Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat al-Mulk Ayat 19: Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 19: Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Terbukti, bahwa banyak ayat al-quran yang memotivasi kita untuk bertafakur. Tepatnya sebuah ayat, yakni surat al-mulk ayat 19, Allah mengajak akal kita berpetualang menafakuri keistimewaan burung. Ketika kita sedang hilang kendali, merasa putus asa dan lainnya, lihatlah ada makhluk kecil Allah yang terus berjuang terutama dalam hal pemenuhan hajat dan kebutuhan sehari-hari.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (Q.S al-Mulk ayat 19)

Pada Tafsir Jalalain karya Imam As-Suyuti  menggambarkan kepada kita sebagai hamba Allah, untuk melihat dan memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka yakni di udara (yang mengembangkan sayapnya) melebarkan sayapnya (dan mengatupkannya) menutupkannya sesudah dikembangkan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 16-18: Ragam Ancaman Allah serta Ibrah dari Umat Terdahulu

Tidak hanya itu, burung juga memiliki pertahanan pada tubuh mereka yakni menahan diri agar tidak jatuh ke bumi sewaktu mengembangkan dan mengatupkan sayapnya. Fenomena tersebut mampu terjadi hanya karena Allah Maha Penyayang dengan segala kekuasaan-Nya. (Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala sesuatu), akan tetapi banyak hambanya yang tidak menyimpulkan dengan adanya burung-burung di udara merupakan bentuk kekuasaan Allah, jika itu terjadi yakni hambanya tidak percaya atas segala ciptaan Allah, maka Allah dapat menimpakan kepada mereka azab dan lainnya.

Burung dapat Terbang Hingga Hilang dan Tanpa Menggerakkan Sayapnya

Kemudian pada Tafsir al-Misbah Karangan Quraish Shihab, menjelaskan yang tidak jauh beda dengan apa yang ditulis oleh Imam As-Suyuti. Selanjutnya lafal Al-shaff  pada ayat di atas yang mana terambil dari kata al-shaffat yang berarti burung membentangkan kedua sayapnya dengan tanpa digerakkan.

Tidak hanya itu, ternyata terbangnya burung adalah suatu mukjizat yang baru diketahui setelah adanya perkembangan kajian ilmu cabang pergerakan udara yaitu ilmu aeronautika dan teori aerodinamik. Akan tetapi yang mengundang kekaguman pada keunikan dari seekor burung adalah dapat terbang di udara sampai hilang dari pandangan, dan itu tanpa menggerakkan kedua sayapnya. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa burung-burung yang terbang tanpa menggerakkan kedua sayapnya itu sebenarnya terbang di atas aliran-aliran udara yang muncul, baik karena benturan udara dengan segala sesuatu yang menghalanginya atau karena tingginya tekanan udara panas.

Kenapa semua itu bisa terjadi pada burung?

Sesungguhnya Allah SWT memberikan spesifikasi pada burung dengan berikut, burung memiliki berat badan yang ringan, jantungnya juga memiliki kemampuan yang tinggi berbeda dengan manusia, kemudian peredaran darah pada alat pernapasan burung juga terbilang seimbang dengan tubuh. Sehingga organ tubuh yang dimiliki oleh burung dapat menjaga keseimbangan dan mengatur arah tubuhnya ketika terbang.

Selain itu, dalam catatan Tafsir al-Quranil Adzim karya Ibnu Katsir mempertegas bahwa tidakkah mereka (manusia) memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas, tanpa ada yang menahannya selain dari Allah. Hal ini merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

Baca juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 15: Berkelanalah! Hingga Sadar Kefanaan Dunia dan Kekekalan Allah

Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Penjelasan ini nanti akan terlihat sepele, namun jika kita merenungkan, maka kita akan menginsyafi peran burung memang sungguh luar biasa. Jika kita melihat bentuk fisik burung, dia terlihat kecil, jauh berlipat-lipat jika dibandingkan dengan tubuh manusia. Namun, memberikan makhluk mungilnya ini menjadi luar biasa. Burung mengajarkan kepada kita untuk memiliki obsesi melebihi bentuk fisik kita, misalnya, fisik boleh kecil, tetapi cita-cita dan idealisme harus lebih besar.

Dari sini penulis hanya menegaskan bahwa hal ini bukanlah mimpi dan khayalan. Karena yang membedakan antara kenyataan dan khayalan adalah kemauan dan kesungguhan untuk merealisasikan harapan dan cita-cita.

Kita bisa meneladani kisah burung hudhud pada zaman nabi Sulaiman, burung tersebut mampu memberikan informasi yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman, bahwa ada kerajaan yang penduduknya menyembah selain Allah SWT dan dipimpin oleh seorang wanita.

Baca juga: Sering Membaca Surat Al-Mulk? Berikut ini Lima Keutamaannya

Selain itu juga burung juga mengajarkan optimisme, tidak boleh berputus asa dalam berbuat, terutama dalam hal pemenuhan hajat dan kebutuhan sehari-hari. bagaimana tidak? ketika hendak pergi, burung masih dalam keadaan lapar, namun ketika pulang pada sore hari, dia sudah merasa kenyang. Bagaimana burung yang sedemikian kecil dari segi fisik itu, begitu besar dalam semangat mencari dan mengais karunia Allah SWT. Sesungguhnya burung hanya mempunyai insting, namun mampu mencukupi kebutuhannya, apalagi manusia yang dilengkapi dengan akal. wallahu a’lam []

Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Zikir bagi pelajar

Tafsir Tarbawi: Tiga Zikir yang Harus Diamalkan oleh Pelajar

0
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati,” demikianlah sabda...