Beranda Ulumul Quran Menghafal Al-Qur’an di Somalia: Semangat, Sejarah dan Metodenya

Menghafal Al-Qur’an di Somalia: Semangat, Sejarah dan Metodenya

Dalam literatur keislaman baik hadis maupun catatan lain  tidak jarang dijelaskan mengenai keutamaan-keutamaan menghafal Al-Qur’an. Di samping kecintaan kepada Al-Qur’an, berbagai keutamaan menghafalkannya mendorong muslim diberbagai belahan bumi menjadikan menghafal Al-Qur’an sebagai prioritas hidup mereka.  Dalam hal ini, Somalia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya  memiliki semangat tinggi untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Sebelum lebih jauh mengetahui tentang semangat menghafal di Somalia, perlu kiranya mengulas sekelumit kesejarahan tradisi menghafal Al-Qur’an dalam dunia Islam. Dalam buku Arah Baru Pengembangan Ulumul Qur’an dijelaskan bahwa semangat menghafalkan ini telah berlangsung sejak awal pewahyuan Al-Qur’an. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW adalah sayyid al-hufadz. Para sahabat pun begitu antusias untuk menghafalkan ayat yang disampaikan oleh Nabi yang selanjutnya diteruskan kepada istri, anak dan keluarga mereka (Munawir, 2020).

Baca juga: Surah Al-Anbiya [21] Ayat 35: Setiap Makhluk Pasti Akan Mati

Antusiasme sahabat dan tradisi hafalan yang kuat di masyarakat Arab tersebut menjadikan Al-Qur’an terpelihara dengan baik. Banyak hadis meriwayatkan keberadaan penghafal dari kalangan sahabat seperti Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid al-Anshari, Usman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub dan lain sebagainya (Munawir, 2020). Pasca era sahabat, tradisi menghafalkan Al-Qur’an terus dilanjutkan oleh kaum muslim hingga hari ini.

Semangat Menghafal Al-Qur’an di Somalia

Angelina Ika dalam penelitiannya yang berjudul Penerapan Hukum Internasional Law In Order to Face The Piratesof Somali menyampaikan Somalia adalah negara yang berbatasan dengan Ethiopia di sebelah barat, Djibouti di barat laut, teluk Aden di utara, Kenya di barat daya dan lautan India di Timur (Ika, 2020). Negara ini memiliki iklim tropis kering dengan curah hujan rendah sehingga sering dilanda kekeringan yang bedampak pada kemiskinan, kelangkaan sumber daya alam, kekurangan makanan dan obat-obatan.

Kehidupan masyarakat Somalia semakin sulit dengan adanya kekacauan politik, ekonomi dan keamanan (Meisarani, 2020) yang berdampak pada pendidikan sehingga  tidak dapat dijalankan secara normal. Banyak sekolah dan perguruan tinggi ditutup karena masalah keamanan atau dialihfungsikan sebagai markas tentara dan kepolisian rezim sekuler Somalia dan pasukan Uni Afrika.

Di balik keadaan yang demikian terbatas dan mencekam, para ulama dan da’i tidak menyerah untuk tetap menyelenggarakan pendidikan  Al-Qur’an dan agama Islam untuk anak-anak muslim mengingat rezim sekuler Somalia tidak memberi perhatian untuk melestarikan ajaran Islam baik melalui pendidikan, ekonomi, politik maupun pemerintahan. Dengan pengajaran agama Islam tersebut, para ulama dan da’i berharap anak-anak kaum muslim di Somalia senantiasa direkatkan dengan Allah SWT, Al-Qur’an dan sunnah Nabi walau seperti apapun kesulitan yang melanda negeri mereka.

Baca juga: Mengenal Kitab Wa ‘Allama Adam Al-Asma’: Tafsir Tematik Karya Ahmad Yasin Asymuni

Ketua Rhabithah pondok-pondok pesantren di Somalia, Syaikh Sayid Mu’alim mengatakan bahwa pengajaran dan tahfidh Al-Qur’an di Somalia dilakukan di jalan-jalan, rumah-rumah hunian, tempat-tempat yang belum representatif yang dibangun dari kayu dan ranting serta beratapkan daun. Selain itu, ada pula yang memakai halaman rumah, ladang, kebun dan tempat terbuka lainnya sebagai “gedung” pondok pesantren Al-Qur’an di sana.

Metode Tahfizh bil alwah

Metode menghafal yang digunakan di Somalia terbilang unik yakni tahfizh bil alwah. Di salah satu madrasah al-Qur’an di ibukota Mogadishu, ada sekitar 300 murid yang menuliskan Al-Qur’an pada papan kayu dengan tinta secara tradisional.  Kemudian, mereka menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada guru tahfidh berdasarkan tulisan pada papan kayu yang mereka bawa.

Setelah hafalan mereka dinilai baik, maka tulisan pada papan kayu akan dihapus dengan air. Sebaliknya, jika hafalan mereka tidak baik maka mereka akan mendapat hukuman dari guru dengan melucuti baju mereka dan memukulinya dengan tongkat kecil. Hukuman itu tidak menimbulkan kemarahan bagi orang tua murid, sebaliknya menjadikan mereka semakin terpacu untuk menjadi penghafal Al-Qur’an yang baik.

Baca juga: Kedudukan Mushaf Utsmani Perspektif Muhammad Mustafa Azami

Semangat tahfidh Al-Qur’an di Somalia juga tampak pada perlombaan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Ajang tersebut menujukan kualitas dan semangat tahfidh Al-Qur’an yang tinggi meskipun masyarakatnya hidup dalam kesulitan. Selain itu perlombaan juga diperuntukkan bagi para tentara Mujahidin Asy-Syabab Somalia yang diadakan pada bulan ramadhan tahun 2012 dan 2013. Tema yang diambil dalam perlombaan itu adalah “Sungguh akulah seburuk-buruk penghafal jika kalian bisa diserang musush dari arahku” .

Kalimat tersebut merupakan sebuah ungkapan masyhur dari Salim Mawla Abu Hudzaifah (sahabat penghafal Al-Qur’an) yang gugur dalam pertempuran Yamamah bersama sekitar 70 sahabat penghafal yang lain. Peristiwa tersebut yang kemudian mengilhami Umar bin Khattab dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk melakukan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf (Negeri-negeri Penghafal Al-Qur’an, 223- 228).

Wiji Nurasih
Minat kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...