Beranda Tafsir Tematik Surat Al-Isra’ Ayat 23: Perintah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Surat Al-Isra’ [17] Ayat 23: Perintah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan naluri dan fitrah manusia. Dalam jiwa setiap orang pasti tertanam sifat cinta dan hormat – selama tidak ada sesuatu yang mereduksi sifat tersebut – kepada kedua orang tua baik itu ayah maupun ibu. Karena keduanya adalah penyebab eksistensi (keberadaan) manusia di dunia. Berkat jasa keduanya ini, maka Allah swt memberikan perintah berbakti kepada kedua orang tua.

Dalam ajaran Islam, posisi kedua orang tua sangatlah penting. Terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang berbicara mengenai kemuliaan kedua orang tua dan kewajiban berbakti kepada keduanya. Bahkan sebuah hadis menerangkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu amalan hamba yang paling dicintai oleh Allah swt

Abu ‘Amr asy-Syaibani meriwayatkan, pemilik rumah ini (seraya menunjuk ke rumah Abdullah bin Mas’ud) menyampaikan kepadaku;

Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” rasul menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya.” Kemudian apa lagi? Nabi Menjawab lagi, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Kemudian jihad fi Sabilillah.”

Baca Juga: Doa Untuk Orang Tua dalam Al-Quran dan Tafsir Surat Al-Isra’ [17]: 24

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Beliau terus menyampaikan kepadaku (amalan yang paling dicintai oleh Allah), andaikan aku meminta tambahan, maka beliau akan menambahkan kepadaku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i).

Surah Al-Isra’ [17] Ayat 23: Perintah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai perintah berbakti kepada kedua orang tua adalah surah al-Isra’ [17] ayat 23 yang berbunyi:

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (al-Isra’ [17]: 23)

Menurut Quraish Shihab, ayat di atas menyatakan Dan Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu telah menetapkan dan memerintahkan supaya kamu, yakni engkau wahai Nabi Muhammad dan seluruh manusia jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbakti kepada kedua orang tua, yakni ibu bapak kamu dengan kebaktian sempurna.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai ketuaan, yakni berumur lanjut atau dalam keadaan lemah sehingga mereka terpaksa berada di sisimu, yakni dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” atau suara dan kata yang mengandung makna kemarahan atau pelecehan atau kejemuan.

Dan janganlah engkau membentak keduanya menyangkut apapun yang mereka lakukan, apalagi melakukan yang lebih buruk dari membentak dan ucapkanlah kepada keduanya dalam setiap percakapanmu dengan keduanya – dalam kondisi dan situasi apapun – perkataan yang mulia yakni perkataan yang baik, lembut dan penuh kebaikan serta penghormatan.

Pada surah al-Isra’ [17] ayat 23 ini, Allah swt menyandingkan perintah agar tidak menyekutukan-Nya pada sesuatu apapun dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua sebaik mungkin. Menurut sebagian ulama tafsir, penyandingan tersebut menunjukkan bahwa posisi orang tua secara teologis dalam ajaran Islam begitu agung (Tafsir Al-Misbah [7]: 442-446).

Kata ihsan pada ayat ini memiliki dua makna, yaitu memberi nikmat kepada pihak lain (orang tua), dan perbuatan baik. Kata “ihsan” sendiri lebih luas dari sekadar memberi nikmat atau nafkah. Maknanya bahkan lebih tinggi dan lebih dalam daripada kandungan makna adil. Jika adil adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada Anda, maka makna kata “ihsan” adalah memperlakukan dirinya lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda.

Selanjutnya, Allah swt menggunakan kata bi sebagai penghubung ketika berbicara perintah berbakti kepada kedua orang tua, bukan kata ila atau li. Menurut pakar bahasa, ini menunjukkan bahwa Dia tidak menghendaki adanya jarak – walau sedikit – dalam hubungan antara anak dan orang tua. Anak harus selalu mendekat dan merasa dekat kepada kedua orang tua atau bahkan melekat kepadanya, karena dalam kata bi ada makna ilshaq, yakni kelekatan.

Baca Juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

Pada bagian akhir surah al-Isra’ [17] ayat 23, Allah swt memerintahkan manusia untuk menjaga kedua orang tua di masa renta mereka, baik salah satunya atau keduanya berada dalam pengasuhan – maksudnya berada dalam tanggungan – maupun hidup secara mandiri. Ayat ini menekankan jika orang tua berada dalam penjagaan anaknya, maka seharusnya ia merawat mereka dengan sebaik-baiknya sebagaimana keduanya telah merawat si anak ketika kecil.

Terakhir, ayat di atas juga menuntut seorang anak agar tidak hanya menyampaikan yang benar, tepat dan sesuai dengan adat kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat, tetapi ia juga harus menyampaikan yang terbaik dan termulia. Kalaupun seandainya orang tua melakukan suatu “kesalahan” terhadap anak, maka kesalahan itu harus dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dilupakan), karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...