Beranda Tafsir Tematik Surah Al-An’am Ayat 164: Seseorang Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain

Surah Al-An’am [6] Ayat 164: Seseorang Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain

Dalam ajaran Islam, seorang muslim – sebagai hamba Allah Swt – bertanggungjawab sepenuhnya atas tindakannya sendiri, bukan orang lain. Jika ia melakukan kebaikan dan amal saleh, maka ia akan mendapatkan ganjaran pahala. Sebaliknya, jika ia melakukan maksiat, maka ia akan memikul beban dosa. Artinya, seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, melainkan dosanya sendiri.

Allah Swt berfirman dalam surah al-An’am [6] ayat 164 yang berisi tentang ajaran bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, tetapi dosanya sendiri:

قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ١٦٤

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. Al-An’am [16] ayat 164).

Baca Juga: 3 Dosa Besar Yang Wajib Dihindari Jika Ingin Menjadi Mukmin Sejati

Secara umum, surah al-An’am [6] ayat 164 berisi tentang perintah Allah swt kepada nabi Muhammad saw untuk menolak ajakan kaum musyrik mengikuti mereka dengan berkata, “Apakah (patut) aku mencari Tuhan yang diakui keesaan-Nya dan disembah selain Allah, padahal Dia yang Maha Esa itu adalah Tuhan yang menganugerahkan bimbingan dan pemeliharaan bagi segala sesuatu, termasuk kalian (musyrik) yang mengingkarinya.”

Di samping itu, Allah swt menegaskan dalam surah al-An’am [6] ayat 164 bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Sebab, setiap perbuatan maksiat yang dilakukan seseorang, dosa dan mudaratnya hanya akan kembali kepada pelakunya, bukan orang lain. Oleh karena itu, setiap orang harus berhat-hati terhadap tindak-tanduknya, karena ia akan mati dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia ke hadapan Allah (Tafsir al-Misbah [4]: 371).

Surah al-An’am [6] ayat 164 – sebagaimana diterangkan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid – turun disebabkan perkataan Walid bin Mughirah, “ikuti jalanku, niscaya aku akan memikul beban kalian semua ke hadapan Tuhan kalian.” Lalu turunlah ayat ini turun untuk menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka masing-masing dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.

Menurut Quraish Shihab, kata wizr pada mulanya berarti berat. Namun pada surah al-An’am [6] ayat 164 wizr dapat dimaknai sebagai dosa, karena dosa adalah sesuatu yang berat dipikul di akhirat kelak. Dari akar kata ini pula dibentuk istilah wazir atau menteri, karena didasarkan pada tugasnya yang teramat berat. Dengan demikian wizr dalam konteks tertentu – seperti ayat di atas – bisa bermakna dosa.

Al-Sa’adi menyebutkan dalam kitabnya, Tafsir al-Sa’adi, surah al-An’am [6] ayat 164 merupakan satire dari Allah kepada kaum musyrik, yakni apakah pantas seorang makhluk mencari makhluk yang lain untuk dijadikan tempat berlindung dan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Tuhan Yang Maha Merawat dan Mengatur segala sesuatu. Setiap eksistensi di alam semesta berada di bahwa pengaturannya.

Menurut Al-Sa’adi, ayat juga ini menjelaskan tentang tanggung jawab pribadi, yakni seseorang akan menanggung hasil perbuatannya, baik atau buruk sebagaimana disebutkan dalam ayat lain, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” Artinya, seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, melainkan dosanya sendiri.

Sedangkan Ibnu al-Jauzi dalam Zad al-Masir menyebutkan surah al-An’am [6] ayat 164 adalah dalil yang menunjukkan bahwa kesalahan seseorang tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Ia berkata, “Janganlah hukum seseorang karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain.” Dalam konteks ini, jika yang bersalah adalah orang tua, maka dialah yang bertanggungjawab, bukan anaknya dan bukan pula istrinya.”

Baca Juga: Tafsir Surah Hud Ayat 114: Perbuatan yang Dapat Menghapus Dosa

Ibnu Katsir menerangkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, surah al-An’am [6] ayat 164 merupakan bukti keadilan hukum dari Allah swt. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalan yang ia perbuat. Jika amalan tersebut baik, maka kebaikan yang akan dibalas. Jika yang diperbuat jelek, maka jelek pula yang dibalas. Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain sebagaimana yang dianggap sebagian orang (baca: dosa warisan).

Berdasarkan penjelasan di atas, setiap manusia bertanggungjawab terhadap dirinya dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, baik atau buruk. Kesalahan yang ia buat atau kebaikan yang ia lakukan tidak bisa dilemparkan kepada orang lain, termasuk keluarga dan orang terdekat. Dalam konteks ini, jika seseorang melakukan kesalahan seperti mencuri, kita tidak boleh ikut menyalahkan keluarganya tanpa bukti bahwa mereka juga bersalah. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...