Beranda Ulumul Quran Pengulangan Kisah para Nabi dalam Alquran

Pengulangan Kisah para Nabi dalam Alquran

Pengulangan kisah nabi dalam Alquran sering ditemui. Banyak para nabi yang kisahnya diulang-ulang di beberapa ayat dan di berbagai surah. Uniknya, pengulangan tersebut seringkali menggunaan lafaz dan narasi yang berbeda-beda meski intisari kisahnya sama.

Misalnya kisah Nabi Musa sebagai kisah yang banyak diulang dalam Alquran. Kisahnya terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 60, Al-Maidah ayat 21-26, Al-Araf ayat 117 dan 160, Thaha ayat 20, Asy-Syu’ara ayat 32 dan 45, An-Naml ayat 10, dan Al-Qasas ayat 23-28. Contoh lainnya kisah Nabi Adam yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 34 dan terdapat pula di surah Al-A’raf ayat 11-13, surah Al-Hijr ayat 28-33, surah Al-Isra ayat 61-64, surah Thaha ayat 115-116, dan surah shad ayat 71-75.

Ada banyak aspek tikrar (pengulangan) surah dalam Alquran. Ada tikrar kisah-kisah dan ada pula tikrar dari segi lafaz seperti ayat fa bi ayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban dalam surah Ar-Rahman. Memang, kaidah tikrar dalam ulumul quran selalu menyimpan rahasia ke-balaghah-an yang indah. Adanya tikrar semakin menunjukan dalamnya keindahan Alquran serta makna tersembunyi lainnya.

Baca juga: Makna Pengulangan Lafaz al-Rahmān al-Rahīm dalam Surah al-Fatihah

Fungsi tikrar kisah

Kisah nabi yang diulang-ulang menarik para ulama untuk mengkaji rahasia dan hikmah di baliknya. Imam As-Suyuthi dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menyebutkan fungsi tikrar secara umum. Antara lain sebagai ta’kid (penegasan dan menuntut perhatian lebih), taqrir (penetapan), tadzkir (peringatan), dan fungsi-fungsi lainnya.

Muhammad Quthb berpendapat bahwa tikrar kisah memiliki dua tujuan; Pertama, tujuan seni, yaitu sebagai teknik variasi penceritaan sehingga memberikan nuansa baru dalam pembacaan cerita. Kedua, tujuan kejiwaan, yaitu sebagai teknik afirmasi agar pembaca semakin terpengaruh oleh amanat yang diemban kisah tersebut (Nazharat fi Qashash Al-Qur`an, 115).

Hasbi Ash-Shidieqiy dalam bukunya yang berjudul “Ilmu-ilmu Al-Qur’an” menjelaskan, setidaknya ada empat hikmah dari pengulangan kisah dalam Alquran:

  1. Menjelaskan ke-balaghah-an Alquran dalam tingkatan yang tertinggi. Di antara keistimewaan balaghah ialah menuangkan sebuah makna dalam berbagai macam susunan yang berbeda. Pada tiap tiap tempat, kisah disebutkan dengan gaya bahasa yang berbeda dari yang telah disebutkan sebelumnya.
  2. Menampakkan kekuatan i’jaz dengan menyebut suatu makna dalam berbagai bentuk susunan perkataan yang tidak dapat ditantang oleh sastrawan Arab. Ini merupakan tantangan hebat dan sebagai bukti bahwa Alquran benar-benar datang dari Allah Swt.
  3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut untuk lebih memantapkan dalam jiwa. Karena pengulangan merupakan salah satu cara ta’kid dan tanda besarnya perhatian.
  4. Perbedaan tujuan yang ingin dicapai dengan pengungkapan kisah tersebut, sehingga sebagian dari maknanya diterangkan di satu tempat karena hanya itulah yang diperlukan, sedang makna lainnya dikemukakan di tempat lain sesuai dengan tuntutan keadaan (Hasbi Ash Shiddieqy, 1993: 189).

Baca juga: Menjawab Anggapan Inkonsistensi Kaidah Pengulangan Isim dalam Penafsiran Bag. 1

Hikmah tikrar kisah nabi

Beberapa penelitian kemudian menginterpretasikan fungsi di atas dengan kisah para nabi. Misalnya dalam skripsi yang berjudul “Interpretasi Mufassir terhadap Tikrar Kisah Nabi Adam dalam Alquran” yang ditulis Nur Azizah. Hasil penelitian tersebut berisikan tiga fungsi tikrar kisah Nabi Adam.

Pertama, ta’zhim, sebagai bentuk pengagungan Allah atas kemuliaan Nabi Adam bahwa manusia sebagai makhluk mulia sehingga Allah menjadikannya khalifah. Kedua, tadzkir, sebagai peringatan mengenai bahaya sifat sombong seperti yang dilakukan iblis. Ketiga, ta’kid, sebagai penegasan bahwa Alquran merupakan pedoman umat manusia melalui pengulangan kisah Nabi Adam dan Iblis.

Ada juga penelitian lain yang menginterpretasikannya pada kisah Nabi Musa, Nabi Sulaiman, dan lain-lain. Sehingga setiap pengulangan kisah dari para nabi tersebut hakikatnya memiliki hikmah yang sama tapi dengan substansi kisah yang berbeda.

Gambaran hikmah tersebut pada umumnya dilihat dari beberapa aspek. Dari segi faedah untuk Nabi Muhammad, tikrar kisah dalam rangka untuk mengukuhkan hati Nabi Muhammad dalam menghadapi tantangan dakwah yang diembannya, serta untuk menghibur hati beliau bahwa para nabi yang lain pun mendapat ujian dari Allah.

Dari segi kita sebagai umat Nabi Muhammad, tikrar kisah menjadi penegasan agar kita mau mengambil pelajaran, serta untuk meyakinkan kita semua bahwa mukjizat dari Allah kepada para nabi adalah nyata. Pengulangan itu pun begitu apik dan hati-hati sehingga tidak membuat para pembacanya bosan dan semakin berkesan dalam hati dan ingatan.

Dari segi balaghah, akan didapati keindahan dan i’jaz Alquran yang manusia akan merasa takjub dan tidak mampu melakukannya, bahkan membuat terpana sastrawan arab yang notabene ahli syair. Pemaparan dan susunan kalimat serta tujuan yang berbeda dalam kisah yang diulang-ulang tersebut sebagai salah satu bukti tingkatan balaghah Alquran yang tertinggi, sebab pemaparan tersebut benar-benar sesuai muqtadha al-hal (tuntutan keadaan). Wallahu a’lam

Baca juga: Mungkinkah Terjadi Pengulangan Turunnya Ayat Alquran? 

Shopiah Syafaatunnisa
Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Beberapa kesunahan dalam merawat jenazah

Beberapa Kesunahan dalam Merawat Jenazah

0
Dalam pengetahuan khalayak umum ada empat hal yang perlu dilakukan saat seseorang meninggal, yaitu memandikan, mengafani, mensalati dan menguburkan. Namun sebenarnya tuntunan agama dalam...