adalah Muqatil ibn Sulaiman yang mufassir atau ada Muqatil lain yang dimaksud. Misalnya al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal (1/92) justru menyandingkan Muqatil bin Sulaiman dengan imam Malik bin Anas sebagai panutan ulama salaf, ashab al-hadith yang menjelaskan akidah Islam yang benar dan membentenginya dari kelompok-kelompok yang menyimpang.

Ada juga pernyataan dari al-Saksaki yang mengatakan bahwa Muqatil yang mujassim itu berbeda dengan Muqatil yang mufassir, namun hal ini dibantah oleh al-Kauthari dalam al-Farq baina al-Firaq karya al-Bagdadi yang di-tahqiqnya (hlm. 139) yang mengatakan bahwa keduanya adalah Muqatil yang sama. Kesimpulannya, sosok ‘Muqatil’ di sini masih debatable dan terbuka untuk penelitian lebih lanjut, namun fokus tulisan ini hanya membahas isi penafsirannya sebagaimana di atas. Wallahu a’lam.

Baca juga: Makna Wahyu dalam Penafsiran Muqatil bin Sulayman

Achmad Syariful Afif
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, peminat kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...