BerandaKhazanah Al-QuranMendialogkan Kitab Suci: Membaca Alquran sebagai "Homili" Gagasan Gabriel Said Reynolds

Mendialogkan Kitab Suci: Membaca Alquran sebagai “Homili” Gagasan Gabriel Said Reynolds

Selama berabad-abad, hubungan antara Alquran dan Bibel (alkitab) sering kali dipandang melalui kacamata persaingan atau kecurigaan. Dalam studi Barat klasik, para orientalis seperti Abraham Geiger pernah melontarkan tesis borrowing (peminjaman), yang menuduh bahwa Alquran hanyalah tiruan atau hasil adopsi dari tradisi Yahudi dan Kristen. Di sisi lain, mufasir Muslim terkadang merasa bingung menjelaskan struktur narasi Alquran yang tidak urut secara kronologis jika dibandingkan dengan teks-teks sebelumnya. Di tengah kebuntuan tersebut, muncul sebuah perspektif baru yang ditawarkan oleh Gabriel Said Reynolds.

Baca Juga: Mengenal Kesarjanaan Revisionis dalam Studi Al-Quran

Reynolds adalah seorang profesor dari Universitas Notre Dame. Ia mengajak kita untuk melihat Alquran bukan sebagai penjiplakan, melainkan sebagai sebuah homili. Dalam tradisi Kristen, homili adalah khotbah yang bertujuan menjelaskan isi Kitab Suci agar relevan dengan kebutuhan jamaah dalam konteks ibadah (liturgi). Reynolds berargumen bahwa hubungan Alquran dengan tradisi biblikal sebelumnya ibarat hubungan antara sebuah teks suci dengan khotbahnya.

Dalam hal ini, Alquran tidak sedang menceritakan ulang kisah para nabi dari awal. Sebaliknya, alquran seolah-olah berasumsi bahwa audiens pertamanya di tanah Arab sudah sangat akrab dengan narasi-narasi alkitabiah tersebut. Oleh karena itu, Alquran sering kali hanya menggunakan alusi, kiasan atau singgungan singkat, untuk menyampaikan pesan religius yang lebih mendalam. Sebagai pengkhotbah, alquran hadir untuk memberikan peringatan (warning) dan petunjuk moral bagi umat pada masanya.

Reynold mengajukan sebuah teori yakni teori alluding (persinggungan). Menurutnya, Alquran sengaja menggunakan satu kata atau frasa sederhana untuk membangkitkan memori audiens terhadap keseluruhan cerita yang ada dalam subteks Biblikal. Salah satu contoh yang dibahas Reynold adalah kisah tertawanya Sarah (istri Nabi Ibrahim) dalam Surah Hud ayat 69-72.

Baca Juga: Kritik Angelika Neuwirth Terhadap Sarjana Barat dan Muslim dalam Bidang Studi Al-Qur’an

Dalam ayat tersebut, Sarah digambarkan tertawa sebelum menerima kabar gembira tentang kelahiran anaknya, Ishak. Hal ini membuat para mufasir berbeda pendapat tentang apa yang menyebabkan Sarah tersenyum. Ada yang mengatakan karena melihat suaminya ketakutan saat didatangi tamu, ada yang menafsirkan kata tertawa sebagai menstruasi, dan ada pula yang menyebut karena ia gembira mendengar kabar akan turunnya azab bagi kaum Lut. (Ulumuddin, 2019, hal. 360).

Namun, Reynold berpendapat bahwa kebingungan ini tidak akan muncul jika merujuk pada subteks bible dalam kitab genesis 18:1-2 yang dijelaskan secara gamblang bahwa Sarah tertawa karena mendengar kabar akan melahirkan anak (Ishak) di usia tua. Penempatan kata tertawa yang mendahului kabar gembira dalam Alquran, menurut Reynold, dilakukan demi menjaga estetika rima (akhiran ayat i-u-u-i). (Ulumuddin, 2019, hal. 362-363).

Meskipun demikian, tawaran Reynold tentu mendatangkan diskusi hangat. Para pengamat seperti Angelika Neuwirth dan Daniel A. Madigan memberikan catatan kritis. Menjadikan Alquran semata-mata sebagai homili atas Bibel dikhawatirkan dapat mempersempit keluasan isi Alquran. Alquran bukan hanya berisi kisah-kisah nabi, tetapi juga mencakup hukum, doa, ritual, dan metafisika yang tidak semuanya memiliki padanan dalam Bibel. (Zulhamdani, 2023, hal. 67).

Baca Juga: Kritik Angelika Neuwirth Terhadap Sarjana Barat dan Muslim dalam Bidang Studi Al-Qur’an

Selain itu, ada risiko munculnya kesan superioritas teks terdahulu, seolah-olah Alquran sepenuhnya bergantung pada Bibel untuk dipahami. Namun demikian, Reynold berhasil membawa angin segar dengan menempatkan Alquran sejajar dengan kitab suci besar lainnya dalam studi akademis.

Dengan demikian, membaca Alquran sebagai homili adalah sebuah undangan untuk melakukan intertekstualitas. Hal ini menyadarkan pembaca bahwa sebuah teks suci tidak lahir di ruang hampa, melainkan berdialektika dengan tradisi yang melingkupinya. Melalui dialog ini, kita diajak untuk melampaui polemik agama dan lebih fokus pada nilai-nilai spiritualitas serta hikmah (‘ibrah) yang terkandung di dalamnya. Selain itu, tawaran yang diajukan Reynold setidaknya menggeser paradigma bahwa Alquran meminjam atau meniru Bible, menjadi dialog yang setara antara dua teks suci.

- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Surah Al-A’raf Ayat 31 sebagai Etika Konsumsi saat Berbuka Puasa

Surah Al-A’raf Ayat 31 sebagai Etika Konsumsi saat Berbuka Puasa

0
Bulan Ramadan sering disebut sebagai bulan pengendalian diri. Umat Islam menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun, realitas sosial menunjukkan...