Beranda Tafsir Al Quran Mengenal Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Quran Berbahasa Jawa Latin Karya Kolonel Bakri Syahid

Mengenal Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Quran Berbahasa Jawa Latin Karya Kolonel Bakri Syahid

Ada beberapa tafsir yang populer dan masih digunakan oleh banyak masyarakat untuk mengkaji Al-Quran, seperti Tafsir Al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil karya Kiai Misbah Musthofa, Al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir Al Quran Al Aziz karya Kiai Bisri Musthofa.

Pada tahun 1977, muncul kitab tafsir dari seorang purnawirawan dari Yogyakarta yang kemudian dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1979. Tafsir tersebut diberi nama Al-Huda, Tafsir Al-Quran Basa Jawi. Tafsir ini bisa dikatakan unik, karena menggunakan bahasa Jawa halus dan kental dengan budaya Jawa dalam penafsirannya. Keunikan lain dari tafsir ini adalah karena ditulis oleh seseorang yang berpangkat kolonel dan berkecimpung dalam dunia militer dan politik. Untuk mengetahui lebih dalam tentang Tafsir Al-Huda, berikut tentang tafsir tersebut.

Sejarah Penulisan

Sebagaimana penulis ungkapkan dalam purwaka Tafsir Al-Huda, bahwa penulisan tafsir ini berawal dari sebuah acara sarasehan Bakri Syahid bersama beberapa kolega dan teman dari jawa yang merantau di berbagai negara, seperti Singapura, Suriname, dan sebagainya di kediaman Syeh Abdul Manan, Makkah. Dalam acara tersebut, terdapat kesadaran dan keprihatinan akan minimnya tafsir Al-Quran yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf latin. Berangkat dari usulan tersebut, Kolonel Bakri Syahid mulai menyusun karyanya.

Karya ini mulai ditulis pada tahun 1970 dan selesai pada tahun 1977. Kemudian pertama kali dicetak pada tahun 1979 oleh percetakan Bagus Arafah. Sejak diterbitkan, tafsir ini telah mengalami kurang lebih 8 kali cetak ulang. Dan setiap cetakannya berkisar antara 1000-2000 eksemplar. Tafsir yang telah dicetak ini tidak hanya disebarluaskan di Indonesia, tapi juga untuk masyarakat Jawa yang tinggal di Suriname dan berbagai negara lain. Sayangnya penerbitan tafsir ini sudah tidak dilanjutkan lagi semenjak Bakri Syahid wafat pada tahun 1994. Dan kemudian percetakan Bagus Arafah juga sudah tidak beroperasi lagi.

Baca juga: Brigjen Bakri Syahid : Mufasir Quran Bahasa Jawa

Banyak respon positif dari masyarakat atas terlahirnya tafsir ini. Terbukti dengan pemberian kata sambutan oleh ketua MUI Yogyakarta dan Menteri Agama dalam tafsir tersebut dalam terbitan pertamanya.

Spesifikasi Tafsir Al-Huda

Berdasarkan pemetaan metode di atas, Tafsir Al-Huda bisa dikategorikan dalam tafsir dengan metode gabungan antara ijmali dan tahlili. Karena Bakri Syahid menjelaskan beberapa ayat secara global dan singkat, dan terkadang menjelaskan dengan rinci dibeberapa ayat yang lain.

Metode ijmali dalam Tafsir Al-Huda sering kita temukan dalam penjelasan ayat yang tidak lebih dari dua baris, dan diawali dengan kata-kata penjelas, seperti: maksudipun.. inggih punika.. artosipun… kadosta… lan tegesipun. Dan metodet tahlili bisa kita temukan saat Bakri Syahid menjelaskan suatu ayat dengan panjang lebar dan mencakup berbagai aspek.

Diantara contoh penafsiran ijmali dapat kita lihat dalam menafsirkan kata sahur dalam Surat Ali Imran ayat 17:

Terjemah Departemen Agama: “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Sementara dalam Tafsir Al-Huda, Bakri Syahid menuliskan “yaiku wong-wong kang padha sabar, padha temen, padha sungkem ngabekti, padha gelem darma la nana ing wektu sahur lingsir wengi padha nyuwun pangapura.” Dan di akhir terjemahan ayat tersebut, Bakri menuliskan catatan kaki tentang arti waktu sahur tersebut sebagai berikut: “wakdal sahur menika ngajengaken subuh kirang langkung 30 menit, dene imsak kirang 10 menit

Baca juga: Alasan Tafsir Jalalain Jadi Tafsir Favorit di Pesantren

Model penafsiran secara ringkas seperti di atas, akan banyak kita temukan dalam Tafsir Al-Huda. Sedangkan metode tahlili hanya ada beberapa ayat yang mencantumkan penjelasan panjang lebar. Seperti dalam menjelaskan Surat Taha ayat 131:

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Bakri Syahid menuliskan panjang lebar sampai tujuh paragraf yang terdiri dari 48 baris.

suraosipun ayat punika estunipun sampun cetha gamblang, kados ingkang sampun kaweco ing ayat 88 surah al Hijr. Aslining kadadosan sabab musababipun tumuruning ayat punika kagem gegebangipun kanjeng nabi Muhammad s.a.w ngasto leadership ing ummatipun ingkang dipun trisnani, katitik saking agenging lelabuhanipun sarta kaikhlasanipun ambudidaya supados ummatipun manggih karaharja ing donya serta makmur nampi nikmat ing akheratipun. Kapemimpinan Rasulullah s.a.w prayogi saget katuladha ing para pemimpin bangsa serta para ulama-ipun. Inggih punika gesangipun sarwa leres, resik, bares lan beres!

Tegesipun: boten kengsing sembrono utawa ugal-ugalan, lan boten kenging culika utawi edan-edanan, punapa dene boten kenging umuk tuwin oncor-oncoran. Balik kedah khusyu’ tunduk dhumateng gusti Allah, andhap ashor, lembah manah, welas asih dhateng sasamining titah, langkung langkung ingkang sami dados pimpinan dhateng wewengkanipun.

Awit inggih para panjenenganipun wau, ingkang badhe sami dados panutan utawi gurunipun!

Menggah badhe pikantukipun hasil/sukses Kanjeng Nabi s.a.w utawi titiyang dados pemimpin ingkang saestu wau, dene ngantos dipun lampahi karaya-raya purun sami ngrekaos utawi sengsara, punika wonten ngarsanipun Gusti Allah badhe angsal ganjaran ingkang sakalangkung ageng lan derajat ingkang luhur sarta karenan dening Allah Pangeran ingkang Maha Agung. Lan wonten ing gesangipun bebrayan ing donya, badhe saged pikantuk seneng utawi lega, margi rumaos sampun ludhang sampun saged ngeberaken utawi ambage kalangkungan paparinging Pangeran, ingkang minangka dados titipan, sami ugi pangkat, semat, ilmu, lan kawibawan. Utawi badhe saged kraos marem utawi bingah, jalaran rumaos sampun saged netepi utawi nyekapi kuwajibanipun, ingkang dados kautamaning gesang wonten ing „alam Donya punika.

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Bakri Syahid secara detail menjelaskan tentang kepemimpinan (leadership). Dia juga mengungkapkan salah satu kunci kesuksesan kepemimpinan Nabi Muhammad terletak pada keikhlasan dan kebaikan yang diupayakan beliau agar umatnya tidak terjerumus kedalam siksa api neraka. Oleh karenanya Bakri Syahid berharap agar setiap pemimpin bisa mencontoh teladan Nabi Muhammad dan tidak tergoda dengan kesenangan duniawi.

Berdasarkan contoh penafsiran di atas, kiranya Tafsir Al-Huda termasuk tipe penafsiran yang banyak menggunakan penalaran dan ijtihad pengarang sesuai dengan pemahaman pengarang terhadap kandungan makna tersebut. Selain minimnya pencantuman riwayat yang berhubungan dnegan ayat tersebut, penafsiran Bakri Syahid juga cenderung rasional. Maka dari itu, banyak peneliti yang menggolongkan tafsir ini termasuk tafsir bi al-ra’yi. Wallahu A’lam.

Neny Muthi'atul Awwaliyah
Peneliti, dosen di Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Salatiga.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...