Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tematik Surah Serba-Serbi Seputar Surah Albaqarah

Serba-Serbi Seputar Surah Albaqarah

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas serba-serbi seputar surah Alfatihah yang adalah surah urutan pertama sekaligus yang paling utama di antara surah-surah lainnya dalam Alquran. Kali ini, kita beralih pada pembahasan surah yang kedua, yakni surah Albaqarah, surah terpanjang dalam Alquran dengan jumlah ayat mencapai 286 ayat atau sekitar 2 ½ juz Alquran.

Secara kronologis, surah Albaqarah berada di urutan ke-86. Ia turun setelah surah Almutaffifin dan sebelum surah Ali Imran.

Surah Albaqarah termasuk surah madaniyyah atau yang turun sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Bahkan, ia menjadi surah yang pertama kali turun di sana. Ayat-ayatnya diturunkan kepada Nabi Muhammad secara bertahap; sejak awal hijrah, hingga bagian terakhirnya, yaitu ayat ke-281 menjadi wahyu yang terakhir kali turun menjelang wafat beliau (Bitaqah al-Ta’rif bi Suwar al-Mushaf al-Syarif, hal. 22).

Meski demikian, al-Suyuti mengecualikan ayat ke-109 dan 272 dari surah Albaqarah ini termasuk ayat-ayat madaniyyah. Menurutnya, dua ayat ini turun di periode Mekah (al-Itqan, hal. 42).

Nama surah

Nama surah Albaqarah berasal dari Nabi Muhammad sebagaimana yang tercatat dalam beberapa riwayat hadis yang akan disebutkan kemudian.

Kata “Albaqarah” yang berarti “sapi” ini merujuk pada kisah sapi kaum Nabi Musa yang Allah perintahkan mereka untuk menyembelihnya. Kisah ini dinarasikan di ayat 67-71. Penamaan surah memang biasanya terambil dari sisi unik dari surah yang terkait. Surah Albaqarah berarti surah yang diceritakan di dalamnya kisah sapi kaum Nabi Musa.

Surah Albaqarah beserta surah Ali Imran oleh Nabi juga dinamai dengan al-Zahrawain yang berarti dua hal yang menerangi. Menurut al-Qurtubi, kedua surah ini dinamakan demikian karena keduanya menerangi pembacanya dengan cahaya sempurna di hari kiamat. Bisa juga berarti keduanya menerangi pembacanya dengan limpahan makna yang dikandungnya.

Al-Suyuti menambahkan dua nama lain; Sanam al-Qur’an (Puncak Alquran) dan Fustat al-Qur’an (Kotanya Alquran). Nama yang terakhir berasal dari Khalid bin Ma’dan. Surah Albaqarah dinamakan demikian karena ia adalah surah terpanjang dalam Alquran, termasuk surah paling awal di urutan mushaf, dan mencakup banyak hal seputar akidah, hukum, ibrah, dan nasihat keagamaan.

Kandungan surah

Al-Farahi berpendapat, setiap surah dalam Alquran memiliki tema tersendiri. Antara satu ayat dengan ayat lainnya dalam surah tersebut saling terhubung dan membentuk satu kesatuan tematik.

Terkait dengan surah Albaqarah, menurut al-Farahi, tema sentral (‘amud)-nya adalah pemenuhan janji Allah atas doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di Q.S. Albaqarah: 129 berupa kenabian Muhammad. Seluruh ayat di surah ini berfokus pada penyempurnaan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan pengokohan keimanan atas kenabian beliau (Nizam al-Qur’an, hal. 65).

Dari tema sentral tersebut muncul beberapa subtema. Di antaranya; hakikat iman, dalil tauhid, kenabian, hari kembali; peribadatan seperti salat, zakat, puasa, dan haji; perpolitikan seperti khilafah, jihad, taat kepada pemimpin, dan pemeliharaan diri dan harta; kemasyarakatan seperti hak-hak perempuan dan anak yatim, jual-beli, dan hutang-piutang; sopan santun seperti menjaga harga diri dan menghindari mabuk-mabukan, judi, dan sebagainya (Nizam al-Qur’an, hal. 66).

Baca juga: Serba-Serbi Seputar Surah Alfatihah

Keutamaan

Surah Albaqarah memiliki beberapa keutamaan, baik dari segi kandungannya maupun dari segi khasiat praktisnya. Dari segi makna yang dikandungnya, sudah cukup jelas dari pemaparan di atas bahwa surah ini banyak mencakup pokok-pokok agama, hingga dinamai dengan “Puncak dan Kotanya Alquran”.

Sedangkan keutamaan surah Albaqarah dari segi praktisnya setidaknya ada dua hal; berkhasiat memagari rumah dari masuknya setan dan berkhasiat menyinari muka pembacanya kelak di hari kiamat. Berikut dua hadis yang menjelaskannya:

لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقابِرَ، إنَّ الشَّيْطانَ يَنْفِرُ مِنَ البَيْتِ الذي تُقْرَأُ فيه سُورَةُ البَقَرَةِ

Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surah Albaqarah (H.R. Muslim, no. 780).

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَـاجَّـانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا. اقْرَءُوا سُـورَةَ الْبَقـرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.

Bacalah Alquran karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”. Bacalah “Dua hal yang menerangi”; surah Albaqarah dan surah Ali Imran. Pada hari kiamat nanti keduanya akan datang seolah-olah dua gumpalan awan, seperti dua bayang-bayang, atau seperti dua gerombol burung-burung yang berbaris yang akan membela para “sahabatnya”. Bacalah surah Albaqarah, karena mengambilnya (membaca/menghafal) merupakan suatu keberkahan dan meninggalkannya merupakan suatu kerugian (H.R. Muslim, no. 1337).

Ayat-ayat penting

Di dalam surah Albaqarah terdapat satu ayat yang diberi predikat oleh Nabi Muhammad dalam H.R. Ahmad no. 20566 sebagai ayat yang paling utama dalam Alquran. Ayat itu dijuluki dengan Ayat Kursi. Ayat ke-255 dari surah Albaqarah ini menjadi bacaan sehari-hari umat Islam; dibaca saat berdoa, setelah salat, menjelang tidur, hingga ketika merasa terganggu dengan gangguan makhluk halus.

Ayat lainnya dari surah Albaqarah yang tak kalah penting adalah dua ayat terakhirnya. Disebutkan dalam H.R. al-Bukhari no. 3707 bahwa dua ayat ini dianjurkan untuk dibaca ketika seseorang hendak tidur. Khasiatnya, dapat menjaga orang tersebut dari hal-hal yang tidak dia diinginkan.

Di dalam surah Albaqarah juga terdapat bacaan gharib yang perlu diperhatikan. Bacaan gharib merupakan bacaan yang tidak biasa ditemukan dalam kaidah tajwid. Ia harus dipelajari secara kasuistik karena berbeda dengan cara baca pada umumnya. Salah satunya adalah keharusan membaca huruf sad (ص) menjadi huruf sin (س) di kata وَيَبْصُطُ yang terdapat dalam Q.S. Albaqarah: 245.

Dalam mushaf Madinah, biasanya ada huruf sin kecil yang disisipkan di atas huruf sad pada kata tersebut untuk menandai kata tersebut sebagai bacaan gharib.

Demikian adalah cara baca menurut riwayat Hafs dari qiraah Ashim yang dianut mayoritas umat muslim dunia, termasuk di Indonesia. Menurut Ibn Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, ini juga adalah cara baca kebanyakan imam qiraah. Sebagian yang lain tetap membaca dengan huruf sad seperti riwayat lain dari qiraah Ashim, yaitu riwayat Syu’bah.

Baca juga: Tujuh Bacaan Gharib dalam Alquran menurut َQiraat Ashim Riwayat Hafs

Lukman Hakim
Pegiat literasi di CRIS Foundation; mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...