Beranda Tokoh Tafsir Mengenal Muhammad Abid al-Jabiri, Mufasir Kontemporer Asal Maroko

Mengenal Muhammad Abid al-Jabiri, Mufasir Kontemporer Asal Maroko

Muhammad Abid Al-Jabiri merupakan seorang pemikir Islam kontemporer yang banyak dikenal dalam dunia kajian akademis dengan gagasan kritik nalar Arabnya. Namun, masih banyak yang belum mengetahui bahwa Abid Al-Jabiri ini juga merupakan seorang mufasir yang menghiasi perkembangan kajian tafsir Al-Quran kontemporer.

Karyanya dalam bidang tafsir juga terbilang unik, karena menggunakan sistematika tartib nuzuli ketimbang tartib mushafi. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih dalam terkait sosok mufasir kontemporer ini.

Baca Juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Biografi intelektual Muhammad Abid Al-Jabiri

Intelektual muslim kontemporer yang bernama Muhammad Abid al-Jabiri ini dilahirkan pada 27 Desember 1935 di kota Figuig, Maroko. Abid al-Jabiri lahir dari keluarga yang memiliki jiwa religius-nasionalis, karena pada saat itu masyarakat Maroko sedang gencar-gencarnya berjuang melawan penjajahan Prancis.

Jaafar Aksikas dalam karyanya Arab Modernities: Islamism, Nationalism, and Liberalism, in the Post-Colonial Arab World menjelaskan bahwa Abid al-Jabiri mulai mengawali perjalanan intelektualnya di Madrasah Hurrah Wathaniyah. Setelah lulus dari sekolah tersebut, di usia 15 tahun, Al-Jabiri kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Mohammadia School, Casablanca dan memperoleh Diploma Arabic High School.

Kemudian, Pada tahun 1958, Abid Al-Jabiri sempat belajar di Universitas Damaskus, Syiria. Namun, tak lama kemudian ia harus kembali Maroko dan belajar filsafat di Fakultas Sastra Universitas Muhammad V, Rabat.

Berselang tiga tahun kemudian, Abid Al-Jabiri berhasil memperoleh gelar sarjananya (B.A.) pada Juni 1961. Pada tahun 1967, Al-Jabiri mampu menyelesaikan studi pascasarjananya dan memperoleh gelar master dengan tesis yang berjudul “Falsafah Tarikh ‘inda Ibn Khaldun” (Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun).

Baca Juga: Mengenal Nasr Hamid Abu Zaid, Pengkaji Al-Quran Kontemporer Asal Tanta, Mesir

Tidak berhenti disitu, pada tahun 1970, Al-Jabiri juga berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang filsafat dengan disertasi yang berjudul “al-Ashabiyyah wa al-Daulah: Ma’alim Nazhariyyah Khalduniyyah fi al-Tarikh al-Islamiy” (Fanatisme dan Negara: Elemen-eleman Teoretis Khaldunian dalam Sejarah Islam).

Puncaknya, pada Oktober tahun 1971, Abid Al-Jabiri mendapatkan gelar profesor di bidang filsafat dan pemikiran Islam, setelah sebelumnya telah menjadi asisten profesor semenjak tahun 1967.

Pada tahun 1964-1967, Al-Jabiri mengajar filsafat di Moulay Aballah High School. Pada tahun-tahun ketika mengajar di sekolah tersebut, Abid Al-Jabiri bersama rekannya yaitu Mustafa Al-Omari dan Ahmed Sttati menulis dua modul buku mengenai pemikiran Islam dan filsafat yang menjadi acuan kurikulum hingga awal 1970-an.

Dua buku tersebut berjudul Durus fi al-Falsafah li Tullab al-Bakaluriya dan al-Fikr al-Islami li Tullab al-Bakaluriya. Setelah mengajar di tempat tersebut, pada tahun 1970, Abid al-Jabiri menjadi dosen di Universitas Mohammed V, Rabat.

Beberapa penghargaan yang diterima oleh Muhammad Abid Al-Jabiri antara lain adalah Baghdad Award (1988) dari UNESCO, Saddam Hussein Award (1980), Maghribiyya Cultural Award (1999), al-Ghaddafi Award for Human Rights (2002), Award for Intelectual Studies in the Arab World (2005), The Pioneer’s Award (2005) dari Institute of Arab Thought, UNESCO’s Medal on the Occasion of World Philosophy day (2006), dan Averroes Award for Free Thought (2008).

Sejak muda, Al-Jabiri dikenal sebagai seorang aktivis politik yang berideologi sosialis. Keaktifannya di bidang politik tersebut mengakibatkan ia bergabung ke partai Union Nationale des Forces Popularies (UNFP), yang kemudian berganti nama menjadi Union Sosialiste des Foreces Populaires (USFP). Namun, Pada tahun 1981, al-Jabiri mulai meninggalkan semua aktivitas politiknya untuk berfokus dalam kegaiatan akademik dan menulis buku.

Muhammad Abid Al-Jabiri meninggal pada senin, 3 Mei 2010 di Casablanca. Pada saat itu usia usia Abid Al-Jabiri telah mencapai 74 tahun. Semasa hidupnya, Abid Al-Jabiri telah banyak berkontribusi dan memiliki pengaruh penting dalam perkembangan keilmuan Islam di Maroko. Selain itu, ia juga meninggalkan berbagai karya tulisan baik berupa buku, maupun artikel ilmiah.

Baca Juga: Inilah Delapan Metode Tafsir Tematik ala Hassan Hanafi

Karya-karya Muhammad Abid al-Jabiri

Dalam buku Islam, State, and Modernity: Mohammed Abed al-Jabri and the Future of the Arab World yang dieditori oleh Ziad Eyadat, Francesca M. Corrao, dan Mohammed Hashas, menjelaskan bahwa Abid Al-Jabiri ini dikenal sebagai seorang intelektual muslim kontemporer yang sangat produktif dalam hal kepenulisan.

Puluhan buku telah dihasilkan Abid Al-Jabiri dengan berbagai tema kajian, mulai dari filsafat, politik, pemikiran Islam, tafsir, dan lain sebagainya. Beberapa karya-karya buku Abid Al-Jabiri tersebut antara lain adalah:

  1. Madkhal ila Falsafah al-’Ulum (1976)
  2. Nahnu wa al-Turats (1980)
  3. Takwin al-’Aql al-’Arabiy (1982)
  4. Al-Khitab al-’Arabi al-Mu’ashir (1982)
  5. Tetralogi buku kritik nalar Arab: Takwin al-’Aql al-’Arabiy (1984), Bunyah al-’Aql al-’Arabiy (1986), al-’Aql al-Siyasiy al-’Arabiy (1990), dan al-’Aql al-Akhlaqiy al-’Arabiy (2001)
  6. fi Naqd al-Hajah ila al-Ishlah (2005)

Dari berbagai karya tulisan Abid al-Jabiri tersebut, hanya ada dua buku yang secara khusus mengkaji tentang Al-Qur’an, yaitu Madkhal ila al-Qur’an al-Karim: fi Ta’rif bi al-Qur’an (September, 2006), dan kitab tafsir tiga jilid yang berjudul Fahm al-Qur’an al-Karim: al-Tafsir al-Wadhih Hasaba Tartib al-Nuzul (Oktober, 2008). Kitab tafsir tersebut setiap tahun mengalami cetak ulang hingga tahun 2013 (kecuali 2011).

Dalam konteks Indonesia, hasil-hasil pemikiran pemikiran Abid Al-Jabiri banyak dijadikan sebagai rujukan, dan kajian oleh beberapa intelektual muslim Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya buku-buku Abid ِAl-Jabiri yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti Kritik Nalar Arab, Formasi Nalar Arab, Kritik Wacana Teologi Islam, Problematika Pemikiran Arab Kontemporer, Agama, Negara dan Penerapan Syariah, dan Tragedi Intelektual: Perselingkuhan Politik dan Agama.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa Muhammad Abid Al-Jabiri merupakan sosok intelektual muslim kontemporer yang hasil pemikirannya banyak mempengaruhi perkembangan kajian Islam di berbagai belahan dunia. Wallahu A’lam

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...