Beranda Tafsir Tematik Tafsir Kebangsaan Surah Ali Imran Ayat 19 dan Monopoli Kebenaran Perilaku Beragama

Surah Ali Imran Ayat 19 dan Monopoli Kebenaran Perilaku Beragama

Bangsa Indonesia bukan hanya diberkahi dengan kesuburan tanah, tetapi juga diberkahi dengan kemajemukan agama dan keyakinan masyarakatnya. Namun demikian, isu keagamaan hingga saat ini menjadi isu krusial yang akan terus menjadi tantangan dalam menata kehidupan berbangsa, khususnya dalam konteks ke-Indonesia-an yang sarat akan pluralitas agama. Misalnya kasus monopoli kebenaran atau truth claim perilaku beragama belakangan ini, yang sejatinya hal itu berpotensi dapat merusak tatanan sosial serta hubungan antarumat beragama.

Pada faktanya, memang semua agama nyaris tidak bisa menghindari apa yang disebut truth claim. Mengutip dari Said Aqil Siradj dalam Islam Kalap dan Islam Karib, bahwa truth claim merupakan watak dasar seseorang dalam menganggap benar apa yang diyakini dan dipraktekkan serta kecenderungan menganggap apa yang dilakukan agama lain sebagai kesalahan.

Oleh karena klaim kebenaran seperti itu, kelompok tertentu percaya bahwa hanya pengikut mereka yang akan selamat di akhirat nanti, sedangkan kelompok lain berada di jalan yang salah dan celaka. Sikap ini telah tersebar luas dan menjadi tantangan serius bagi masyarakat yang plural dari segi religiusitas. Sebab, monopoli kebenaran itu biasanya akan berujung pada kebencian, kekerasan terhadap kelompok lain, bahkan bisa menjadi musibah tragedi kemanusiaan.

Dalam tradisi tafsir, keberadaan truth claim turut serta mewarnai produk tafsir yang dihasilkan. Ada sebuah ayat Alquran misalnya, yang sering dipahami sebagian orang sebagai alat justifikasi pembenaran agama Islam di atas agama lain, yakni Q.S. Ali Imran ayat 19, yang mengatakan bahwa agama di sisi Tuhan adalah Islam. Padahal jika ditelaah dengan mendalam belum tentu ayat itu menegaskan bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam (dalam artian agama yang terlembaga).

Baca juga: Inklusivitas Kebenaran dalam Islam

Tafsir Q.S. Ali Imran [3]: 19, Salah Kaprah Islam, dan Truth Claim

Para mufasir Alquran di Indonesia, khususnya pada periode kontemporer, umumnya melihat dan mempertimbangkan adanya pluralitas pada ayat tersebut sehingga dalam melakukan penafsiran sebisa mungkin menghindari hal-hal yang dapat mengusik tata sosial yang damai.

Bagi Hasbi ash-Shiddieqy, salah satu mufasir kontemporer Indonesia ini, misalnya, pengertian ayat di atas bukanlah pernyataan kebenaran eksklusif dalam Islam, melainkan deklarasi bahwa sejatinya Islam adalah berserah diri kepada Allah secara mutlak dengan jiwa dan hatinya, patuh kepada hukum Allah yang dia pegangi dan berlaku adil dalam kehidupan sosial serta mengedepankan perdamaian.

Selaras dengan itu, dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibnu ‘Asyur menyatakan bahwa makna Islam adalah “taslim al-zat li awamir Allah” yang artinya kepatuhan total orang terhadap perintah-perintah Allah). Demikian pula al-Razi yang menyatakan bahwa muslim adalah orang-orang yang menyerahkan diri mereka untuk ketaatan kepada Allah dengan tulus.

Al-Zamakhsyari menyatakan bahwa seorang muslim adalah siapapun yang menyucikan dirinya untuk Tuhan dan tidak mensekutukan-Nya dengan yang lain. Ungkapan itu berarti bahwa dia percaya pada Tuhan yang Esa dan Satu-satunya.

Sehubungan dengan tafsir ayat di atas, Hasbi ash-Shiddieqy mengemukakan bahwa sesungguhnya semua agama dan semua syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul, ruhnya adalah Islam. Ini berarti core-nya adalah patuh, berserah diri, damai, mengesakan Allah, dan berlaku adil dalam semua masalah meskipun sebagian tata cara (dalam beramal dan beribadah) berbeda antara satu dengan lainnya. Islam adalah agama yang diwasiatkan oleh para rasul kepada seluruh umatnya untuk mewarnai gerak-gerik kehidupan.

Dengan melihat pelbagai uraian tafsir pada ayat di atas, dapat dipahami bahwa mereka yang ingin selamat dan mendapat rida-Nya harus berislam. Maksudnya adalah menumbuhkan sikap yang telah diterangkan di atas. Biarpun ada seorang pemeluk Islam (dalam arti agama yang terlembaga) yang mengaku muslim, tetapi dia tidak menunjukkan sikap dan ciri-ciri yang telah disebutkan, maka sejatinya dia tidak berislam sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Baca juga: Makna Kebenaran dan Kebebasan Beragama dalam Alquran

Islam Agama Benar, tapi Jangan Salahkan Agama Lain!

Hal ini juga mengajarkan kita bahwa semestinya seorang muslim tidak membuat klaim kebenaran secara sepihak serta mengatakan yang lain adalah salah dan sesat. Sebab, Allah yang menganugerahkan bangsa kita yang beragam. Pastinya itu adalah kehendak-Nya dan merupakan rahmat dari-Nya. Pada firman-Nya yang lain Allah memerintahkan umat Islam untuk saling menghormati, menghargai, dan toleransi dengan umat lain. Jelas tidak ditemui ada perintah Allah untuk membenci dan menyesatkan manusia lain.

Penyebaran Islam di tanah air Indonesia melalui para wali mengajarkan keniscayaan dakwah dengan jalan kedamaian, kelembutan, dan tidak kaku atau keras. Tidak ada dalam catatan sejarah yang menyatakan bahwa mereka mengusik agama, tradisi, dan kepercayaan umat lain dalam kerja-kerja dakwah. Ini sebagaimana juga suri teladan dari Nabi Muhammad yang mempelopori Piagam Madinah yang menjamin kebebasan beragama semua umat manusia. Meskipun mereka berbeda agama, tetapi tidak masalah untuk bersatu dan saling bekerjasama.

Sebagai penutup, ada satu kalimat yang biasanya menjadi pemungkas dalam kitab yang ditulis oleh para ulama-ulama salaf, yaitu “wallahu a’lam bisshawab” yang berarti “hanya Allah yang mengetahui kebenaran”. Ini memberi kesadaran bahwa kebenaran bukanlah terletak pada diri sendiri yang terbatas pengetahuannya, melainkan kebenaran adalah di sisi-Nya. Para ulama salaf mengajarkan sikap kerendahhatian dalam bersikap, berpendapat. Jika dihubungkan dalam konteks ini hidup bersosial, ini menjadi teguran untuk tidak bertindak kontraproduktif karena justru akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan antar sesama.[]

Baca juga: Mari Berlomba dalam Kebaikan dan Sudahi Saling Klaim Kebenaran!

Rasyida Rifaati Husna
Khadimul ilmi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Analisis Makna Pegon pada Naskah Jalalain

Analisis Makna Pegon pada Naskah Tafsir Jalalain

0
Tak hanya melalui kolofon dan kertas yang digunakan, usia sebuah naskah kuno juga dapat diketahui dengan melakukan analisis terhadap isi teks yang tertulis di...