Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Fussilat Ayat 34: Balas Dendam Terbaik Versi Al-Qur’an

Tafsir Surah Fussilat Ayat 34: Balas Dendam Terbaik Versi Al-Qur’an

Setiap orang pasti mempunyai permasalahan hidup. Ada yang dizalimi atau disakiti orang lain, padahal ia telah berbuat baik atau berkorban untuk orang yang telah menyakitinya tersebut. Reaksi para korban itu pun berbeda-beda, ada yang membalas sama seperti yang dilakukan padanya, ada pula yang enggan dan memilih diam.

Apapun pilihan masing-masing orang dalam merespons suatu kezaliman yang menimpa dirinya tergantung dari kejernihan berpikir dan sikap bijak yang dimiliki. Namun bagaimana seharusnya tuntunan yang harus diikuti ketika kita disakiti orang lain? Apakah kita harus membalas dengan kejahatan pula? Allah Swt. mengisyaratkan hal tersebut dalam surah Fussilat ayat 34 sebagai berikut.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Terjemah: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat [41]: 34).

Tafsir Surah Fussilat Ayat 34

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tidak akan sama antara kebaikan dan kejahatan. Ketika kita ditimpa kejahatan atau dizalimi oleh orang lain, maka balaslah kejahatan tersebut dengan sebaliknya atau dengan sesuatu yang lebih baik. Sebab ketika orang yang berbuat jahat tersebut disikapi dengan cara yang baik, maka bisa jadi sikapnya akan berbalik menjadi luluh dan baik.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata al-hasanah (kebaikan) dalam ayat tersebut berarti pemaafan, sedangkan al-sayyi’ah (kejahatan) dimaknai dengan enggan memberi maaf. Maka keduanya tentu jelas berbeda, satu sisi adalah kebaikan, satu sisi yang lain adalah keburukan.

Kemudian lanjutan dalam ayat tersebut menegaskan tentang anjuran untuk membalas kejahatan dengan sesuatu yang baik. Al-Qurthubi mengatakan perbuatan baik itu misalnya dengan mengucapkan salam kepada orang yang memusuhi.

Sementara Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat di atas menjelaskan tentang sifat yang baik tidak sama dengan sifat yang buruk. Maka balaslah perlakuan tidak baik yang datang dari pihak lawan dengan perlakuaan yang lebih baik. Sebab perlakuaan seperti itu akan membuat orang yang bermusuhan denganmu seolah-olah menjadi seorang teman yang tulus.

Baca juga: Surat Ali ‘Imran [3] Ayat 134: Anjuran Menahan Marah dan Bersabar

Menyikapi Kejahatan Menurut Surah Fussilat Ayat 34

Melalui penjelasan ayat di atas, jelas bahwa Al-Qur’an menyarankan setiap kejahatan yang menimpa kita disikapi dengan cara yang baik. Sebab kejahatan ibarat kobaran api yang menyala, ketika kobaran api disiram air maka ia akan padam dan menjadi dingin.

Sepertu itu pulalah keadaan seseorang yang menyakiti orang lain, ketika amarah ataupun kejahatannya disikapi dengan cara yang bijak dan menenangkan, maka emosinya akan meredam. Bahkan bisa saja orang yang dulunya jahat dapat menjadi baik karena luluh dengan pembalasan yang baik.

Teladan ini telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah ketika beliau setiap kali melintas di depan rumah seorang wanita tua, Nabi Muhammad saw selalu diludahi oleh si pemilik rumah tersebut. Saat menerima perlakuan tak pantas itu, tidak pernah beliau mengeluarkan kata-kata kasar, apalagi memaki. Yang dilakukannya hanya tersenyum, lalu kembali berjalan.

Hal itu terus menerus diterima beliau hingga wanita tua itu jatuh sakit. Namun bukan pembalasan yang dilakukan oleh Rasulullah, melainkan beliau justru menjenguk. Betapa herannya wanita itu, ia pun menangis dan masuk Islam. Sebab hal yang tidak ia duga sebelumnya justru terjadi (Ridwan Abdullah Sani, 2016). Kisah ini membuktikan sejahat-jahatnya seseorang, ketika disikapi dengan kebaikan maka hati orang tersebut akan luluh dengan sendirinya.

Penutup

Sebuah ungkapan bijak mengatakan: “Jadilah seperti pohon besar yang berbuah lebat; ketika dilempari dengan batu, ia membalasnya dengan buah.” Ungkapan ini sejatinya dapat menjadi renungan bagi setiap orang yang mendapat kezaliman dari orang lain. Balas dendam terbaik bukan dengan menyakiti kembali orang itu, namun bagaimana dapat membesarkan hati untuk berbuat lebih baik dari apa yang orang lain lakukan, walaupun pastinya hal ini tidak mudah dilakukan. Wallahu a’lam.

Baca juga: Muhammad Nabi Cinta; Nabi Muhammad di Mata Seorang Penganut Katolik

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...