BerandaTafsir TematikPropaganda Kaum Musyrikin: Utusan Allah Selayaknya Malaikat bukan Manusia

Propaganda Kaum Musyrikin: Utusan Allah Selayaknya Malaikat bukan Manusia

Keraguan kaum musyrikin akan kenabian Rasulullah Saw bukanlah hal baru dalam perkembangan dakwah tauhid. Nabi-nabi sebelum beliau juga mengalami penolakan yang sama oleh kaum mereka. Tidak berimannya kaum para Nabi terdahulu juga memiliki latar pemikiran yang sama, yakni mengandaikan bahwa utusan Allah selayaknya adalah malaikat, bukan manusia. Itu adalah propaganda yang mereka sebarkan  kepada masyarakat, sehingga menjadi paradigma fundamental untuk menolak kenabian. Paradigma malaikat sebagai rasul ideal yang membuat banyak kaum tidak mau beriman ini termaktub dalam surah Alisra’ [17]: 94-95.

وَما مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جاءَهُمُ الْهُدى إِلَاّ أَنْ قالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ ‌بَشَراً ‌رَسُولاً (94) قُلْ لَوْ كانَ فِي الْأَرْضِ مَلائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّماءِ مَلَكاً رَسُولاً (95)

Dan tiada yang mencegah manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepada mereka kecuali mereka katakan, “Apa iya Allah mengutus manusia sebagai rasul?” Katakanlah seandainya di bumi para malaikat berjalan dengan tenang sungguh kami akan turunkan kepada mereka malaikat utusan dari langit.

Dalam kitab al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibn Asyur menjelaskan bahwa ayat ini menjadi illat al-ashliyah atau sebab fundamental mengapa kaum musyrikin senantiasa mengingkari dan mendustakan pesan dari Alquran. Mereka keberatan akan wahyu, karena dalam benak mereka mustahil Allah mengutus manusia seperti mereka untuk menyampaikan suatu risalah. Pemikiran inilah yang menjadi pokok dari berbagai alasan yang mereka ungkapkan, sehingga orang-orang dengan keyakinan ini tidak dapat diharapkan untuk beriman meskipun datang berbagai ayat kepada mereka.

Baca Juga: Dukungan Politik Elite Quraisy untuk Nabi Muhammad: Antara Prasyarat, Ujian, dan Kesempatan

Segala argumentasi yang mereka bangun hanyalah pembenaran atas pandangan mereka untuk menolak masuknya agama. Meskipun telah datang Rasul yang mereka minta, tidak akan berubah keyakinan yang telah dianut.

Propaganda Kaum Nabi-nabi Terdahulu

Propaganda mereka ini secara zahir membuat masyarakat tenggelam dalam paradigma berpikir terkungkung tersebut. Propaganda ini mencegah banyak orang untuk beriman, hal yang juga terjadi pada kaum sebelumnya seperti masyarakat Nabi Nuh as yang berkata;

مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلائِكَةً مَا سَمِعْنا بِهذا فِي آبائِنَا الْأَوَّلِينَ [الْمُؤْمِنُونَ: 24]

Bukanlah orang ini kecuali manusia seperti kalian yang menginginkan untuk dimuliakan atas kalian. Jika Allah berkehendak sungguh Dia akan menurunkan malaikat. Kita tidak mendengar akan hal ini terkait kakek moyang kita terdahulu.

Propaganda kaum Nabi Hud as;

مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَراً مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذاً لَخاسِرُونَ [الْمُؤْمِنُونَ: 33- 34]

Bukanlah orang ini kecuali manusia seperti kalian yang makan dari apa yang kalian memakannya dan minum dari apa yang kalian meminumnya. Sungguh jika kalian menaati manusia seperti kalian, maka sungguh kalian benar-benar rugi.

Demikian pula propaganda yang dijalankan oleh kaum Nabi Shalih as, Nabi Syuaib as, dan Fir’aun yang terangkum dalam surah Alsyu’ara dan Almu’minun. Mereka semua keberatan jika manusia yang sama seperti mereka menjadi utusan Allah. Terlebih jika rasul tersebut membawa risalah yang bertentangan dengan status quo. Propaganda ini lebih diterima masyarakat melalui penyebaran yang masif dari para elit maupun penguasa seperti Fir’aun. Hasil akhir yang didapatkan umat terdahulu adalah datangnya azab dari Allah, karena rendahnya perhatian mereka terhadap kebenaran.

Baca Juga: Tantangan Alquran kepada Penentang Risalah Nabi Muhammad

Keutamaan Nabi Muhammad Saw: Membangun Dialektika Berpikir  

Lebih lanjut, Ibn Asyur menjelaskan keutamaan Nabi Muhammad Saw yang diberikan kesempatan untuk mencerabut propaganda di atas hingga ke akarnya. Kesempatan yang tidak diajarkan kepada para rasul sebelumnya. Mereka menghadapi propaganda tersebut dengan pertolongan langsung dari Allah saat kaumnya dibinasakan dengan azab. Allah mengkhususkan Nabi Saw dengan adanya petunjuk untuk membatalkan propaganda kaum musyrikin karena beliau adalah penutup dari para Nabi Saw.

Adapun makna ayat 95 menurut Ibn Asyur yakni Allah mengutus seorang rasul kepada suatu kaum dari jenis mereka agar terwujud kemungkinan dialog. Alasannya menurut beliau karena jenis yang sama memudahkan pergaulan. Beliau juga mengutip surah Alan’am [6]: 9, jikapun malaikat yang diutus, maka akan dijadikan dalam bentuk manusia, agar memungkinkan untuk berkomunikasi dengan manusia.

Tuntutan kaum musyrik yang ingin malaikat bertindak sebagai rasul terlihat ganjil jika dibandingkan dengan sejarah manusia yang bermula dari Nabi Adam. Oleh karenanya, pada ayat 70 sebelumnya disinggung terkait kemuliaan bani Adam. Pada ayat tersebut Imam al-Razi menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus manusia dipandang lebih mulia dibandingkan dengan malaikat. Pertama adalah para Nabi yang lebih mulia dari malaikat dengan dalil bahwa para malaikat diminta untuk bersujud menghormati Nabi Adam. Demikian pula antara mukmin awam dan malaikat pada umumnya jika merujuk pada riwayat Abu Hurairah, maka Muslim lebih afdal dari malaikat. Kontra narasi terhadap propaganda kaum musyrikin di atas pada akhirnya menjadi pemikiran arus utama seiring dengan berkembangnya keilmuan.

Baca Juga: Narasi Sosial Penghambat Dakwah Rasulullah saw.

Dialektika di atas tidak pernah dapat dibangun pada umat sebelumnya, karena mereka telah menutup diri dari satu pemikiran baru. Oleh karenanya, kritis terhadap suatu propaganda usang yang kontraproduktif terhadap peradaban kemanusiaan menjadi keniscayaan jika kita hendak melanjutkan sunah Nabi Saw.

Wallahu a’lam.

Muhammad Fathur Rozaq
Muhammad Fathur Rozaq
Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Nasakh Perspektif Mahmud Muhammad Thaha

0
Dalam ranah Ulumul Qur’an, nasakh secara mengandung beberapa makna. Pertama, diartikan sebagai izalatun yakni penghapusan. Pemaknaan ini diambil dengan merujuk pada QS. Alhajj :...