Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ahkam Privilese bagi yang Tidak Dikaruniai Anak

Privilese bagi yang Tidak Dikaruniai Anak

Pada tulisan penulis sebelumnya tentang firman Allah dalam Surah Alkahfi ayat 46, dijelaskan bahwa harta dan anak merupakan perhiasan dunia dan al-baqiyat al-shalihat-lah yang pahalanya lebih baik dari keduanya. Kemudian, penulis menyimpulkan pendapat mufassir bahwa memang ayat ini bukan tentang meremehkan harta dan anak, tetapi sebagai perbandingan bahwa al-baqiyyat al-shalihat lebih baik jika dibandingkan harta dan anak yang sering kali dibangga-banggakan, namun bisa menjerumuskan pemiliknya.

Pemaknaan tekstual terhadap ayat ini pun sangat memungkinkan, tetapi bukan tentang kebolehan meremehkan anak dan harta, melainkan karena tidak semua orang dikaruniai anak dan harta. Bahkan, dalam Tafsir al-Lubab, ayat ini dimaknai sebagai bantahan bagi kaum musyrikin Jahiliyah yang membanggakan harta dan anaknya di depan Umat Islam yang tidak berharta.

Baca juga: Pahami Lima Posisi Anak dalam Al-Quran

Bagi yang memiliki harta dan anak, ayat ini menjadi rambu apakah harta dan anak termasuk bagian dari al-baqiyat al-shalihat atau tidak. Jika tidak, maka al-baqiyat al-shalihat yang masyhur ditafsirkan dengan zikir subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar tentu lebih baik.

Bagi yang tidak dikaruniai harta maupun anak, ayat ini menjadi motivasi bahwa al-baqiyat al-shalihat lebih baik di sisi Allah, sebab tidak sedikit pemilik harta dan anak disibukkan dengan perhiasan dunia tersebut.

al-Baqiyat al-shalihat, siapapun dan semua orang bisa meraihnya dan mengamalkannya. Adapun harta dan anak-anak, belum tentu semua orang bisa mendapatkannya. Dengan kata lain, harta dan anak bukan patokan kebahagiaan seseorang, tetapi, amal kesalehanlah yang mengekalkan pahala seseorang. Siapapun bisa mengamalkan al-baqiyat al-shalihat berupa zikir sebagaimana disebutkan di atas yang memiliki pahala besar.

Takdir Allah

Berbicara punya anak maupun tidak, dua-duanya sama-sama takdir dan kekuasaan Allah. Allah Swt. berfirman,

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

 أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِير

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S. Asysyura: 49-50)

Dari ayat di atas, ada yang dikarunia anak perempuan dan laki-laki, ada yang hanya anak laki-laki, ada yang anak perempuan saja, bahkan yang tidak dikaruniai anak sama sekali. Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi.

Berikut ini sisi istimewa mereka yag tidak dikaruniai anak.

Allah siapkan anak di surga

Bagi yang ditakdirkan Allah tidak memiliki keturunan, maka Allah akan menggantinya di surga, sebagaimana sabda Rasulullah:

الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي

“Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (H.R. Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi nomor: 2563)

Karena memang di surga, seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan,

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Q.S. Azzukhruf: 71)

Tidak dihisab tentang anak

Orang yang dikarunia anak, maka di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban atas anaknya. Ia akan ditanya tentang bagaimana dia menafkahi keluarganya dan bagaimana dia mendidik anak-anaknya. Rasulullah bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

‘Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan  dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.” (H.R. Bukhari Sahih al-Bukhari nomor 2554)

Betapa berat diamanahi seorang anak, sebab tanggung jawabnya di dunia dan akhirat. Sedangkan bagi yang tidak dikaruniai anak, maka ia tidak ditanya mengenai anaknya dan ini akan meringankan hisabnya di hari kiamat.

Dihapuskan dosa-dosanya

Dalam hadis Rasulullah, bahwa tidaklah seorang muslim yang Allah uji dengan kesedihan, kesakitan, sedikitnya harta dan anak melainkan Allah hapuskan dosanya serta Allah angkat derajatnya atas apa yang menimpanya.

Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Albaqarah: 155)

Setiap kali dia merasakan kesedihan karena merindukan kehadiran anak, maka setiap kali itulah dosa-dosanya terhapus. Derajatnya pun di hari kiamat sebanding dengan kesedihan dan ujian saat di dunia.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 46: Maksud Al-Baqiyat Ash-Shalihat

Demikian diantara hikmah yang harus dicatat, agar setiap manusia senantiasa berbaik sangka dengan apapun yang menjadi takdir Allah. Kemuliaan seseorang sama sekali tidak diukur dari punya atau tidak punya anak.

Ibunda Khadijah dikaruniai banyak anak oleh Allah, sedangkan Ibunda Aisyah tidak diberikan seorang anak pun oleh Allah. Namun keduanya sama sama wanita mulia ahlul jannah. Hal ini semakin menegaskan firman Allah bahwa hanya ketakwaan yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang.

Wallah a’lam.

Shopiah Syafaatunnisa
Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...