Saat ini sebagian besar waktu manusia tersita oleh layar gawai, bahkan hingga di bulan Ramadan yang semestinya menjadi momen refleksi dan peningkatan ibadah. Oleh karena itu, penting kiranya untuk memaknai kembali arti puasa. Di tengah hiruk-pikuk era digital saat ini, puasa seharusnya tidak hanya berarti sekadar menahan lapar dan minum, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya menahan diri dari ketergantungan digital yang melalaikan (detoks digital).
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwasanya durasi rata-rata penggunaan internet harian di Indonesia mencapai 7 jam 59 menit, lebih lama dibandingkan rata-rata global yang hanya 6 jam 43 menit. Sebanyak 78% dari penggunaan itu didominasi oleh media sosial (Akhtar, 2020). Setiap hari manusia diserbu informasi tanpa batas, hingga tanpa sadar daya fokus melemah dan ketenangan batin terkikis.
Alih-alih memanfaatkan waktu sahur dan berbuka untuk berdzikir dan mendekat kepada Allah SWT, banyak orang justru tenggelam dalam aktivitas scrolling tanpa tujuan. Jari-jemari sibuk menyentuh layar, namun hati menjauh dari makna puasa itu sendiri. Padahal, Ramadan adalah latihan untuk menahan diri tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari aktivitas yang melalaikan dan mengikis fokus dalam beribadah.
Baca juga: Al-Qur’an di Era Digital dan Kemunculan Generasi Muslim Melek Digital
Digital Fasting sebagai Jalan Baru Memaknai Puasa
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, Allah secara eksplisit menyebutkan bahwasanya tujuan utama disyariatkannya puasa dalan Islam adalah untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang bertakwa, sebagaimana dalam kutipan berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
‘Abd al-Rahman as-Sa‘di dalam tafsirnya Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, menambahkan, bahwa hikmah terbesar puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Ketakwaan tersebut tampak dalam kemampuan menahan diri dari hal yang diharamkan, merasa diawasi Allah, melemahkan godaan setan, memperbanyak ketaatan, serta menumbuhkan empati sosial. Dengan demikian, puasa menjadi latihan ruhani yang menyeluruh melatih fisik, mental, dan spiritual sekaligus.
Belakangan ini, muncul tren digital fasting atau detoks digital, yaitu membatasi diri dari penggunaan perangkat elektronik untuk menjaga kejernihan pikiran dan ketenangan batin. Konsep ini menyerukan agar manusia menahan diri dari konsumsi digital berlebihan tidak merespon pesan di luar jam kerja, menetapkan waktu tanpa layar, serta lebih banyak berinteraksi langsung di dunia nyata (Basu, 2019).
Islam sejatinya telah mengajarkan prinsip ini jauh sebelum istilah detoks digital dikenal. Ibadah puasa mengandung pesan menahan diri dari segala yang melalaikan, termasuk ucapan, pendengaran, dan penglihatan yang sia-sia. Rasulullah ﷺ bersabda:
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan kotor, melakukan hal itu dan masa bodoh, maka Allah tidak butuh (amalannya) meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasa).” (HR. Al-Bukhari, No. 6057).
Hadis ini menegaskan bahwa nilai puasa bukan hanya fisik, melainkan juga moral dan spiritual. Dalam konteks kekinian, saat jari terus menyentuh layar dan mata menatap konten tanpa henti, ajaran Islam menuntun kita untuk melakukan puasa digital menahan diri dari konten yang tidak bermanfaat. Puasa yang sejati bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari dosa, kebohongan, dan kesia-siaan yang kini mudah tersebar lewat dunia maya.
Dengan demikian, puasa merupakan latihan pengendalian diri yang holistik, yang seyogianya diterapkan tidak hanya pada Ramadan, tetapi juga menjadi pola hidup seorang Muslim setiap hari.
Baca juga: Menjadi Seorang Asketis di Era Media Sosial
Puasa: Menenangkan Jiwa dari Kebisingan Dunia Digital
Kecanduan teknologi telah membuat manusia kehilangan penghargaan terhadap proses. Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan untuk menahan diri dari kenikmatan instan. Dunia digital yang serba cepat merusak sistem penghargaan alami otak; segala sesuatu bisa didapat dengan segera. Akibatnya, manusia terbiasa hidup instan, mudah terdistraksi, kehilangan kesabaran, dan enggan bersyukur (Rahardaya & Kurniawan, 2022).
Waktu pun habis untuk hal-hal tidak penting, tubuh terasa lelah tanpa sebab, dan pekerjaan terbengkalai. Lebih parah lagi, muncul apatisme terhadap lingkungan sekitar. Secara spiritual, ini menggambarkan manusia yang kehilangan ruh kehidupan “hidup, padahal sudah mati.” Karena itu, puasa menjadi momentum detoksifikasi jiwa dan raga, untuk mengembalikan kesadaran akan nilai kesabaran dan makna hidup.
Tantangan umat Islam masa kini bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari candu digital. Waktu dan perhatian banyak terserap oleh screen time berlebihan, media sosial yang tidak bermanfaat, dan informasi tak terkurasi. Akibatnya, hati menjadi lelah dan nilai ibadah menurun.
Dalam kerangka Tafsir As-Sa’di, digital fasting sejalan dengan konsep takwa menahan diri dari hal-hal yang mubah bila berlebihan, demi kedekatan dengan Allah. Ketika seseorang mampu meninggalkan gawai sejenak, menahan keinginan untuk scrolling tanpa arah, lalu menggantinya dengan membaca Al-Qur’an atau berzikir, ia sedang mempraktikkan “takwa digital”.
Sebagaimana orang yang meninggalkan makan dan minum karena Allah, demikian pula orang yang membatasi dirinya dari dunia maya demi menjaga hati. Maka, detoks digital bukan sekadar gaya hidup modern, melainkan refleksi dari nilai puasa yang telah diajarkan Islam sejak ribuan tahun lalu, yaitu: menahan diri, menyederhanakan hidup, dan memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama.
Baca juga: Tafsir Lughawi Ayat Puasa: Puasa Ibadah yang Mudah
Penutup: Menghidupkan Takwa dalam Dunia Serba Digital
Puasa adalah laboratorium spiritual tahunan yang Allah sediakan agar manusia kembali pada fitrahnya. Di tengah derasnya arus informasi dan distraksi digital, puasa menjadi penyejuk jiwa yang menuntun manusia untuk berhenti sejenak, merefleksi diri, dan menata ulang arah hidup.
Bukan berarti kita harus menolak teknologi, tetapi Islam mengajarkan agar kita beribadah dengan kesadaran penuh di tengah distraksi digital. Menahan lapar dan haus mungkin mudah, namun menahan diri dari scrolling dan stalking adalah ujian berat zaman ini.
Detoks digital, dalam kerangka spiritual, adalah penerapan modern dari nilai puasa yang hakiki—menyaring informasi, menyehatkan jiwa, dan memperkuat takwa. Saat kita mampu menahan diri dari dunia maya dan mengembalikan fokus kepada Allah, saat itulah kita sedang berlatih menjadi pribadi bertakwa di era digital.
Puasa bukan hanya menahan yang masuk ke mulut, tetapi juga apa yang masuk ke hati dan pikiran. Dengan demikian, digital fasting sejatinya adalah cermin modern dari ibadah puasa: menahan diri, menyucikan jiwa, dan menemukan kembali kedamaian batin di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Wallahu a’lam.

![Muhasabah sebagai Mindfulness dalam Perspektif QS. Al-Hasyr [59]: 18 Muhasabah sebagai Mindfulness dalam Perspektif QS. Al-Hasyr [59]: 18](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/02/Screenshot-2026-02-18-at-06.41.01-e1771371757513.png)

![Doa sebagai Komunikasi Tanpa Batas: Refleksi QS. Al-Baqarah [2]: 186 Menyambut Ramadan](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Image-2024-10-17-at-141424-482575316-218x150.webp)











![Doa sebagai Komunikasi Tanpa Batas: Refleksi QS. Al-Baqarah [2]: 186 Menyambut Ramadan](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Image-2024-10-17-at-141424-482575316-100x70.webp)
