Beranda Kisah Al Quran Surat Al-Maidah Ayat 3: Isyarat Kewafatan Nabi Muhammad Saw

Surat Al-Maidah Ayat 3: Isyarat Kewafatan Nabi Muhammad Saw

Rasulullah Saw wafat pada waktu Dhuha, Senin 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Pada saat itu beliau berumur kurang lebih 63 tahun lebih empat hari. Jauh sebelum peristiwa wafatnya, beberapa isyarat kewafatan Nabi telah ditangkap oleh sebagian sahabat.

Salah satu isyarat kewafatan Nabi Muhammad Saw adalah perkataan beliau kepada Muadz bin Jabal ketika ia akan pergi ke Yaman sebagai utusan Nabi. Beliau berkata, “Hai Muadz, kamu sepertinya tidak akan menjumpaiku lagi selepas tahun ini (10 H) dan sepertinya engkau akan melihat Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan kuburanku.” Lalu Muadz menangis karena sedih akan berpisah dengan nabi Saw.

Isyarat-isyarat lain yang menunjukkan dekatnya ajal Nabi Muhammad adalah beliau beriktikaf selama dua puluh hari di bulan Ramadhan tahun 10 H. Dikisahkan bahwa pada waktu itu Jibril as mengecek bacaan Al-Qur’an nabi Saw sebanyak dua kali, berbeda dari biasanya yang hanya dilakukan satu kali dalam setahun.

Surat Al-Maidah [5] Ayat 3 dan Isyarat Kewafatan Nabi Muhammad Saw

Pada tahun yang sama, yakni tahun 10 Hijriah, Rasulullah Saw melaksanakan Haji Wada’ (haji perpisahan). Saat wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, dengarkanlah baik-baik perkataanku ini, karena sesungguhnya aku mungkin tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini untuk selamanya.”

Pada saat itu beliau berpesan banyak hal kepada para sahabat. Pesan ini kemudian kita kenal sebagai khutbah al-wadha’. Kisah khotbah nabi Saw tersebut diceritakan oleh Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad. Menurutnya, ketika itu Nabi Muhammad Saw berpidato di depan khalayak umatnya yang berjumlah kurang lebih 90 ribu orang atau 114 ribu orang.

Khutbah Nabi Muhammad Saw ini adalah momen yang begitu mengharukan sekaligus membahagiakan dari sekian banyak rangkaian Haji Wada. Haru, lantaran Rasulullah Saw mengisyaratkan kewafatan dirinya, bahwa tak lama lagi ia akan berpulang ke hadirat Allah Swt, meninggalkan keluarga sahabat, dan umat yang teramat mencintainya. Bahagia, karena Allah Swt telah menegaskan kesempurnaan agama Islam.

Pada saat itu pula Allah Swt mewahyukan kepada baginda nabi Muhammad Saw QS. AL-Maidah [5] Ayat 3 – sekaligus sebuah isyarat kewafatan nabi Muhammad Saw – yang berbunyi:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ketika Nabi Muhammad Saw menyampaikan ayat ini, banyak dari sahabat nabi Saw yang merasa gembira karena Islam telah sempurna, kecuali Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya tidak bergembira, tapi malah merasakan hal yang sebaliknya, yakni sedih dan bermuram muka. Karena keduanya mengetahui bahwa ayat ini adalah isyarat kewafatan nabi Muhammad Saw.

Umar bin Khattab menangis seketika itu juga. Ketika melihat hal tersebut nabi Saw lantas bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Umar?

Umar menjawab, “Aku menangis karena sebelum ini kita senantiasa mendapatkan tambahan (ajaran) dalam agama kita, adapun setelah sempurna maka sesungguhnya tidak sesuatu yang sempurna kecuali setelahnya ada kekurangan atau penurunan.”

Nabi Muhammad Saw menjawab, “Kamu benar wahai Umar.”

Di sisi lain, Abu Bakar yang juga mengetahui bahwa QS. AL-Maidah [5] Ayat 3 adalah sebuah isyarat kewafatan nabi Muhammad Saw terus menangis bahkan hingga 3 hari pasca pelaksanaan Haji Wada’. Ia pulang ke rumahnya dengan keadaan murung dan sedih. Ia mengunci pintu rumahnya dan banyak menangis sepanjang siang dan malam.

Para sahabat nabi Muhammad Saw yang mendengar hal tersebut lantas mendatangi Abu bakar dan bertanya, “Kenapa kerjamu hanya menangis saja wahai Abu Bakar, di saat orang lain semua bersuka ria. Bukankah Allah Swt telah menyempurnakan agama kita?” ujar salah satu sahabat.

Abu Bakar menjawab, “Kamu semua tidak tahu bencana-bencana apakah kelak yang akan terjadi menimpa kita. Apakah kamu tidak mengerti bahwa tidak ada sesuatu yang mencapai titik kesempurnaan, kecuali itu juga merupakan awal kemerosotan. Tak lama lagi Hasan dan Husein akan kehilangan kakeknya dan para Isteri nabi Saw akan menjadi janda.”

Mendengar itu terpekiklah para sahabat dan mereka semua menangis dalam keadaan haru. Suara deru tangisan mereka terdengar hingga ke sekitar tetangga Abu Bakar. Mereka kemudian berinisiatif untuk mendatangi baginda nabi Muhammad Saw untuk menanyakan hakikat kejadian tersebut secara langsung kepada beliau.

Mendengar aduan mereka, nabi Saw bertanya, “Apa yang kalian tangiskan?” Ali bin Abi Thalib maju dan berkata, “Abu Bakar telah berkata kepada kami, “Sesungguhnya aku mendengar isyarat kewafatan nabi Muhammad Saw melalui QS. AL-Maidah [5] Ayat 3,” Apakah benar ayat ini merupakan bukti kepergianmu wahai nabi?”

Nabi Muhammad Saw menjawab, “Semua yang dikatakan Abu bakar berkenaan dengan isyarat kewafatanku benar adanya. Telah dekat masa kepergianku dari kalian semua wahai sahabatku, dan dengan itu telah datang pula masa perpisahan diriku dengan kalian semua.”

Penegasan Nabi Saw tersebut membuat para sahabat semakin tertunduk dan merasakan kesedihan yang teramat mendalam karena akan segera berpisah dengan kekasih hati mereka. Abu Bakar yang mendengar pembenaran Rasulullah seketika itu pingsan, Ali bin Abi Thalih menjadi bergetar dan tak bisa berkata-kata, dan sahabat nabi Saw lainnya hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

0
Hari raya Iduladha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban sehingga kadang disebut pula dengan hari raya kurban. Masyarakat muslim yang berkemampuan secara finansial dianjurkan menyisihkan...