Beranda Tafsir Al Quran Menelisik Makna Hukman wa 'Ilman, Sepasang Diksi dalam Al-Quran

Menelisik Makna Hukman wa ‘Ilman, Sepasang Diksi dalam Al-Quran

Ada 2 diksi yang menarik untuk dibahas dalam Al-Quran. Diksi ini adalah Hukman wa ‘Ilman. Keduanya memang bisa berdiri sendiri–sendiri, atau bisa dipasangkan dengan diksi yang lain. Namun menariknya, ada banyak momen dua diksi ini berpasangan, alias beriringan. Dan kesemuanya berada dalam satu payung tema besar, yakni kisah hidup para Nabi.

Dengan bentuk yang sama (dalam format mashdar), i’rab dan kedudukan yang sama, kuantitas yang sama (sama–sama selalu berbentuk tunggal), serta didahului oleh Fi’il yang sama, yakni atainahu.

Baca juga: 4 Hikmah Keberadaan Kata Ajam (Non Arab) Di Dalam Al-Qur’an

Pasangan kedua diksi ini disebutkan sebanyak 4 kali dalam Al-Quran. Diksi ini pertama kali muncul di surat Yusuf ayat 22. Kemudian di surat Al-Anbiya ayat 74 dan 79. Serta di surat Al-Qasas ayat 44. Ketiga surat tersebut adalah surat – surat kisah, surat – surat yang model penyampaiannya adalah cerita dari masa lalu. Misalkan pada surat Yusuf, berikut bunyi ayatnya :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Artinya : “Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf : 22)

Fakhr ad-Din Ar-Razi dalam Mafatihul Ghayb menyebutkan bahwa ayat ini adalah pertanda diangkatnya Nabi Yusuf sebagai seorang Rasul. Setelah sebelumnya sudah diangkat sebagai nabi pasca curhatan beliau soal mimpinya kepada Nabi Ya’kub, ayahnya.

إِنَّهُ كَانَ نَبِيًّا مِنَ الْوَقْتِ الَّذِي قَالَ اللَّه تَعَالَى فِي حَقِّهِ: وَأَوْحَيْنا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا [يُوسُفَ: 15] وَمَا كَانَ رَسُولًا، ثُمَّ إِنَّهُ صَارَ رَسُولًا مِنْ هَذَا الْوَقْتِ أَعْنِي قَوْلَهُ: وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْناهُ حُكْماً وَعِلْماً [يوسف: 22] وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ رَسُولًا مِنَ الْوَقْتِ الَّذِي أُلْقِيَ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ

“Sungguh beliau (Yusuf) telah diangkat menjadi nabi ketika ayat ke 10 dari surat Yusuf diturunkan (Wa Auhaina Ilaihi Latunabbiannahum bi amrihim hadza), namun belum diangkat menjadi seorang Rasul. Kemudian beliau diangkat menjadi Rasul ketika ayat ke 22 dari Surat Yusuf diturunkan (Wa lamma balagha Asyuddahu Atainahu hukman wa ‘ilman). Sedangkan yang lain berpendapat bahwa Yusuf diangkat menjadi Rausl ketika ia dilemparkan di titik buta sumur”.

Baca juga: Kisah Mimpi Yusuf Bukan Wahyu: Tafsir Surah Yusuf Ayat 4

Makna Hukman wa ‘Ilman serta urgensinya terhadap risalah kenabian

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Tafsir Zaad Al-Masir mengutip pendapat para linguis Arab terhadap semantik kedua makna tersebut, sebagai berikut :

قال اللغويون: الحكم عند العرب ما يصرف عن الجهل والخطأ، ويمنع منهما، ويردُّ النفس عما يشينها ويعود عليها بالضرر، ومنه: حكمَة الدابة. وأصل أحكمت في اللغة: منعت، وسمي الحاكم حاكماً، لأنه يمنع من الظلم والزّيغ. وفي المراد بالعلم ها هنا قولان: أحدهما: الفقه. والثاني: علم الرؤيا

“Para Linguis berpendapat : Al-Hukm menurut orang Arab adalah apa – apa yang mengubah haluan kebodohan dan kesalahan, dan mencegah keduanya terjadi, lalu menjauhkan diri dari tindakan yang memalukan, serta menyelamatkan diri dari hal – hal berbahaya. Misalkan kata : Hikmat Ad-Daabah. Sedangkan asal kata Ahkamat dalam bahasa adalah Mana’at (mencegah). Hakim dinamai Hakim, karena ia mencegak kedzaliman dan penyimpangan. Sedangkan yang dimaksud Al-‘Ilm disini ada2 pendapat, yakni antara kemampuan nalar fiqh atau argumentasi”.

Dari paparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa Hukm adalah naluri natural para Rasul untuk menjauhi kemaksiatan, sedangkan ‘Ilm adalah porsi intelektualitas yang dimilikinya.

Baca juga: Kajian Semantik Kata Nikmat dalam Al-Quran: Perbedaan Kata An-Ni’mah dan An-Na’im

Sedangkan, menurut Ar-Razi ada banyak pendapat soal tafsiran Hukman wa ‘Ilman. Beberapa diantaranya menyatakan bahwa Hukm adalah menahan diri atas apa yang ia inginkan, serta mencegahnya dari tindakan bodoh yang memalukan. Hal ini disebut pula dengan Al-Hikmah Al-‘Amaliyah. Sedangkan ilmu adalah kemampuan intelektual yang tinggi, kecerdasan akal, dan kekuatan menghafal. Hal ini disebut juga dengan Al-Hikmah Al-Nadzariyah. Oleh karena itu dalam Al-Quran, lafadz Hukm didahulukan (Taqdim) daripada lafadz ‘ilm. Menurut beberapa ahli, hal ini dikarenakan Al-Hikmah Al-‘Amaliyah punya posisi dan urgensi yang lebih kuat disbanding Al-Hikmah Al-Nadzariyah bagi seorang Rasul.

Allah menganugerahi para Rasul Hukman wa ‘Ilman sebagai bekal untuk menghadapi umat mereka yang beragam. Keluasan pengetahuan digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang akan ditanyakan pada mereka, karena Rasul adalah pelayan umat yang harus siap sedia diserbu pertanyaan setiap waktu. Sedangkan Hukm digunakan untuk menonjolkan sisi tauladan di hadapan umatnya, karena seorang Rasul adalah role model umat. Tindak lakunya lah yang akan diwariskan dari generasi ke generasi. Jika dari awal saja tidak terjaga, mungkin degradasi akhlak terjadi lebih cepat dan luas.

Wallahu a’lam[]

Muhammad Bachrul Ulum
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, peminat kajian linguistik Al-Quran
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...