Beranda Ulumul Quran Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (4): Mushaf Ibnu Abbas

Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (4): Mushaf Ibnu Abbas

Pada masa pewahyuan Al-Qur’an, Nabi telah menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi penulis wahyu (kuttab al-wahy). Sehingga pada masa kenabian, salah satu kegiatan utama dari para sahabat saat itu adalah mentransmisikan wahyu Al-Qur’an dari lisan Nabi menuju tulisan di berbagai media lembaran (shahifah). Proses transmisi inilah yang kemudian menghasilkan ragam mushaf Al-Qur’an. Salah satu dari ragam produk mushaf tersebut adalah mushaf Ibnu Abbas.

Biografi Ibnu Abbas

Seorang sahabat Nabi yang menjadi pakar Al-Qur’an ini memiliki nama asli Abdullah ibn Abbas. Beliau dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Abbas ibn Abdul Muththalib (paman Nabi) dan ibu yang bernama Umm al-Fadhl Lubabah al-Kubra bint al-Harits al-Hilaliyah. Diriwayatkan oleh al-Sa’di bahwasanya ibu Ibnu Abbas ini merupakan perempuan kedua yang pertama masuk Islam setelah Sayyidah Khadijah.

Dalam kitab Abdullah ibn ‘Abbas: Habr al-Ummah wa Turjuman al-Qur’an karya Musthafa Sa’id al-Khan, dijelaskan bahwa Ibnu Abbas memiliki kunyah (nama panggilan) berupa Abu al-Abbas. Terkait tahun kelahiranya, para ulama berbeda pendapat, apakah beliau lahir setelah hijrah Nabi atau sebelum hijrah. Namun, al-Waqidi menjelaskan bahwa sebagian besar ulama berpendapat jika Ibnu Abbas lahir pada tiga tahun sebelum Nabi berhijrah. Sehingga tatkala Nabi wafat, Ibnu Abbas berusia 13 tahun (pendapat lain 15 tahun).

Baca Juga: Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (1): Sejarah Awal Mula Penulisan Mushaf dan Klasifikasinya

Sejak kecil, Ibnu Abbas senantiasa bercengkrama dengan Rasulullah. Hal ini dikarenakan Ibnu Abbas masih keponakan Nabi. Selain itu, bibinya yang bernama maimunah juga merupakan salah satu istri Rasulullah. Sehingga dari unsur kekerabatan inilah, Ibnu Abbas kemudian banyak meriwayatkan ucapan Nabi secara langsung, mulai dari penjelasan tentang Al-Qur’an maupun hal-hal lainya. Tidak berhenti di situ, setelah Nabi wafat, Ibnu Abbas juga mengambil ilmu dari berbagai pembesar sahabat saat itu.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada saat Ibnu Abbas berada di rumah Maimunah, beliau menyiapkan tempat wudhu untuk Nabi. Tatkala Nabi tahu bahwa yang menyiapkan tersebut adalah Ibnu Abbas, maka beliau kemudian mendo’akan Ibnu Abbas dengan do’a berikut:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

Ya Allah, fahamkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia tafsir

Berkat do’a tersebut, Ibnu Abbas kemudian dikenal sebagai seorang sahabat yang ahli dalam berbagai bidang keilmuan, khususnya tentang Al-Qur’an. Sehingga tidak heran jika Ibnu Mas’ud memberikan gelar kepada Ibnu Abbas sebagai Turjuman Al-Qur’an (penerjemah/penafsir Al-Qur’an terbaik). Selain itu, beliau juga dikenal dengan gelar al-Bahr (ilmunya seluas lautan) dan Habr al-Ummah (intelektual umat).

Berkat kepakaranya dalam bidang Al-Qur’an tersebut, menjadikan Ibnu Abbas sebagai rujukan utama madrasah tafsir para tabi’in di Makkah. Beberapa tabi’in jebolan madrasah Ibnu Abbas antara lain adalah Said ibn Jubair, Mujahid ibn Jabir, dan Ikrimah ibn Abdillah. Ibnu Abbas wafat pada tahun 68 H, dimana saat itu usia beliau sudah mencapai 70 tahun. Beliau wafat dan dimakamkan di kota Tha’if, Makkah.

Baca Juga: Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (2): Mushaf Ubay ibn Ka’ab

Struktur Sistematika Mushaf Ibnu Abbas

Salah satu karakteristik mushaf Ibnu Abbas adalah adanya dua surah tambahan yaitu surah al-Khal’ dan surah al-Hafd, sebagaimana juga ditemukan dalam mushaf Ubay ibn Ka’ab. Sehingga dua surah tambahan tersebut mengakibatkan jumlah total surah dalam mushaf Ibnu Abbas menjadi 116 surah. Namun, dalam perincian susunan surahnya, al-Syahrastani dalam kitabnya Mafatih al-Asrar wa Mashabih al-Abrar hanya menyebutkan sebanyak 114 surah, tidak memasukkan dua surah tambahan tersebut. Lebih detailnya bisa dilihat dalam tabel berikut:

No. Nama Surah No. Nama Surah No. Nama Surah
1 al-’Alaq 39 Yasin 77 al-Naba’
2 Nun 40 al-Furqan 78 al-Nazi’at
3 al-Dhuha 41 al-Malaikah (Fathir) 79 al-Infithar
4 al-Muzzammil 42 Maryam 80 al-Insyiqaq
5 al-Muddatstsir 43 Thaha 81 al-Rum
6 al-Fatihah 44 al-Syu’ara 82 al-’Ankabut
7 al-Lahab 45 al-Naml 83 al-Muthaffifin
8 al-Takwir 46 al-Qashash 84 al-Baqarah
9 al-A’la 47 al-Isra’ 85 al-Anfal
10 al-Lail 48 Yunus 86 Ali Imran
11 al-Fajr 49 Hud 87 al-Hasyr
12 al-Insyirah 50 Yusuf 88 al-Ahzab
13 al-Rahman 51 al-Hijr 89 al-Nur
14 al-’Ashr 52 al-An’am 90 al-Mumtahanah
15 al-Kautsar 53 al-Shaffat 91 al-Fath
16 al-Takatsur 54 Luqman 92 al-Nisa’
17 al-Din (al-Ma’un) 55 Saba’ 93 al-Zalzalah
18 al-Fil 56 al-Zumar 94 al-Hajj
19 al-Kafirun 57 al-Mu’min 95 al-Hadid
20 al-Ikhlash 58 Fussilat 96 Muhammad
21 al-Najm 59 al-Syura 97 al-Insan
22 al-A’ma (‘Abasa) 60 al-Zukhruf 98 al-Thalaq
23 al-Qadr 61 al-Dukhan 99 al-Bayyinah
24 al-Syams 62 al-Jatsiyah 100 al-Jumu’ah
25 al-Buruj 63 al-Ahqaf 101 al-Sajdah
26 al-Tin 64 al-Dzariyat 102 al-Munafiqun
27 Quraisy 65 al-Ghasyiyah 103 al-Mujadilah
28 al-Qari’ah 66 al-Kahfi 104 al-Hujurat
29 al-Qiyamah 67 al-Nahl 105 al-Tahrim
30 al-Humazah 68 Nuh 106 al-Taghabun
31 al-Mursalat 69 Ibrahim 107 al-Shaff
32 Qaf 70 al-Anbiya’ 108 al-Ma’idah
33 al-Balad 71 al-Mu’minun 109 al-Taubah
34 al-Thariq 72 al-Ra’d 110 al-Nashr
35 al-Qamar 73 al-Thur 111 al-Waqi’ah
36 Shad 74 al-Mulk 112 al-’Adiyat
37 al-A’raf 75 al-Haqqah 113 al-Falaq
38 al-Jinn 76 al-Ma’arij 114 al-Nas

Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara mushaf Ibnu Abbas dengan mushaf resmi utsmani, yaitu: Pertama, perbedaan vokalisasi teks, semisal kata fi ‘ibadi (في عبادى) dibaca fi ‘abdi (في عبدى). Kedua, pemberian titik diakritis (i’jam) terhadap kerangka konsonantal yang sama ataupun yang berbeda, seperti titik ba dalam kata hadabin (حدب) dirubah menjadi titik tsa serta ditambah titik jim pada huruf ha, sehingga dibaca menjadi jadatsin (جدث).

Baca Juga: Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (3): Mushaf Ibnu Mas’ud

Ketiga, perbedaan kerangka grafis, seperti ayat wa atimmu al-hajja wa al-umrah lillah (وأتممو الحج والعمرة لله) dalam mushaf utsmani, tetapi dalam mushaf Ibnu Abbas tertulis wa aqimu al-hajja wa al-umrah li al-bait (واقيمو الحج والعمرة للبيت). Keempat, terdapat sisipan kata tambahan dalam sebuah ayat, semisal penyisipan kata malakun dalam kalimat fanadaha min tahtiha (Q.S. Maryam [19]: 24), sehingga bacaanya menjadi fanadaha malakun min tahtiha (فنادىها ملك من تحتها).

Akhir kata, walaupun Ibnu Abbas sangat masyhur dan menjadi rujukan utama dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Namun, Taufik Adnan Amal menjelaskan dalam karyanya Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, bahwa mushaf Al-Qur’an hasil salinan Ibnu Abbas ini tidak memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat Arab sebagaimana pengaruh mushaf Ibnu Mas’ud terhadap penduduk Kufah. Wallahu A’lam

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...