BerandaTafsir TematikSurah Al-Baqarah Ayat 216: Sesuatu Yang Tidak Disukai Belum Tentu Tidak...

Surah Al-Baqarah [2] Ayat 216: Sesuatu Yang Tidak Disukai Belum Tentu Tidak Baik

Dalam kehidupan, seseorang akan berjumpa dengan berbagai hal dan peristiwa. Dari kedua hal tersebut, ada yang tidak disukai dan ada yang disukai atau tidak dua-duanya. Setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing terhadap suatu pilihan. Namun sebagai catatan, sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik atau bahkan itu lebih baik.

Allah swt berfirman dalam surah al-Baqarah [2] ayat 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ ٢١٦

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 216).

Secara spesifik, surah al-Baqarah [2] ayat 216 berbicara mengenai keengganan para sahabat untuk berperang karena mereka mencintai kedamaian dan karena perang dapat mengakibatkan hilangnya nyawa, terjadinya cedera, dan hilangnya harta benda. Ayat ini menegaskan meskipun sikap utama muslim adalah damai dan mendamaikan, namun dalam konteks menegakkan keadilan, mereka harus berani berjuang (Tafsir al-Misbah [1]: 460).

Baca Juga: Tidak Sama yang Buruk dengan yang Baik, Jangan Terjebak Keburukan yang Melenakan!

Di sisi lain, surah al-Baqarah [2] ayat 216 juga mengajarkan kepada muslim bahwa sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik atau malah justru itu yang terbaik. Dalam konteks ini, suatu syariat atau perintah Allah barang kali secara sepintas terlihat “tidak menyenangkan” seperti qishash, namun sesungguhnya dibaliknya ada hikmah yang begitu besar bagi kemaslahatan manusia, yakni efek jera bagi pelaku sehingga tidak akan ditiru orang lain.

Menurut Quraish Shihab, surah al-Baqarah [2] ayat 216 menerangkan bahwa sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik, terutama ketetapan Allah. Oleh karenanya, ketika ada perintah atau larangan dari Allah swt yang terkesan tidak mengenakkan, ia harus menanamkan rasa optimisme di dalam jiwanya dan berkata bisa jadi di balik ketetapan tersebut ada sesuatu yang baik atau bernilai.

Demikian pula sebaliknya, seseorang yang sedang mendapatkan atau menikmati kebahagiaan hidup di dunia berupa kelimpahan rezeki atau sebagainya, semestinya tidak berbahagia secara berlebihan hingga lupa diri. Karena bisa jadi di balik kenikmatan hidup yang disukai tersebut, terdapat mudarat yang tak disangka-sangka atau bisa jadi itu sebenarnya sebuah istidraj (lanjuran).

Lebih dalam, surah al-Baqarah [2] ayat 216 mengajarkan manusia agar berserah diri hanya kepada Allah swt sekaligus mendorong mereka untuk hidup secara seimbang atau proporsional. Dalam konteks menghadapi problem kehidupan, mereka semestinya tidak kehilangan optimisme ketika dilanda kesedihan dan tidak pula larut dalam kegembiraan sampai-sampai melupakan daratan (Tafsir al-Misbah [1]: 461).

Al-Sa’adi menyebutkan dalam Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, ayat ini menerangkan bahwa sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik. Pada satu titik – sama halnya dengan jihad – segala sesuatu yang tidak disukai bisa jadi menyimpan berbagai kebaikan di dalamnya. Sebaliknya, sesuatu yang disukai – seperti berleha-leha – bisa jadi menyimpan segudang mudarat.

Hal senada disampaikan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid. Menurutnya, seseorang mungkin tidak menyukai sesuatu semisal jihad di jalan Allah, namun sebenarnya di balik jihad tersimpan berbagai kebaikan mulai dari syahid, ghanimah, hingga pahala yang besar di sisi-Nya. Sebaliknya, sesuatu yang disukai seperti menjauh dari jihad, dapat membawa malapetaka terhadap diri dan orang lain.

Lebih jauh al-Bantani menuturkan, surah al-Baqarah [2] ayat 216 bermakna hanya Allah swt Yang Maha Mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, sedangkan manusia tidak mengetahuinya secara pasti. Oleh karena itu, tanpa pengetahuan yang pasti seseorang tidak boleh memaksakan pendapat pribadi, terutama berkaitan dengan ketentuan Allah. Yang seharusnya terjadi adalah ia melaksanakan ketentuan tersebut sesuai dengan tuntunan-Nya.

Baca Juga: Surah Al-Qadr [97] Ayat 3: Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan

Ali al-Shabuni juga menerangkan demikian, yakni sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik. Sebaliknya, sesuatu yang disukai belum tentu baik pula. Pada hakikatnya manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang baik baginya dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui dengan itu semua. Oleh karena itu, manusia seyogyanya bersegera mematuhi segala perintahnya (Shafwat al-Tafasir [1] 123).

Melalui penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Allah swt Yang Maha Mengetahui kebaikan hamba-hamba-Nya, oleh karenanya ikuti ketentuan-Nya. Poin selanjutnya, buruk atau baiknya sesuatu tidak ditentukan oleh kesukaan atau ketidaksukaan terhadapnya, melainkan esensi sesuatu itu sendiri. Dengan demikian, seseorang semestinya tidak menilai sesuatu berdasarkan kesukaan atau tidaksukaan, terutama persoalan agama. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

pandangan imam al-Ghazali tentang musik dan nyanyian

Pandangan Imam al-Ghazali Mengenai Musik dan Nyanyian

0
Akhir-akhir ini, tengah ramai diperbincangkan mengenai halal-haramnya musik. Hal ini bermula dari penjelasan ust. Adi Hidayat mengenai asy-Syu’ara yang dimaknai sebagai para pemusik, yang...