BerandaTafsir TematikSeruan Ibadah Haji dan Asal Muasal kalimat Talbiyah

Seruan Ibadah Haji dan Asal Muasal kalimat Talbiyah

Saat ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia berbondong-bondong mengunjungi Kota Suci Mekkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. Di antara mereka ada yang telah sampai di tanah suci tersebut ada pula yang masih menunggu proses keberangkatan. Mereka akan berkumpul di dua kota suci tersebut melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji guna memenuhi panggilan Allah Swt.

Dalam catatan sejarah, ibadah haji beserta seluruh ritual yang ada di dalamnya merupakan syariat umat terdahulu yang masih tetap lestari hingga sekarang. Ia merupakan napak tilas dari perjalanan dan perjuangan Nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya sebagai orang yang pertama kali membangun Ka’bah. Konon, mereka yang berangkat menunaikkan ibadah haji telah mendengar dan menjawab seruan Nabi Ibrahim a.s. untuk berhaji.

Baca Juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 97 Istito’ah; Sebagai Syarat Wajib Haji

Seruan Nabi Ibrahim a.s. kepada seluruh manusia untuk berhaji ini termaktub dalam Alquran Surat al-Hajj ayat 27. Allah Swt. berfirman:

{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيق}

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.

Menurut mayoritas ulama tafsir, ayat di atas ditujukan kepada Nabi Ibrahim a.s. Konon, ketika Nabi Ibrahim a.s. telah selesai membangun Ka’bah bersama putranya Nabi Isma’il a.s., beliau mendapat perintah untuk menyeru manusia melaksanakan ibadah haji berkunjung ke rumah suci tersebut.

Terdepat berbagai riwayat mengenai detail kisah seruan Nabi Ibrahim a.s. untuk berhaji ke baitullah. Menurut Imam al-Qurthubi, Nabi Ibrahim a.s. menaiki bukit, Abi Qubais kemudian berteriak, “Wahai manusia! Allah Swt. telah memerintahkan kalian untuk berhaji ke rumah suci ini. Maka berhajiah supaya kalian diberi pahala berupa surga Allah swt. dan terhindar dari siksa di neraka”. [Tafsir al-Qurthubi, juz 12, hal 38]

Dalam riwayat yang lain, Nabi Ibrahim a.s. berdiri di atas tempat yang konon menjadi lebih tinggi daripada tempat-tempat yang lain. Menurut keterangan dari Ibnu Abbas r.a., atas izin Allah Swt., gunung-gunung pada waktu itu menunduk, kota-kota dan pemukiman manusia meninggi supaya suara Nabi Ibrahim a.s. sampai ke seluruh penjuru dunia. [Mafatih al-Ghaib, juz 23, hal 220]

Di sinilah salah satu mukjizat Nabi Ibrahim a.s. terlihat. Atas izin Allah swt., seruan beliau menunaikkan ibadah haji terdengar oleh seluruh manusia bahkan mereka yang masih belum lahir sekalipun. Dalam sebagian riwayat, suara beliau bahkan terdengar oleh bebatuan dan pepohonan sekalipun. Makhluk-makhluk yang mendengar seruan Nabi Ibrahim a.s. pun menjawab dengan ucapan kalimat talbiyah, لبيك اللهم لبيك.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 201 dan Doa Ketika Berhaji

Dalam riwayat yang lain, ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintah untuk menyerukan kewajiban haji kepada manusia, beliau kebingungan bagaimana caranya. Akhirnya, melalui Malaikat Jibril a.s., Allah Swt. mengajarkan kalimat talbiyah tersebut guna menyeru manusia untuk menunaikkan ibadah haji. Dengan demikian, berdasarkan riwayat ini, inilah kalimat talbiyah pertama dalam sejarah. [Tafsir al-Thabari, juz 16, hal. 607]

Menurut Imam Mujahid r.a., takdir manusia melaksanakan ibadah haji tergantung seberapa banyak jawaban kalimat talbiyah yang diucapkan ketika menjawab seruan Nabi Ibrahim a.s. mereka yang menjawab dengan talbiyah satu kali akan melaksanakan ibadah haji satu kali seumur hidup, dan mereka yang menjawab dua kali akan mendapat panggilan dua kali berhaji dalam seumur hidup dan begitu seterusnya. [Mafatih al-Ghaib, juz 23, hal. 220]

Komentar Sebagian Ulama Tentang Kisah Tersebut

Dalam berbagai literatur kitab tafsir, baik klasik maupun kontemporer, rata-rata mengutip riwayat-riwayat di atas ketika menafsiri ayat ke 27 Surat al-Hajj tersebut. Akan tetapi, ada sebagian ulama yang cukup kritis dengan riwayat-riwayat tersebut dengan lebih memilih diam dan memahami ayat sesuai dengan makna tekstual yang tersaji dalam ayat tersebut.

Di antara ulama yang mengambil sikap ini adalah Imam al-Maturidi. Meskipun beliau juga mengutip riwayat tersebut dalam kitab tafsirnya, tetapi beliau menegaskan bahwa kisah-kisah seperti ini tidak dapat diimani kecuali benar-benar ada keterangan valid dari Rasulullah Saw. maka dari itu, untuk hal-hal semacam ini beliau memilih sikap diam dan tidak mempercayai secara membabi buta akan kisah-kisah yang beredar. [Ta’wilat Ahl al-Sunnah, juz 7, hal. 407 ]

Baca Juga: Revolusi Ibadah Haji: Dari Paganis Menuju Islamis

Hal serupa juga diamini oleh Syaikh Muhammad Izzat Darwazah. Dalam kitab tafsirnya, beliau menandaskan bahwa validitas riwayat-riwayat tentang kisah seruan Nabi Ibrahim a.s. tersebut masih perlu dipertanyakan. Sehingga, sikap paling baik adalah mencukupkan diri terhadap penjelasan yang tersaji dalam Alquran. [Al-Tafsir al-Hadis, juz 6, hal 37]

Akhir kata, umat Islam wajib meyakini adanya seruan Nabi Ibrahim a.s. karena Alquran menjelaskan demikian, tetapi detail kisahnya seperti apa dan bagaimana prosesnya kita lebih baik bersikap no comment. Semoga semua umat Islam termasuk orang-orang yang ditakdirkan menjawab panggilan Nabi Ibrahim a.s. dan datang berkunjung ke tanah suci melaksanakan ibadah haji. Aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Muhammad Zainul Mujahid
Muhammad Zainul Mujahid
Mahasantri Mahad Aly Situbondo
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyembelih Ego dan Sifat Kepemilikan di Hari Raya Kurban

Menyembelih Ego dan Sifat Kepemilikan di Hari Raya Kurban

0
Hari Raya Kurban atau biasa dikenal juga sebagai Hari Raya Iduladha bagi umat muslim, merupakan waktu yang sangat istimewa. Pada hari yang penuh makna...